Rasionalitas Naratif Kunjungan Obama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung putih telah mengumumkan secara resmi Obama akan melakukan kunjungan ke Indonesia pada 23 Maret. Berbagai pemberitaan seputar orang nomor satu negeri Paman Sam ini sudah menghangat.

Mulai dari agenda kunjungan yang sifatnya formal, hingga pernak-pernik seputar nostalgia sang presiden yang pernah memiliki memori di negeri ini.Penyikapan atas kunjungan Obama pun beragam. Ada kelompok masyarakat yang jauh-jauh hari telah menyiapkan penyambutan Obama dengan perasaan suka cita,meskipun Obama belum tentu bisa ditemui mereka. Namun, banyak pula organisasi yang sudah turun ke jalan, meneriakkan yel-yel anti-Obama. Itulah penanda bahwa realitas simbolik Obama kini tak lagi tunggal sebagai sosok penuh harapan, melainkan telah menjadi narasi yang multiinterpretasi.

Narasi Obama

Siapa pun tahu bahwa kehadiran Obama sempat menyihir bahkan menjadi mimpi penuh harap tak hanya bagi warga Amerika,melainkan warga dunia.Sebagai kilas balik, kita tentu ingat bagaimana mantra “Yes we can!”yang selalu diteriakkan Obama selama kampanye menuju Amerika-1 telah menyihir optimisme yang melimpah.

Obama saat itu tak hanya sosok melainkan telah menjelma menjadi narasi yang menggugah partisipasi politik di Amerika.Warga kulit putih yang berjumlah 74% dari total pemilih, 43% di antaranya mendukung Obama.Warga kulit hitam yang berjumlah 13% dari pemilih, 95% mendukung Obama. Warga Hispanik yang berjumlah 9% dari pemilih, 67% mendukung Obama.Begitu pun warga Amerika keturunan Asia yang mencapai 3% dari total pemilih,62% dari mereka mendukungnya.

Gejala euforia kehadiran Obama juga sempat melanda warga dunia.Sambutan hangat diberikan negara-negara muslim.“Change we need!” menjadi satu di antara narasi yang dikonstruksi oleh Obama, seolah menunjukkan Amerika yang siap berubah dari arogansi dan kesemena-menaan dalam menerapkan politik unilateralisme ke Amerika yang humanis dan bersahabat.

Relasi antagonistis yang meningkat di dua periode pemerintahan Goerge Bush sejenak mencair saat Obama dilantik 20 Januari 2009. Tema pelantikannya yang sarat nilai filosofis “A New Birth of Freedom”juga menjadi narasi yang diperbincangkan warga dunia. Janji Obama yang akan menarik pasukan Amerika dari Irak, rencana menutup Penjara Guantanamo, dan menjanjikan hubungan yang lebih baik dengan negaranegara Islam telah menjadi narasi penuh impresi.

Dalam pidato di hadapan parlemen Turki beberapa waktu lalu Obama berorasi,Amerika tidak akan pernah memerangi Islam. Narasi sejenis juga telah dikonstruksi Obama saat berpidato di Universitas Kairo, Mesir, pada 4 Juni 2009. “Saya datang ke Kairo untuk mengupayakan satu permulaan baru bagi perdamaian Timur Tengah dan menjembatani antara Amerika dengan Umat Islam di seluruh dunia”ungkapnya saat itu.

Menurut Fisher dalam bukunya Human Communication as Narration: Toward a Philosophy of Reason, Value and Action (1987), bahwa narasi itu lebih dari sekadar cerita yang memiliki plot dengan awal, pertengahan, dan akhir.Melainkan mencakup deskripsi verbal dan nonverbal apa pun dengan urutan kejadian yang diberi makna. Narasi merupakan tindakan simbolik,dan Obama sukses mengurutkannya secara apik di awal periode kekuasaannya. Interpretasi positif atas narasi Obama misalnya dapat kita lihat dari penyematan Nobel Perdamaian atas dirinya.

Rasionalitas Naratif

Narasi Obama kini perlahan mulai memudar, terutama dalam perspektif orang atau sekelompok orang yang menginginkan langkah- langkah cepat dalam penanganan persoalan yang melibatkan Amerika di dalamnya. Misalnya, banyak pihak yang menyangsikan kiprah Obama dalam mewujudkan janji-janji retorisnya dalam kebijakan nyata. Sah-sah saja sikap skeptis mulai ditunjukkan banyak pihak, termasuk oleh organisasi-organisasi massa dan keagamaan di Indonesia.

