Ramadhan Transformatif

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Azyumardi Azra*

RAMADHAN kembali menjelang kita. Betapa bahagianya orang-orang beriman yang kembali bersua dengan Ramadhan. Berapa banyak sanak saudara, karib kerabat, dan handai tolan kita yang tidak berkesempatan lagi menjalani Ramadhan karena sudah dipanggil Yang Mahakuasa ke hadirat-Nya. Karena itu, berbahagialah mereka yang masih dapat kesempatan bertemu kembali dengan Ramadhan guna menjalankan ibadah puasa dan sekaligus meningkatkan amal ibadah lainnya untuk mencapai derajat takwa, yang merupakan tujuan ibadah puasa.

Kedatangan Ramadhan, boleh jadi sekadar perjalanan sirkular waktu yang memang sebagai salah satu sunatullah yang selalu datang, pergi, dan datang kembali selama alam raya ini masih beredar. Dan karena itu, dalam perspektif ini, datangnya Ramadhan merupakan sebuah kerutinan perjalanan masa belaka; yang pada gilirannya juga menciptakan siklus kerutinan dalam kehidupan mereka yang berkewajiban menjalankan ibadah puasa. Pada tahap ini, rutinitas mengandung banyak jebakan dan dampak, yang boleh jadi membuat mereka yang berpuasa kehilangan greget dalam mengambil manfaat sebesar-besarnya dari ibadah puasa.

Rutinitas dalam hal apa pun, termasuk ibadah, khususnya ibadah puasa, bisa memunculkan dampak-dampak yang tidak diharapkan. Ibadah sangat boleh jadi bakal kehilangan kesyahduan, makna, dan fungsinya bagi si pelaku jika ia mengerjakannya sebagai sebuah rutinitas belaka. Bahkan, ibadah yang dikerjakan bisa menjadi sekadar memenuhi kenyamanan psikologis karena telah melaksanakannya sebagai kewajiban fiqh. Tidak lebih daripada itu, yang di dalam hadits Rasulullah SAW tentang puasa; bahwa mereka yang berpuasa boleh jadi tidak memperoleh apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.

Jika ini yang terjadi, ibadah yang dikerjakan bisa kehilangan fungsinya bagi pelakunya; dalam konteks puasa, tidak membawanya kepada taqwa, yang berarti ‘terpeliharanya diri dari berbagai perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama’. Ibadah puasa yang setiap tahun dikerjakan seolah-olah tidak menghasilkan dampak positif apa-apa; sepertinya tidak meninggalkan bekas apa pun.

Ini bisa dilihat dari kenyataan; begitu banyak orang yang puasa, tetapi tetap saja menjalankan perilaku dan tindakan koruptif dalam berbagai bentuknya, baik pada tingkatan pribadi, masyarakat, bahkan pada tingkatan berbangsa dan bernegara. Dalam praktiknya, puasa bahkan cenderung diperlakukan sebagian Muslim hanya sebagai kesempatan untuk melakukan sin loundering (penyucian dosa), akibat perilaku dan tindakan koruptif mereka masing-masing selama 11 bulan di luar Ramadhan. Dalam kerangka ini, mereka beranggapan dosa-dosa bakal tercuci dengan melakukan puasa; jika seseorang melakukan dosa sebagai hasil perilaku koruptif, toh puasa Ramadhan datang lagi dan datang lagi memberikan kesempatan untuk menghapus dosa.

Sebab itulah, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah haditsnya yang lain menyatakan puasa mestinya dilakukan tidak hanya atas dasar iman, tetapi ihtisaba, perhitungan, evaluasi, dan penilaian yang jujur dan cermat. Artinya, melakukannya dengan penuh kesadaran dan perhitungan, bukan hanya untuk memenuhi ketentuan-ketentuan fiqhiyyah tentang puasa, mengenai makna, implikasi, dan fungsi ibadah puasa itu dalam kehidupan sehari-hari, baik pada waktu berpuasa Ramadhan maupun pada pascaRamadhan. Bahwa berpuasa dengan ihtisaba bakal menghapuskan dosa-dosa sebelumnya hanyalah sebagai konsekuensi logis saja, bukan sebagai tujuan akhir dari puasa itu sendiri.

Puasa yang dilakukan secara ihtisaba itu bakal menghasilkan apa yang dapat kita sebut sebagai ‘puasa transformatif’, yaitu puasa yang mentransformasi atau mengubah para pelakunya ke dalam tingkatan pengalaman dan kehidupan spiritual yang lebih tinggi, lebih tinggi, dan terus lebih tinggi. Karena itulah, mereka yang ingin mentransformasikan diri ke tingkatan rohaniah lebih tinggi selalu menjadikan ibadah puasa wajib Ramadhan dan berbagai macam puasa sunnah sebagai salah satu medium terpenting yang harus mereka kerjakan dengan sebaik-baiknya. Mereka yang memiliki keinginan mencapai derajat kerohanian setinggi-tingginya yakin, pengalaman dalam berpuasa menuntun mereka ke arah kesempurnaan rohaniah demikian luas, yang nyaris tanpa tepi.

Puasa transformatif. Inilah puasa yang bakal meninggalkan bekas dan dampaknya dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Mereka yang telah mengalami transformasi diri melalui puasa dan ibadah-ibadah lain menjadi sadar bahwa ibadah-ibadah diamalkan bukan sekadar untuk kepentingan di dalam dirinya sendiri, melainkan juga sekaligus guna mencapai tujuan-tujuan lebih tinggi dan lebih mulia.

Jadi, jika kita ingin dampak puasa ke arah kehidupan lebih baik, puasa transformatif memberikan peluang sangat besar. Namun, tantangan ke arah ini tidak mudah; kita perlu memiliki perspektif transformatif dalam menjalankan ibadah puasa, sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan transformasi pula dalam berbagai aspek kehidupan.** []

*Azyumardi Azra adalah Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

**Artikel ini dumuat di rubrik resonansi Harian Republika, Kamis, 20 Agustus 2009

Ramadhan Transformatif

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Oleh: Azyumardi Azra*

RAMADHAN kembali menjelang kita. Betapa bahagianya orang-orang beriman yang kembali bersua dengan Ramadhan. Berapa banyak sanak saudara, karib kerabat, dan handai tolan kita yang tidak berkesempatan lagi menjalani Ramadhan karena sudah dipanggil Yang Mahakuasa ke hadirat-Nya. Karena itu, berbahagialah mereka yang masih dapat kesempatan bertemu kembali dengan Ramadhan guna menjalankan ibadah puasa dan sekaligus meningkatkan amal ibadah lainnya untuk mencapai derajat takwa, yang merupakan tujuan ibadah puasa.

Kedatangan Ramadhan, boleh jadi sekadar perjalanan sirkular waktu yang memang sebagai salah satu sunatullah yang selalu datang, pergi, dan datang kembali selama alam raya ini masih beredar. Dan karena itu, dalam perspektif ini, datangnya Ramadhan merupakan sebuah kerutinan perjalanan masa belaka; yang pada gilirannya juga menciptakan siklus kerutinan dalam kehidupan mereka yang berkewajiban menjalankan ibadah puasa. Pada tahap ini, rutinitas mengandung banyak jebakan dan dampak, yang boleh jadi membuat mereka yang berpuasa kehilangan greget dalam mengambil manfaat sebesar-besarnya dari ibadah puasa.

Rutinitas dalam hal apa pun, termasuk ibadah, khususnya ibadah puasa, bisa memunculkan dampak-dampak yang tidak diharapkan. Ibadah sangat boleh jadi bakal kehilangan kesyahduan, makna, dan fungsinya bagi si pelaku jika ia mengerjakannya sebagai sebuah rutinitas belaka. Bahkan, ibadah yang dikerjakan bisa menjadi sekadar memenuhi kenyamanan psikologis karena telah melaksanakannya sebagai kewajiban fiqh. Tidak lebih daripada itu, yang di dalam hadits Rasulullah SAW tentang puasa; bahwa mereka yang berpuasa boleh jadi tidak memperoleh apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.

