Rapat Kerja LP2M: Perkuat Relasi Kerja Sama dan Riset Kolaborasi Internasional

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

IMG-20150612-WA005Wisma Kopertais, BERITA UIN Online– Dalam rangka memperkuat jangkauan jaringan kerja sama dan riset kolaboratif, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Jakarta menyelenggarakan Rapat Kerja bersama pusat-pusat di Wisma Kopertais UIN Jakarta, Jumat (12/6/2015).

Ketua LP2M, Dr M Arskal Salim GP MA dalam sambutannya mengatakan, ada empat agenda penting yang menjadi perhatian besar LP2M untuk mewujudkan tujuan tersebut. Pertama, International Collaborative Research (ICR).

“Ada 10 paket ICR yang disiapkan dan harus ada kerja sama dengan universitas luar negeri sebagai mitra penelitian untuk kurun waktu 1 tahun yang akan dipublikasikan setelah tahun 2015,” ujar Arskal.

Rektor UIN Jakarta sendiri, ungkap Arskal, mendorong anggaran LP2M untuk bidang penelitian dan kerja sama internasional sekira Rp 30 M pada tahun 2016.

Kedua, lanjutnya, program Visiting Professor. “Empat profesor UIN Jakarta akan dikirim ke luar negeri dan dua orang profesor luar negeri didatangkan ke UIN Jakarta untuk melakukan penelitian dengan subyek bebas yang ada kaitannya dengan UIN Jakarta,” urai doktor bidang hukum Islam jebolan University Melbourne Australi ini.

Agenda ketiga, Research Fellow di luar negeri selama 3-4 bulan untuk menghasilkan penelitian berkualitas melalui dukungan UIN Jakarta, dan agenda terakhir program Student Exchange (pertukaran pelajar) yang akan direalisasikan pada 2015 ini dengan University of Western Sydney (UWS) Australi.

“Selama ini UIN Jakarta baru dikenal pada tingkat ASEAN, dengan program-program ini kita ingin UIN Jakarta punya daya jangkau yang luas dan lebih dikenal di dunia internasional,” harap Arskal.

Arskal menjelaskan, seluruh program tersebut akan dikawal pusat-pusat yang menjadi bagian dari LP2M, yaitu Pusat Penelitian dan Penerbitan (Puslitpen), Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM), Pusat Layanan Kerjasama Internasional (PLKI), Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), dan Pusat Layanan Humas dan Bantuan Hukum (PLHBH).

Dalam kesempatan tersebut, dihadirkan sebagai narasumber peneliti dari Leiden University Belanda Dr Stijn Van Huis yang berbagi pengalaman penelitian dan kerja sama selama melakukan penelitian, terutama di Jerman.

Menurut Stijn, secara ekonomi negara Jerman paling sehat dan nomor satu di dunia dan nomor dua adalah Perancis.

“Dana penelitian pemerintah Jerman paling banyak dibandingkan negara lain, bahkan peneliti yang membawa anak istri mendapatkan tunjangan tersendiri dan Berlin menjadi pusat studi Islam paling kuat di negara-negara Eropa,” ujar peneliti yang fasih berbahasa Indonesia dan beristrikan orang Jawa ini.

Eva Arnis salah satu peserta dalam sesi tanya jawab mengusulkan agar UIN Jakarta melakukan penandatanganan kerja sama dengan Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Riset Teknologi dan Dikti, sehingga bisa mendapatkan peluang besar untuk melakukan kerja sama dan penelitian dengan universitas luar negeri, termasuk Jerman.

“Saya pernah mendaftar di Dirjen Dikti Kemenristek untuk melakukan penelitian di Jerman atas nama UIN Jakarta, namun tidak mendapatkan respon, mungkin karena lain kementerian. Saat saya ajukan atas nama universitas negeri lain, cepat sekali responsnya dan saya diterima,” ujar dosen diperbantukan (DPk) UIN Jakarta di salah satu universitas negeri di Jakarta ini.

Kegiatan yang diadakan sebagai refleksi program-program kinerja LP2M selama tiga bulan semenjak diketuai Arskal Salim ini diakhiri dengan soft launch website baru LP2M.

“Dengan adanya website ini, semoga jangkauan kerja sama kita lebih luas dan dapat memperkuat Informasi dan Komunikasi (IK) di UIN Jakarta. Tanpa IK, interkoneksi terhambat dan kita sulit berkembang,” pungkas Arskal. (mf)