Rektor: Kemajemukan Harus Disyukuri

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Muhammad Nurdin

Gedung FIDIKOM, BERITA UIN Online - Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat menegaskan, Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dan unik dengan segala etnisnya. Karena itu, kemajemukan bangsa harus disikapi dengan penuh rasa syukur. Keragaman yang dimiliki harus diterima sebagai anugerah Tuhan.

Perbedaan agama dan paham keagamaan harus ditempatkan sebagai sebuah keyakinan yang harus dihormati dengan lapang dada. “Bila dunia ingin belajar kemajemukan maka belajarnya di Indonesia, tapi kita harus siap mengatasi segala konflik, “ kata Rektor pada acara dialog kebangsaan bertema “Merajut Nasionaslisme Baru untuk Indonesiaku” yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) UIN Jakarta bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Kementrian Dalam Negeri RI di Ruang Teater lantai 2 FIDIKOM, Selasa (24/5).

Turut hadir Dekan FIDIKOM Dr Arief Subhan MA, Direktur Ketahanan Seni, Budaya, Agama, dan Kemasyarakatan Ditjen Kesbangpol Kemendagri RI, Budi Prasetyo SH, dan Staf Diplomat Kementrian Luar Negeri untuk Madagaskar Taufik Rigo.

Rektor menambahkan, untuk membangun nasionalisme atau jati diri bangsa yang mulai pudar harus dimulai dari diri sendiri. Setelah itu baru mengikat bangsa menjadi satu dan menjadikan bangsa yang nyaman dan aman dari segala konflik.

“Cintailah bangsa Indonesia, rawatlah budayanya, sebab bangsa kita bangsa yang penuh cinta dan kemajemukan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Komaruddin menegaskan, bila bangsa tidak mampu menghadapi arus dunia maka globalisasi akan menjadi tantangan bagi bangsa. Karena itu, dengan adanya globalisasi, bangsa beserta masyarakat jangan diam dan berpangku tangan, tapi harus bangkit dari arus dunia global dan mampu beradaptasi dalam kancah dunia.

“UIN Jakarta merupakan kampus pembaharuan keilmuan dan keislaman. Sebagai bagian dari masyarakat kampus yang penuh dengan keragaman,   kita harus siap menghadapi tantangan global dengan IPTEK dan IMTAQ yang mendalam, kalau tidak dengan itu harus dengan apa lagi,” kata rektor.

Senada dengan Rektor, Prasetyo mengatakan, ada dua macam tantangan dan permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia, yaitu tantangan internal dan eksternal. Secara internal, Indonesia menghadapi kecenderungan melemahnya nasionalisme, sehingga rentan terhadap isu yang berkembang di dunia global.

Sedangkan secara eksternal, globalisasi seringkali menyebabkan benturan antara ideologi bangsa. Hal ini disebabkan mudahnya lalu lintas informasi dan komunikasi dari seluruh dunia. “Baik atau tidaknya suatu bangsa tergantung dari kita yang mau menjaga bangsa ini,” kata Prasetyo. []