Ramadhan di Negara-negara Mahasiswa Asing: Ramadhan di Malaysia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Khadijah Malaysia

Khadijah (kerudung pink) bersama keluarganya saat merayakan lebaran tahun lalu

Gedung Rektorat, Berita UIN Online– Kali ini Berita UIN Online akan menyajikan secara berseri Ramadhan di beberapa negara yang menjadi domisili mahasiswa asing UIN Jakarta. Banyak cerita menarik dan unik yang bisa disimak dari penuturan mereka.

Demi dapat mewujudkan cita-cita dan meraih masa depan yang lebih baik, mereka rela untuk hidup terpisah jauh dari keluarga. Kerinduan tersebut begitu kentara saat masuk Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Dua moment yang akan menjadi sempurna dengan keberadaan keluarga.

Saat ini tercatat sekira 200 mahasiswa asing yang berasal dari 19 negara, yaitu Afrika Selatan, Belanda, China, Filipina, Gambia, Iran, Kenya, Korea Selatan, Jepang, Libya, Malaysia, Mesir, Palestina, Somalia, Tajikistan, Thailand, Timor Leste, Turki, Yaman, Maroko dan Afghanistan.

Sebelumnya, Berita UIN Online sudah mengetengahkan penuturan Iqra Yunus Palejwala mahasiswi Fakultas Dirasat Islamiyah tentang Ramadhan di negaranya, Kanada. Berikutnya dari Khadijah binti Abd Munir mahasiswi asal Malaysia Jurusan Hukum Tata Negara (Siyasah) Fakultas Syariah dan Hukum. Melalui aplikasi Whatsapp pada Kamis (23/6/16), mahasiswi yang tinggal di Jl Lot 4108 Sungai Plong 47000 Sungai Buloh, Selangor itu menuturkan:

Meskipun Malaysia dan Indonesia bertetangga, ada sedikit perbedaan antara Ramadhan di Indonesia dan di Malaysia. Salah satu di antaranya adalah masalah waktu dan cuaca. Waktu Malaysia, sama dengan Waktu Indonesia tengah (WITA). Itu artinya lebih dulu satu jam dari pada Waktu Indonesia Barat (WIB).

Di Malaysia adzan Shubuh adalah sekitar pukul 06.00 dengan suasana yang masih gelap gulita. Bahkan pukul 09.00 masih terasa sangat pagi. Apabila kita samakan dengan cuaca Indonesia, mungkin sekira pukul 07.00. Apabila waktu Shubuh berbeda, sudah pasti waktu berbuka puasapun tidak sama, juga waktu tarawihnya.

Buka puasa di Malaysia adalah sekira pukul 19.30 waktu Malaysia, dan tarawih adalah sekira pukul 20.30. Di Malaysia pukul 19.00 masih sangat cerah, berbeda dengan Indonesia yang pada pukul 18.00 (WIB) saja sudah gelap.

Di Malaysia pada bulan Puasa Ramadhan jam kerja dikurangi satu jam dari hari-hari biasa. Yang biasanya masuk pukul 09.00 dan pulang pukul 18.00 (8jam/hari), berubah jadwal kepulangan menjadi pukul 17.00. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan bagi ibu-ibu untuk mempersiapkan santapan berbuka untuk keluarga.

Di Malaysia jangan risau untuk terlambat sampai ke rumah, karena di Malaysia jarang sekali macet, mungkin hanya di sebagian kecil lokasi saja yang macet, dan itupun tidak parah. Jadi dengan kepulangan pukul 17.00 bagi ibu-ibu punya banyak waktu untuk mempersiapkan semuanya di rumah. Bahkan untuk transportasi umum bisa dikatakan cukup lancar.

Selain itu masih ada lagi kemudahan lain, ternyata bazar Ramadhan bukan hanya di Indonesia di sinipun sama, banyak sekali bazar Ramadhan yang memudahkan mereka-mereka yang tidak sempat memasak. Suasana bazar di Malaysia sama persis seperti di Upin Ipin. Bazaar Ramadhan ini menyediakan harga yang ramah di kantong. Makanan Malaysia banyak terinspirasi dari Arab dan India, sehingga makanan-makanan yang dijual di bazar Malaysia banyak berupa daging, ayam, dan makanan bersantan.

Malaysia adalah Negara Islam, akan tetapi jumlah masjid terhitung masih sedikit. Meskipun masjid masih kurang, banyak sekali surau di Malaysia. Masjid di Malaysia sangat ketat karena dipantau langsung oleh Jabatan Agama Islam, atau MUI nya kalau di Indonesia.

WhatsApp-Image-20160624

Berbagai macam jenis hidangan berbuka di Malaysia

Sudah menjadi kebiasaan apabila puasa Ramadhan di setiap masjid akan diadakan buka puasa bersama sepanjang bulan puasa. Buka puasa bersama ini terbuka untuk umum, baik untuk warga lokal maupun warga Muslim dari negara lain dengan menu khas Ramadhan ‘’Bubur Lambuk’’ yang seolah menjadi makanan wajib yang disediakan panitia masjid.

Salah satu perbedaan acara buka bersama di Malaysia dengan di Indonesia adalah setiap buka puasa pasti disertai dengan makan berat dan tidak ada jeda azan Isya seperti halnya di Indonesia. Biasanya waktu sholat Isya digeser sekitar 30 menit lebih lambat. Setelah berbuka, pengurus masjid akan menyediakan makan malam yang lumayan berat. Usai shalat tarawih dan witir, dilanjutkan lagi dengan minum teh hangat dan semangkuk sup.

Imam shalat tarawih biasanya didatangkan dari berbagai negara supaya warga Malaysia merasakan pengalaman yang berbeda-beda dari tiap imam. Shalat tarawih dilakukan 8 rakaat dan witir 3 rakaat dengan formasi 2-2, bukan 4-4, tapi biasanya setelah 8 rakaat banyak yang pulang.

Saat memasuki malam ke-17, umat Islam di Malaysia memperingati dan menyambut peristiwa Nuzul al-Quran, yang sepatutnya dibuat sambutan pada setiap 24 Ramadhan dan hari ini merupakan hari libur di Malaysia.

Saat Ramadhan, tidak dibenarkan bagi warung makan halal untuk membuka warungnya di siang hari. Untuk warung makan Cina, India (non-halal) diperbolehkan dan tidak ada yang protes karena untuk makan non-Muslim. Tapi biasanya atas kesadaran mereka sendiri, ada yang tutup.

Untuk lebaran, agak sedikit unik. Sepuluh hari sebelum lebaran dinamakan “Malam 7 Likur”. Malam 7 likur merupakan tradisi warisan lama orang Melayu memasang lampu pelita semasa bulan Ramadhan terutama pada 10 malam terakhir sebelum sambutan Hari Raya Iful Fitri bagi yang memeriahkan perayaan itu. Pada hari itu anak-anak melakukan “perang” mercon sesama tetangga. Di paginya, kita bermaaf-maafan bersama keluarga, dan membagi Angpau (Duit Raya) kepada saudara yang belum menikah dan anak-anak kecil.

Malaysia merayakan lebaran satu bulan penuh (sepanjang Syawal). Acara “Open House” biasanya diadakan oleh setiap keluarga. Jadi, selama satu bulan itu kita makan gratis karena tidak pernah habis dengan undangan-undangan. (mf)