Namun demikian,untuk menilai sebuah narasi dapat kita percayai atau tidak, kita mesti mengembangkan rasionalitas naratif sebagai satu di antara metode pengujiannya. Ada dua indikator untuk memosisikan narasi Obama dilihat dari rasionalitas naratif. Pertama, koherensi (coherence) merujuk pada konsistensi internal dari sebuah naratif.Apakah ucapan dan tindakan Obama sebelum dan sesudah menjadi Presiden AS masih runtut dan tidak kontradiktif.

Bagi sebagian orang yang tak sabar, tentu jawabannya Obama telah banyak mengingkari ucapan-ucapannya. Misalnya, Obama disorot tentang belum ditutupnya Penjara Guantanamo, penambahan pasukan di Afghanistan, belum selesainya penarikan pasukan dari Irak, konflik Palestina dan Israel yang masih berlarut-larut dll. Namun, ada baiknya kita tak mengambil kesimpulan yang tergesa- gesa terkait hal ini.

Obama bagaimanapun sedang meretas jalan menuju hubungan yang lebih baik dengan warga dunia termasuk negara-negara muslim. Formula kebijakan luar negerinya yang dibingkai dengan istilah “smart power” berupaya menjadikan diplomasi sebagai garda terdepan. Hal ini tentu harus kita apresiasi karena hal ini cukup berbeda dengan pendahulunya Bush,yang banyak mempraktikkan warmongering atau teror berbentuk propaganda yang menghembus-hembuskan perang.

Sebagai contoh, pada 22 Januari 2009 Obama mengeluarkan dekrit yang isinya memerintahkan penutupan Penjara Guantanamo dalam setahun kepemimpinannya, dia juga telah berupaya mengutus Joe Biden untuk kembali mengurai benang kusut konflik Israel-Palestina. Meski upaya tersebut belum membuahkan hasil maksimal namun niat baik Pemerintahan Obama tentu juga harus diapresiasi.

Presiden ke-44 Amerika ini juga masih memiliki koneksi ke negara-negara muslim yang jauh lebih baik di banding para pendahulunya. Kedua, indikatornya adalah kebenaran (fidelity) atau reliabilitas dari sebuah cerita. Sebuah narasi dianggap benar ketika elemen-elemen dari narasi tersebut merepresentasikan pernyataan-pernyataan akurat mengenai realitas sosial.

Mengukur Obama dengan kompleksitas persoalan relasi Amerika dengan berbagai negara lain di dunia tentu tak bisa dengan hanya mengukur reliabilitas setahun pemerintahannya. Oleh karenanya, menarik kesimpulan bahwa Obama telah berbohong dan tidak ada bedanya sama sekali dengan Bush tentu merupakan penyimpulan yang prematur.

Makna Kunjungan

Kunjungan Obama ke Indonesia dilihat dari perspektif komunikasi politik memiliki nilai strategis bagi kedua negara. Bagi pemerintahan Obama, Indonesia menjadi representasi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Ini tentu saja merupakan praktik public relations internasional bagi Obama guna mengukuhkan rencana besar hubungan baik dengan negara-negara berpenduduk muslim.

Komunitas muslim moderat yang selama ini identik dengan Indonesia tentu juga merupakan kantong dukungan politik yang penting untuk dijaga Obama. Sementara bagi Indonesia,kunjungan Obama memiliki dua makna positif. Pertama, dapat menandai arti penting Indonesia dalam peta politik internasional kontemporer. Tak disangkal bahwa kedatangan Presiden Amerika ke sebuah negara tentu berdasarkan perhitungan posisi strategis negara tersebut.

Indonesia paling tidak telah diposisikan sama pentingnya seperti Mesir dan Turki,mewakili geopolitik dan psikopolitik tertentu yang dibutuhkan sebagai partner potensial bagi Amerika saat ini dan ke depan. Kedua, kunjungan Obama juga dapat menjadi momentum bagi reformulasi berbagai bidang kerja sama seperti ekonomi, pendidikan, pertahanan,dan budaya agar lebih menyejahterakan Indonesia. Namun demikian, catatan kritisnya jangan sampai kunjungan Obama justru menjadi pintu masuk bagi pola kerja sama yang menempatkan Indonesia sebagai subordinat dari kedigdayaan Amerika.(*)

Tulisan ini telah dipublikasikan di Harian Seputar Indonesia, Selasa 16 Maret 2010

Penulis adalah Dosen Komunikasi Politik di UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute.