Jika ini yang terjadi, ibadah yang dikerjakan bisa kehilangan fungsinya bagi pelakunya; dalam konteks puasa, tidak membawanya kepada taqwa, yang berarti ‘terpeliharanya diri dari berbagai perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama’. Ibadah puasa yang setiap tahun dikerjakan seolah-olah tidak menghasilkan dampak positif apa-apa; sepertinya tidak meninggalkan bekas apa pun.

Ini bisa dilihat dari kenyataan; begitu banyak orang yang puasa, tetapi tetap saja menjalankan perilaku dan tindakan koruptif dalam berbagai bentuknya, baik pada tingkatan pribadi, masyarakat, bahkan pada tingkatan berbangsa dan bernegara. Dalam praktiknya, puasa bahkan cenderung diperlakukan sebagian Muslim hanya sebagai kesempatan untuk melakukan sin loundering (penyucian dosa), akibat perilaku dan tindakan koruptif mereka masing-masing selama 11 bulan di luar Ramadhan. Dalam kerangka ini, mereka beranggapan dosa-dosa bakal tercuci dengan melakukan puasa; jika seseorang melakukan dosa sebagai hasil perilaku koruptif, toh puasa Ramadhan datang lagi dan datang lagi memberikan kesempatan untuk menghapus dosa.

Sebab itulah, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah haditsnya yang lain menyatakan puasa mestinya dilakukan tidak hanya atas dasar iman, tetapi ihtisaba, perhitungan, evaluasi, dan penilaian yang jujur dan cermat. Artinya, melakukannya dengan penuh kesadaran dan perhitungan, bukan hanya untuk memenuhi ketentuan-ketentuan fiqhiyyah tentang puasa, mengenai makna, implikasi, dan fungsi ibadah puasa itu dalam kehidupan sehari-hari, baik pada waktu berpuasa Ramadhan maupun pada pascaRamadhan. Bahwa berpuasa dengan ihtisaba bakal menghapuskan dosa-dosa sebelumnya hanyalah sebagai konsekuensi logis saja, bukan sebagai tujuan akhir dari puasa itu sendiri.

Puasa yang dilakukan secara ihtisaba itu bakal menghasilkan apa yang dapat kita sebut sebagai ‘puasa transformatif’, yaitu puasa yang mentransformasi atau mengubah para pelakunya ke dalam tingkatan pengalaman dan kehidupan spiritual yang lebih tinggi, lebih tinggi, dan terus lebih tinggi. Karena itulah, mereka yang ingin mentransformasikan diri ke tingkatan rohaniah lebih tinggi selalu menjadikan ibadah puasa wajib Ramadhan dan berbagai macam puasa sunnah sebagai salah satu medium terpenting yang harus mereka kerjakan dengan sebaik-baiknya. Mereka yang memiliki keinginan mencapai derajat kerohanian setinggi-tingginya yakin, pengalaman dalam berpuasa menuntun mereka ke arah kesempurnaan rohaniah demikian luas, yang nyaris tanpa tepi.

Puasa transformatif. Inilah puasa yang bakal meninggalkan bekas dan dampaknya dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Mereka yang telah mengalami transformasi diri melalui puasa dan ibadah-ibadah lain menjadi sadar bahwa ibadah-ibadah diamalkan bukan sekadar untuk kepentingan di dalam dirinya sendiri, melainkan juga sekaligus guna mencapai tujuan-tujuan lebih tinggi dan lebih mulia.

Jadi, jika kita ingin dampak puasa ke arah kehidupan lebih baik, puasa transformatif memberikan peluang sangat besar. Namun, tantangan ke arah ini tidak mudah; kita perlu memiliki perspektif transformatif dalam menjalankan ibadah puasa, sehingga pada akhirnya dapat menghasilkan transformasi pula dalam berbagai aspek kehidupan.** []

*Azyumardi Azra adalah Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

**Artikel ini dumuat di rubrik resonansi Harian Republika, Kamis, 20 Agustus 2009