Isi Kemerdekaan, UIN Jakarta Terapkan Self Regulating

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA Bertugas sebagai inspektur upaca HUT RI Ke-71, bertempat dihalaman Student Center, Rabu (17/08).

Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA sedang menyampaikan amanat pada upacara HUT RI Ke-71, di Student Center, Rabu (17/08/2016).

Lapangan Parkir Student Center, BERITA UIN Online– Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-71, UIN Jakarta menggelar upacara bendera pada Rabu (17/8/16) di lapangan parkir Student Center.

Dalam upacara yang diikuti seluruh sivitas akademik UIN Jakarta tersebut, Rektor UIN Jakarta Prof Dede Rosyada MA yang didapuk sebagai inspektur upacara dalam amanatnya mengingatkan bahwa peringatan HUT RI ini menjadi momen penting mengenang kembali jasa para pahlawan yang mempunyai andil besar dalam memerdekakan negeri ini.

“Negeri ini bisa merdeka bukan karena penjajah mau berbaik hati menyerahkan secara cuma-cuma. Kemerdekaan yang kita raih karena jasa para pahlawan kita yang berjuang dengan segala hal,” ujar Dede.

“Bukan hanya berkorban secara fisik yang sekarang dikubur di Taman Makam Pahlawan, mereka juga mengorbankan perasaan karena terintimidasi imperialisme ketika itu,” ujar Dede.

Belanda yang menjajah Indonesia selama ratusan tahun, sambung Dede, hanya untuk mengeksploitasi kekayaan Indonesia besar-besaran dengan model ortodok imperialisme. Mereka butuh kekayaan Indonesia untuk mensuplai kebutuhan hidup rakyatnya.

“Untuk melanggengkan kepentingannya tersebut, maka rakyat Indonesia dibuat bodoh agar tidak melakukan perlawanan,” terang Dede.

Sedangkan Inggris yang menjajah Malaysia, Dede menjelaskan, bertujuan untuk memasarkan hasil produksinya yang overload di negara-negara jajahannyanya, termasuk Malaysia.

“Agar produknya dapat diserap dengan baik, rakyat Malaysia diberikan pendidikan yang baik, sehingga mereka dapat membantu Inggris dalam pemasarannya,” ungkap Dede.

Menurut pria Kelahiran Ciamis Jawa Barat itu, dijajah itu artinya kekayaan alam negara tidak dapat dikelola secara mandiri, tapi dieksploitasi negara lain. Negara yang merdeka itu kalau rakyatnya memiliki self regulating, mengatur sendiri kekayaan yang dimiliki untuk membawa masyarakat yang berkeadilan, makmur, dan berpendapatan di atas kebutuhan dasar.

“Berkeadilan artinya sempitnya jarak perbedaan antara yang di atas dan di bawah,” tegasnya.

71 tahun adalah usia yang cukup matang. Begitu juga UIN Jakarta, paparnya, yang sudah memiliki self regulating dengan sistem remunerasi, sehingga kesejahteraannya bisa dirasakan semua level dapat melahirkan kinerja yang lebih baik.

“Kita diamanahi untuk mengurus lembaga pendidikan bukan dalam rangka merebut kemerdekaan, tapi menyiapkan dan mengurus generasi bangsa untuk turut memajukan negara ini di masa yang akan datang,” imbuh Dede.

Dede mengingatkan seluruh pegawai di UIN Jakarta dalam bekerja, baik pada level universitas maupun fakultas, pada hakikatnya memiliki tujuan yang satu.

“Para pejabat, dosen, karyawan, sekuriti, cleaning servis, office boy, walaupun dalam field yang berbeda, bersama-sama melakukan longlasting work dalam mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi sarjana yang jauh lebih baik dari ini, sehingga dapat diserap pasar dengan baik,” tandasnya.

Dede menyebutkan hasil evaluasi UIN Jakarta yang sangat signifikan dengan masuk ke jajaran 20 universitas terbaik di Indonesia. Produk akademiknya masuk 6 terbesar skala nasional dan menjadi universitas keagamaan ranking satu skala nasional versi Google Scholar Citation Edisi Juli 2016.

“Mudah-mudahan kita bisa terus isi kemedekaan ini dengan berdedikasi kepada institusi untuk generasi yang lebih baik,” tutupnya. (mf)