Rasionalitas Naratif Kunjungan Obama

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung putih telah mengumumkan secara resmi Obama akan melakukan kunjungan ke Indonesia pada 23 Maret. Berbagai pemberitaan seputar orang nomor satu negeri Paman Sam ini sudah menghangat.

Mulai dari agenda kunjungan yang sifatnya formal, hingga pernak-pernik seputar nostalgia sang presiden yang pernah memiliki memori di negeri ini.Penyikapan atas kunjungan Obama pun beragam. Ada kelompok masyarakat yang jauh-jauh hari telah menyiapkan penyambutan Obama dengan perasaan suka cita,meskipun Obama belum tentu bisa ditemui mereka. Namun, banyak pula organisasi yang sudah turun ke jalan, meneriakkan yel-yel anti-Obama. Itulah penanda bahwa realitas simbolik Obama kini tak lagi tunggal sebagai sosok penuh harapan, melainkan telah menjadi narasi yang multiinterpretasi.

Narasi Obama

Siapa pun tahu bahwa kehadiran Obama sempat menyihir bahkan menjadi mimpi penuh harap tak hanya bagi warga Amerika,melainkan warga dunia.Sebagai kilas balik, kita tentu ingat bagaimana mantra “Yes we can!”yang selalu diteriakkan Obama selama kampanye menuju Amerika-1 telah menyihir optimisme yang melimpah.

Obama saat itu tak hanya sosok melainkan telah menjelma menjadi narasi yang menggugah partisipasi politik di Amerika.Warga kulit putih yang berjumlah 74% dari total pemilih, 43% di antaranya mendukung Obama.Warga kulit hitam yang berjumlah 13% dari pemilih, 95% mendukung Obama. Warga Hispanik yang berjumlah 9% dari pemilih, 67% mendukung Obama.Begitu pun warga Amerika keturunan Asia yang mencapai 3% dari total pemilih,62% dari mereka mendukungnya.

Gejala euforia kehadiran Obama juga sempat melanda warga dunia.Sambutan hangat diberikan negara-negara muslim.“Change we need!” menjadi satu di antara narasi yang dikonstruksi oleh Obama, seolah menunjukkan Amerika yang siap berubah dari arogansi dan kesemena-menaan dalam menerapkan politik unilateralisme ke Amerika yang humanis dan bersahabat.

Relasi antagonistis yang meningkat di dua periode pemerintahan Goerge Bush sejenak mencair saat Obama dilantik 20 Januari 2009. Tema pelantikannya yang sarat nilai filosofis “A New Birth of Freedom”juga menjadi narasi yang diperbincangkan warga dunia. Janji Obama yang akan menarik pasukan Amerika dari Irak, rencana menutup Penjara Guantanamo, dan menjanjikan hubungan yang lebih baik dengan negaranegara Islam telah menjadi narasi penuh impresi.

Dalam pidato di hadapan parlemen Turki beberapa waktu lalu Obama berorasi,Amerika tidak akan pernah memerangi Islam. Narasi sejenis juga telah dikonstruksi Obama saat berpidato di Universitas Kairo, Mesir, pada 4 Juni 2009. “Saya datang ke Kairo untuk mengupayakan satu permulaan baru bagi perdamaian Timur Tengah dan menjembatani antara Amerika dengan Umat Islam di seluruh dunia”ungkapnya saat itu.

Menurut Fisher dalam bukunya Human Communication as Narration: Toward a Philosophy of Reason, Value and Action (1987), bahwa narasi itu lebih dari sekadar cerita yang memiliki plot dengan awal, pertengahan, dan akhir.Melainkan mencakup deskripsi verbal dan nonverbal apa pun dengan urutan kejadian yang diberi makna. Narasi merupakan tindakan simbolik,dan Obama sukses mengurutkannya secara apik di awal periode kekuasaannya. Interpretasi positif atas narasi Obama misalnya dapat kita lihat dari penyematan Nobel Perdamaian atas dirinya.

Rasionalitas Naratif

Narasi Obama kini perlahan mulai memudar, terutama dalam perspektif orang atau sekelompok orang yang menginginkan langkah- langkah cepat dalam penanganan persoalan yang melibatkan Amerika di dalamnya. Misalnya, banyak pihak yang menyangsikan kiprah Obama dalam mewujudkan janji-janji retorisnya dalam kebijakan nyata. Sah-sah saja sikap skeptis mulai ditunjukkan banyak pihak, termasuk oleh organisasi-organisasi massa dan keagamaan di Indonesia.

