Rektor Buka Program Pembibitan Alumni PTAI se-Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung Pustiknas, BERITA UIN Online Program Pembibitan Alumni PTAI se-Indonesia pada Senin, (15/10/12) secara resmi dibuka Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat di Gedung Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Pustiknas) Kampus II UIN Jakarta.

Rektor mengatakan, kegiatan seperti ini sangat penting sekali untuk pembekalan kemampuan berbahasa Inggris dan Arab. Dengan menguasai kedua bahasa tersebut, maka peluang belajar di luar negeri akan terbuka lebar.

“Ini adalah kesempatan emas yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin dengan fokus selama 3 bulan, tiada hari tanpa bahasa Inggris dan Arab, karena bahasa bisa membuat kita bisa menjelajah kemana-mana,” imbuhnya dengan bersemangat.

Program ini merupakan pendidikan persiapan beasiswa luar negeri S2 dan S3 untuk calon dosen Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI). Secara teknis program ini difokuskan pada upaya memperkuat kemampuan berbahasa asing-Inggris dan Arab bagi alumni PTAI agar dapat bersaing mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama antara Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Jakarta ini dilaksanakan selama 3 bulan, dimulai 15 Oktober 2012 dan berakhir pada 4 Januari 2013.

“Peserta yang berhasil lolos seleksi Tes Potensi Akademik (TPA) berjumlah 40 orang, namun yang bisa hadir pada hari ini hanya 36 orang, 4 orang mengundurkan diri karena ada satu dan lain hal,” ujar Direktur PPIM UIN Jakarta Dr Ali Munhanif MA.

Untuk kepentingan itu, panitia pelaksana menyediakan tempat penginapan untuk seluruh peserta selama 3 bulan penuh, baik bagi peserta yang datang dari luar daerah maupun yang tinggal di wilayah sekitar kampus UIN Jakarta.

“Kegiatan yang harus mereka ikuti sangat padat, mulai dari Senin sampai Jum’at, dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Bahkan ada juga kegiatan yang mengharuskan mereka masuk pada Sabtu dan Minggu, dan kami tidak menyediakan transport bagi mereka yang tidak dapat tinggal di sini,” sambung dosen matakuliah politik Islam di UIN Jakarta itu. (M Furqon)