Ramadan Amanah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Oleh: Prof Dr Azyumardi Azra

Ramadan bulan memperkuat kembali dan memberdayakan sikap amanah. Istilah ini dengan kandungannya telah begitu populer dalam masyarakat kita. Amanah mencakup pengertian jujur dan setia dalam memegang, menjalankan, dan menjaga suatu tugas atau kewajiban, serta pemeliharaan harta-benda dan jiwa. Nilai dan sikap amanah sangat ditekankan dalam ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain; hanya orang beriman yang amanah yang dapat menjalankan ibadah puasa menuju insan muttaqin.

Kebalikan dari sikap amanah adalah khianat (khiyanah), yakni tidak jujur, menyelewengkan kepercayaan, tugas serta kewajiban melaksanakan dan memelihara sesuatu yang diamanatkan kepadanya. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW menyatakan salah satu ciri orang munafik adalah ketika ia diberi amanah, maka dia khianat.

Ahli tafsir (mufassir) terkemuka Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-’Azhim memperjelas arti amanah dengan menyatakan bahwa “amanah” adalah keterjagaan (al-yaqzah) kesadaran seseorang untuk menjalankan kewajiban, tanggung jawab dan tugas yang dipercayakan kepadanya. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki dan melaksanakan keterjagaan itu menjadi orang khianat, yang termasuk ke dalam segmen manusia paling hina.

Kenapa demikian? Tidak lain karena amanah (trust) merupakan modal sosial yang sangat krusial dan instrumental bagi masyarakat, umat, dan bangsa agar bisa solid dan kuat. Tanpa amanah, masyarakat dan bangsa menjadi rapuh dan tidak punya martabat. Yang terjadi adalah mewabahnya ketidakpercayaan (mistrust) dan saling mengkhianati. Jika keadaan ini terus berlanjut, umat dan bangsa yang bersangkutan kehilangan martabat dan tinggal menunggu kehancuran.

Manusia mendapat kehormatan dan martabat yang tinggi ketika menerima tugas memikul amanah dari Allah SWT. Ini terlihat dalam firman Allah SWT pada Surat Al-Ahzab 33:72: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, semuanya enggan memikul amanat itu dan (karena) mereka khawatir akan mengkhianatinya; dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

Manusia menjadi mulia dan bermartabat tinggi di atas makhluk-makhluk lain, tidak hanya karena dipercayai Allah untuk memikul amanah; tapi tidak kurang pentingnya adalah punya potensi kuat untuk mampu menjalankan amanah tersebut sebaik-baiknya. Di antara amanah itu adalah memakmurkan alam raya–termasuk di dalamnya masyarakat manusia dan bangsa.

Manusia yang tidak melaksanakan amanah–berarti khianat–menimbulkan kerusakan dalam masyarakat, negara-bangsa dan alam lingkungannya. Jika ini terjadi, manusia yang tidak amanah telah berlaku zalim; tidak hanya karena mengkhianati amanah itu sendiri, tapi juga karena kerusakan akibat sikap dan perilaku khianatnya.

Jika kita mau jujur, banyak kerusakan di dalam masyarakat, bangsa, dan negara kita sekarang ini bersumber dari sikap dan perilaku yang tidak menjalankan amanah; dan sebaliknya terus khianat. Masyarakat kita dipenuhi kemunafikan. Jika ibadah puasa seyogianya menimbulkan dampak positif bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, tidak bisa lain, sikap dan perilaku amanah mesti ditegakkan. Selama kekhianatan dan kemunafikan merajalela, selama itu pula kerusakan yang merendahkan martabat bangsa tetap bertahan.[]

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tulisan ini pernah dimuat di TEMPO Interaktif, Selasa, 9 Agustus 2011.