Rekrutmen Anak Sekolah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Jaringan kelompok terorisme dan NII kembali mengguncang publik Indonesia sepanjang pekan lalu. Memang sejak terjadinya bom bunuh diri yang dilakukan Muhammad Syarif di Masjid Az-zikra, Mapolresta Cirebon, pada waktu shalat Jumat 14 April 2011, polri sangat sibuk dalam usaha mengungkapkan jaringan terorisme yang masih aktif di Tanah Air. Akhirnya, berbarengan dengan usaha meledakkan sejumlah bom di Serpong, Tangerang Selatan, polri menangkap sekitar 20 orang yang dicurigai terlibat dalam jaringan terorisme di berbagai tempat di Indonesia, termasuk teror ‘bom buku’.

Pada saat yang sama di Malang, sekitar 12 mahasiswa dilaporkan menghilang selama berpekan-pekan. Sebagian besar telah kembali. Dan, mereka ternyata telah menjadi sasaran rekrutmen sel-sel NII yang meski terfragmentasi masih aktif bergerak di bawah tanah. Mimpi dan ilusi untuk mewujudkan ‘Negara Islam Indonesia’ masih saja hidup di antara sisa-sisa pendukung SM Kartosuwiryo meski waktu telah berlalu lebih dari setengah abad.

Ideologi, apakah terorisme ataupun NII, mampu bertahan dalam perjalanan waktu. Perubahan sosial, politik, dan keagamaan tidak membuat mereka lenyap. Bahkan, jika situasi tidak kondusif, bisa dipastikan mereka dapat menemukan momentum kembali. Meski para pelakunya dan mereka yang terkait harus berhadapan dengan hukum, tetap saja ada orang dan kelompok yang bertahan dan terus berusaha memperluas jaringannya. Terlihat sekali, mereka yakin dengan terus melakukan rekrutmen, cita-cita mereka bakal terwujud satu waktu kelak.

Perluasan jaringan terorisme dan NII yang terus berlangsung dari waktu ke waktu, memunculkan berbagai dampak dan eksesnya yang dapat mengancam tidak hanya keutuhan sosial-keagamaan, tetapi juga negara-bangsa Indonesia. Apalagi, memang eksistensi negara-bangsa Indonesia itu sendiri yang mereka persoalkan. Karena itu, bertahannya kelompok dan sel kelompok-kelompok seperti ini tidak bisa diabaikan. Dan, sebaliknya aparat keamanan, pemerintah, masyarakat, dan keluarga seyogianya melakukan berbagai upaya serius, yang terkordinasi dan berkelanjutan untuk menangkalnya.

Dalam upaya pencegahan meluasnya kelompok teroris, NII, dan radikal lainnya perlu perhatian khusus pada lembaga-lembaga pendidikan, khususnya pada tingkat sekolah menengah dan perguruan tinggi. Seperti terlihat dari banyak kasus terorisme, NII, dan kelompok radikal lainnya, anak-anak sekolah dan mahasiswa menjadi target khusus dalam upaya rekrutmen mereka. Seperti diakui Wamendiknas Fasli Djalal, beberapa penelitian membuktikan terdapatnya upaya rekrutmen ke sekolah-sekolah, dengan melakukan ‘cuci otak’ terhadap pelajar dan mahasiswa, yang selanjutnya diisi dengan ideologi radikal tertentu.

Anak-anak sekolah, bahkan sejak tingkat akhir SMP sampai SMA dan mahasiswa dapat menjadi lahan subur bagi rekrutmen dan kaderisasi kelompok dan sel semacam itu. Ada beberapa alasan mengapa demikian.

Pertama, anak-anak pada usia siswa dan mahasiswa masih merupakan masa penuh gejolak dalam pencarian identitas. Kegalauan ini dapat kian meningkat jika mereka menghadapi masalah dalam keluarga dan lingkungannya sehingga menjadi sangat rentan. Dalam keadaan seperti ini, mereka dengan relatif mudah terekrut ke dalam sel-sel terorisme dan NII melalui pendekatan personal, intensif, dan bernuansa empati. Sekali masuk ke dalam genggaman, sangat sulit bagi anak-anak muda ini untuk keluar menyelamatkan diri.

Kedua, lingkungan sekolah, khususnya para guru dan dosen cenderung tidak peduli pada penetrasi dan infiltrasi kelompok luar-yang radikal dan teroristik. Mereka cenderung sibuk dan terserap dengan kegiatan rutin mengajar sehari-hari. Jika ada guru atau dosen yang mengoordinasi dan mengawasi kegiatan ekstra-kurikuler para siswa dan mahasiswa, mereka tidak cukup mawas dan waspada untuk mengetahui dan mencegah terjadinya proses rekrutmen tersebut.

Pada tingkat perguruan tinggi, lebih longgar lagi, karena para dosen hampir sama sekali tidak terlibat dalam kehidupan mahasiswa di luar waktu kuliah. Para dosen hampir sepenuhnya hanya terlibat dalam urusan-urusan perkuliahan dan hal-hal akademis lainnya. Jika mahasiswa aktif dalam organisasi mahasiswa resmi-baik intra maupun ekstra, mereka relatif terlindung dari rekrutmen. Tetapi, mereka yang tidak terlibat dalam organisasi mahasiswa resmi lebih rentan terekrut karena cenderung ‘naif’ dan polos, dalam menghadapi proses rekrutmen oleh sel dan kelompok teroristik serta radikal.

Gejala seperti ini jelas tidak bisa dibiarkan terus berlanjut. Jika tidak, sekolah dan kampus dapat terus menjadi lahan subur bagi rekrutmen sel-sel radikal dan teroristik. Karena itu, para pimpinan sekolah dan kampus perguruan tinggi sepatutnya lebih memberikan perhatian serius, dan melakukan langkah pencegahan bagi masuknya paham-paham radikal dan teroristik di kalangan para pelajar dan mahasiswa.

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tulisan tersebut dimuat pada Harian Republika, Kamis (27/4).