Namun demikian,untuk menilai sebuah narasi dapat kita percayai atau tidak, kita mesti mengembangkan rasionalitas naratif sebagai satu di antara metode pengujiannya. Ada dua indikator untuk memosisikan narasi Obama dilihat dari rasionalitas naratif. Pertama, koherensi (coherence) merujuk pada konsistensi internal dari sebuah naratif.Apakah ucapan dan tindakan Obama sebelum dan sesudah menjadi Presiden AS masih runtut dan tidak kontradiktif.

Bagi sebagian orang yang tak sabar, tentu jawabannya Obama telah banyak mengingkari ucapan-ucapannya. Misalnya, Obama disorot tentang belum ditutupnya Penjara Guantanamo, penambahan pasukan di Afghanistan, belum selesainya penarikan pasukan dari Irak, konflik Palestina dan Israel yang masih berlarut-larut dll. Namun, ada baiknya kita tak mengambil kesimpulan yang tergesa- gesa terkait hal ini.

Obama bagaimanapun sedang meretas jalan menuju hubungan yang lebih baik dengan warga dunia termasuk negara-negara muslim. Formula kebijakan luar negerinya yang dibingkai dengan istilah “smart power” berupaya menjadikan diplomasi sebagai garda terdepan. Hal ini tentu harus kita apresiasi karena hal ini cukup berbeda dengan pendahulunya Bush,yang banyak mempraktikkan warmongering atau teror berbentuk propaganda yang menghembus-hembuskan perang.

Sebagai contoh, pada 22 Januari 2009 Obama mengeluarkan dekrit yang isinya memerintahkan penutupan Penjara Guantanamo dalam setahun kepemimpinannya, dia juga telah berupaya mengutus Joe Biden untuk kembali mengurai benang kusut konflik Israel-Palestina. Meski upaya tersebut belum membuahkan hasil maksimal namun niat baik Pemerintahan Obama tentu juga harus diapresiasi.

Presiden ke-44 Amerika ini juga masih memiliki koneksi ke negara-negara muslim yang jauh lebih baik di banding para pendahulunya. Kedua, indikatornya adalah kebenaran (fidelity) atau reliabilitas dari sebuah cerita. Sebuah narasi dianggap benar ketika elemen-elemen dari narasi tersebut merepresentasikan pernyataan-pernyataan akurat mengenai realitas sosial.

Mengukur Obama dengan kompleksitas persoalan relasi Amerika dengan berbagai negara lain di dunia tentu tak bisa dengan hanya mengukur reliabilitas setahun pemerintahannya. Oleh karenanya, menarik kesimpulan bahwa Obama telah berbohong dan tidak ada bedanya sama sekali dengan Bush tentu merupakan penyimpulan yang prematur.

Makna Kunjungan

Kunjungan Obama ke Indonesia dilihat dari perspektif komunikasi politik memiliki nilai strategis bagi kedua negara. Bagi pemerintahan Obama, Indonesia menjadi representasi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Ini tentu saja merupakan praktik public relations internasional bagi Obama guna mengukuhkan rencana besar hubungan baik dengan negara-negara berpenduduk muslim.

Komunitas muslim moderat yang selama ini identik dengan Indonesia tentu juga merupakan kantong dukungan politik yang penting untuk dijaga Obama. Sementara bagi Indonesia,kunjungan Obama memiliki dua makna positif. Pertama, dapat menandai arti penting Indonesia dalam peta politik internasional kontemporer. Tak disangkal bahwa kedatangan Presiden Amerika ke sebuah negara tentu berdasarkan perhitungan posisi strategis negara tersebut.

Indonesia paling tidak telah diposisikan sama pentingnya seperti Mesir dan Turki,mewakili geopolitik dan psikopolitik tertentu yang dibutuhkan sebagai partner potensial bagi Amerika saat ini dan ke depan. Kedua, kunjungan Obama juga dapat menjadi momentum bagi reformulasi berbagai bidang kerja sama seperti ekonomi, pendidikan, pertahanan,dan budaya agar lebih menyejahterakan Indonesia. Namun demikian, catatan kritisnya jangan sampai kunjungan Obama justru menjadi pintu masuk bagi pola kerja sama yang menempatkan Indonesia sebagai subordinat dari kedigdayaan Amerika.(*)

Tulisan ini telah dipublikasikan di Harian Seputar Indonesia, Selasa 16 Maret 2010

Penulis adalah Dosen Komunikasi Politik di UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute.