Ray Rangkuti: Pemilu 2009 Minus Harapan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Elly Afriani

 

Aula SC, UINJKT Online - Pemilu 2009 dibayangi dua hal, minus harapan dan minus impian. Hal ini berimplikasi pada minusnya partisipasi masyarakat. Terlihat pada survey terakhir yang dilakukan empat lembaga survey di Jakarta, menandakan hampir 80,02% masyarakat belum yakin terdaftar dalam daftar pemilih tetap. Selain itu, 31,02 % belum tahu tatacara pemberian suara.

 

“Kalau kenyataannya seperti itu, proses demokrasi kita makin aneh. Di lingkungan elit makin bergairah ditandai dengan banyaknya parpol dan caleg yang memadati daerah pemilihan. Sayangnya, gairah politik di masyarakat makin hari makin merosot,” ungkap Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti dalam Seminar Nasional “Harapan dan Tantangan Pemimpin Muda, di Aula Student Center, Kamis (19/3).

 

Menurutnya, saat ini pemilu telah kehilangan daya magnetnya. Ia tidak lagi menjadi pesta rakyat, berubah menjadi pesta elit. Pemilu saat ini, bukan lagi sebagai solusi, malah menjadi bagian permasalahan.

 

“Kini banyak masyarakat pesimis pemilu 2009 dapat membawa perubahan. Pemilu 2004 yang dikatakan demokratis, hingga kini tidak melahirkan perubahan yang signifikan bagi perbaikan kualitas taraf hidup masyarakat,” tegas alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Jakarta ini.

 

Ray mengatakan, perubahan melalui pemilu bisa diciptakan bersama oleh masyarakat Indonesia. Namun, semua itu ada proses dan butuh waktu yang lama. Terlebih dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat. Untuk itu, ada dua hal fundamental yang harus diusung.

 

Pertama, menciptakan orientasi dan basis pembangunan atas dasar ekonomi kemandirian. Salah satu tindakannya, meninjau kontrak karya dengan pihak asing yang mengeksplorasi kekayaan alam. Kontrak karya yang merugikan Indonesia harus segera dikoreksi. Selain itu, seluruh utang negara harus dinegosiakan karena sifatnya tidak jelas dan hanya digunakan rezim Soeharto untuk membiayai ongkos politik.

 

Kedua, ketegasan dalam pemberantasan korupsi. Tanpa pencegahan yang keras dan sistemik dan bersifat struktural, korupsi akan membawa Indonesia pada kehancuran.

 

“Kaum muda Indonesia selalu menjadi garda terdepan perubahan bangsa ini. Untuk itu, mereka harus selalu mengawasi komitmen elit politik pra pemilu hingga pasca pemilu. Salah satu yang sering dilupakan adalah pengawasan terhadap anggota legislatif pasca pemilu,” ucapnya. ()

 

 

Ray Rangkuti: Pemilu 2009 Minus Harapan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Elly Afriani

 

Aula SC, UINJKT Online - Pemilu 2009 dibayangi dua hal, minus harapan dan minus impian. Hal ini berimplikasi pada minusnya partisipasi masyarakat. Terlihat pada survey terakhir yang dilakukan empat lembaga survey di Jakarta, menandakan hampir 80,02% masyarakat belum yakin terdaftar dalam daftar pemilih tetap. Selain itu, 31,02 % belum tahu tatacara pemberian suara.

 

“Kalau kenyataannya seperti itu, proses demokrasi kita makin aneh. Di lingkungan elit makin bergairah ditandai dengan banyaknya parpol dan caleg yang memadati daerah pemilihan. Sayangnya, gairah politik di masyarakat makin hari makin merosot,” ungkap Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti dalam Seminar Nasional “Harapan dan Tantangan Pemimpin Muda, di Aula Student Center, Kamis (19/3).

 

Menurutnya, saat ini pemilu telah kehilangan daya magnetnya. Ia tidak lagi menjadi pesta rakyat, berubah menjadi pesta elit. Pemilu saat ini, bukan lagi sebagai solusi, malah menjadi bagian permasalahan.

 

“Kini banyak masyarakat pesimis pemilu 2009 dapat membawa perubahan. Pemilu 2004 yang dikatakan demokratis, hingga kini tidak melahirkan perubahan yang signifikan bagi perbaikan kualitas taraf hidup masyarakat,” tegas alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Jakarta ini.

 

Ray mengatakan, perubahan melalui pemilu bisa diciptakan bersama oleh masyarakat Indonesia. Namun, semua itu ada proses dan butuh waktu yang lama. Terlebih dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat. Untuk itu, ada dua hal fundamental yang harus diusung.

 

Pertama, menciptakan orientasi dan basis pembangunan atas dasar ekonomi kemandirian. Salah satu tindakannya, meninjau kontrak karya dengan pihak asing yang mengeksplorasi kekayaan alam. Kontrak karya yang merugikan Indonesia harus segera dikoreksi. Selain itu, seluruh utang negara harus dinegosiakan karena sifatnya tidak jelas dan hanya digunakan rezim Soeharto untuk membiayai ongkos politik.

 

Kedua, ketegasan dalam pemberantasan korupsi. Tanpa pencegahan yang keras dan sistemik dan bersifat struktural, korupsi akan membawa Indonesia pada kehancuran.

 

“Kaum muda Indonesia selalu menjadi garda terdepan perubahan bangsa ini. Untuk itu, mereka harus selalu mengawasi komitmen elit politik pra pemilu hingga pasca pemilu. Salah satu yang sering dilupakan adalah pengawasan terhadap anggota legislatif pasca pemilu,” ucapnya. ()