Syahida Inn, BERITA UIN Online—148 orang pengajar dan peneliti bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia dari berbagai perguruan tinggi mempresentasikan 98 paper hasil riset mereka dalam The International Conference on Language Teaching and Assessment di Syahida Inn, Selasa –Rabu (22-23/8/2017). Berbagai paper yang mereka paparkan merefleksikan sejumlah temuan penting tentang persoalan pengajaran ketiga bahasa di Indonesia.

Konferensi internasional bertajuk Language Teaching and Assessment for the 21st Century: Current Issues and Trends sendiri diselenggarakan Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) UIN Jakarta. Selain dari UIN Jakarta, para pemakalah berasal dari berbagai perguruan tinggi nasional dan global. “Alhamdulillah tidak hanya dari UIN Jakarta, mayoritas partisipan berasal dari berbagai perguruan tinggi nasional juga luar,” kata Siti Nurul Azkiya Ph.D, Ketua PPB UIN Jakarta.

Kepada BERITA UIN Online, Azkiya menuturkan, puluhan paper  yang dipresentasikan berasal dari ratusan abstrak yang diajukan para pengajar dan peneliti pengajaran bahasa. Namun melalui review ketat, hanya 98 paper yang dianggap memenuhi kriteria panitia untuk dipresentasikan dalam konferensi.

Menurut dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan ini, tema besar konferensi sendiri menyoroti dua aspek penting, aspek teaching atau pengajaran bahasa dan assessment atau pengukuran kemampuan bahasa di kalangan penutur asing. “Forum sendiri diharapkan bisa menjadi ajang pertukaran informasi dan pengalaman para pengajar dan peneliti tentang model pengajaran dan pengukuran terbaik,” harapnya.

Azkiya menambahkan, puluhan paper ini nantinya akan diseleksi kembali sehingga bisa diterbitkan. Selain prosiding terindeks Scopus & Thomson Reuters, naskah terpilih juga akan diterbitkan pada prosiding dan jurnal di lingkungan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan dan PPB UIN Jakarta.

Cari Formulasi Belajar Bahasa yang Asyik

Sementara, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA yang membuka konferensi meminta para pengajar dan peneliti menyusun formulasi belajar bahasa yang bisa dinikmati siswa-siswi sekolah dan madrasah. Menurutnya, penguasaan bahasa Inggris dan Arab di kalangan siswa dan madrasah masih cukup terbatas.

Hal demikian, jelasnya, karena pola pengajaran bahasa masih cenderung text book dan tidak cukup memberi keleluasaan siswa berkreasi. Akibatnya, bahasa Inggris dan Arab menjadi materi pelajaran yang berjarak dengan aktifitas keseharian. “Pengajaran bahasa Inggris misalnya, lebih dikenalkan pada aspek gramatika,” tandasnya.

Rektor menambahkan formulasi belajar yang bisa dinikmati siswa sendiri diharap bisa mempercepat penguasaan bahasa asing di kalangan generasi muda Indonesia. Bahasa Inggris dan Arab, jelasnya, amat dibutuhkan mereka sebagai generasi di era globalisasi. (Farah NH/yuni nurkamaliah/hermanuddin/zm)

 

Share This