Raibnya Sang Naskah

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Naskah kuno Jawa-Tiongkok koleksi Museum Reksopustoko Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah, raib

Naskah kuno Jawa-Tiongkok koleksi Museum Reksopustoko Mangkunegaran Solo, raib


Oleh Oman Fathurahman

Berita kecil di harian Kompas, 18 Januari 2016, tentang raibnya naskah kuno Jawa-Tiongkok koleksi Museum Reksopustoko Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah, nyaris luput dari perhatian publik.

Maklumlah, hiruk-pikuk di jagat politik enggan beranjak dari media, dan kasus kopi sianida kelihatannya lebih menarik disimak. Untunglah, teman-teman aktivis Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) masih memiliki kepedulian dan mengingatkan saya untuk menulis, agar persoalan pentingnya artefak budaya ini juga turut mengisi ruang-ruang fikiran publik, dan menjadi memori kolektif bangsa kita.

Dwi Woro Retno Mastuti, dosen Prodi Sastra Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), yang dalam beberapa tahun terakhir mengkaji naskah itu, heran dan masygul dengan raibnya naskah “pusaka” itu. Baginya, naskah Jawa-Tiongkok yang keseluruhannya berjumlah 118 buah dan tersebar di berbagai koleksi dalam dan luar negeri itu sangat penting dalam konteks kebinekaan bangsa ini. Sebab, naskah dan isinya menggambarkan pergumulan komunitas etnisitas Tiongkok di abad ke-19 untuk menjadi Jawa di satu sisi dengan tetap memunculkan identitas etnisitas asalnya di sisi lain.

Nama-nama legenda Sam Kok dan Sik Jin Kwi, yang dikisahkan dalam naskah tersebut, bahkan ditulis oleh pengarangnya menggunakan aksara swara dan aksara rekan sehingga jejak etnisitas Tiongkok-nya masih sangat kuat (Mastuti 2011, Menjadi Jawa: Naskah Cina-Jawa).

Berita di Kompas itu memang kecil, tetapi masalahnya sesungguhnya tidak sesederhana itu! Kasus hilangnya artefak budaya bersejarah dari museum di Solo, khususnya, bukan kali ini saja terjadi. Pada 2008, publik juga dibuat heboh ketika puluhan naskah kuno dan arca koleksi Museum Radya Pustaka berpindah tangan secara ilegal, sampai-sampai Joko Widodo, Wali Kota Solo saat itu, turun tangan membentuk tim investigasi. Ini menunjukkan ada yang tak beres dengan manajemen preservasi naskah kuno di sejumlah museum dan perpustakaan kita. Belum lagi kita punya masalah jual beli naskah dan akuisisi naskah koleksi pribadi di masyarakat oleh tangan-tangan asing meski UU Cagar Budaya No. 11 tahun 2010 telah tegas melarangnya!

Arti naskah kuno

Indonesia bak negeri tak tahu diuntung. Negara sering absen dalam hal raibnya sang naskah! Padahal, tak semua bangsa mewarisi puluhan ribu naskah kuno tulisan tangan! Selain mencerminkan jati diri bangsa berperadaban tinggi, keragaman aksara dan bahasa dalam naskah kuno sesungguhnya juga meneguhkan kebinekaan masyarakat Nusantara sejak ratusan tahun lalu.

Tidak kurang dari 20 kelompok bahasa yang kita warisi! Aceh, Arab, Bali, Batak, Belanda, Bugis-Makassar-Mandar, Jawa dan Jawa Kuna, Madura, Melayu, Minangkabau, Sanskerta, Sasak, Sunda & Sunda Kuna, Ternate, Wolio, Bahasa-bahasa Indonesia Timur, Bahasa-bahasa Kalimantan, serta Bahasa-bahasa Sumatra Selatan (Chambert-loir dan Fathurahman 1999, Khazanah Naskah). Negara manakah kiranya yang bisa menandingi keragamanan bahasa dan aksara kita?

Naskah kuno, yang banyak ditelantarkan di rumahnya sendiri, adalah bukti kebesaran peradaban nenek moyang kita yang telah berkemampuan merekam, memproduksi, menyimpan, serta mengolah informasi melalui aksara setara dengan peradaban besar dunia semisal Mesir, Tiongkok, India, Arab, Romawi, dan Persia. Dengan bekal peradaban aksara dan bahasa itulah, bangsa-bangsa di atas berhasil memengaruhi dunia, termasuk Nusantara.

Bangsa-bangsa Eropa sudah lama mengagumi keragaman aksara dan bahasa Nusantara, sampai-sampai dalam rangkaian Pekan Raya Buku Frankfurt 2015 di Jerman pun, Universitätsbibliothek di Berlin secara khusus menggelar pameran Schrift und Sprache, yang digagas dan disiapkan oleh Thoralf Hanstein, kurator naskah-naskah Islam Arab, Asia, dan Turki yang fasih berbahasa Indonesia.

Beragam naskah kuno Nusantara dipamerkan, dialihmediakan, serta didiskusikan. Bukan hanya aksara dan bahasanya, bahkan cara pembuatan kertas daluwang sebagai media tulis tradisionalnya pun dipertontonkan dengan mengundang Tedi Permadi, sang ahli dari Unipersitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Sarjana-sarjana Eropa juga sudah lama membangun kesarjanaan mereka dengan mengandalkan naskah-naskah kuno Indonesia. Dalam konteks Jawa, M. C. Ricklefs adalah salah satu contoh sarjana yang seperti tak pernah kehabisan amunisi merekonstruksi sejarah Jawa berbasis naskah. Dalam kondisi kesehatan yang kini tidak terlalu prima pun, Pak Merle, begitu ia disapa, bahkan sedang mempersiapkan penulisan sejarah biografi Mangkunegara I atau yang dikenal sebagai Samber Nyawa, berdasar pada Serat Babad Pakunegaran, sebuah naskah Jawa yang tersimpan di The British Library (Add MS 12318) (Ricklefs 2015). Pekerjaan yang seharusnya juga dilakukan oleh sarjana-sarjana pribumi sendiri.
Edwin Wieringa, Willem van der Molen, Nancy Florida, dan Dick van der Meij adalah beberapa sarjana asing lain yang patut disebut dalam konteks kajian naskah-naskah Jawa, dan yang sebagiannya hingga kini masih dianggap lebih produktif menghasilkan karya-karya ilmiah berbasis naskah Jawa ketimbang para filologis Indonesia sendiri.

Tanpa salah urus saja, naskah kuno secara perlahan tapi pasti terancam punah mengingat daya tahan alas yang digunakan memiliki keterbatasan, apalagi ditambah kelembapan udara di iklim tropis, gigitan ngengat dan serangga, serta ancaman kemungkinan musnah akibat terjadinya bencana alam seperti gempa dan tsunami. Karena itu, salah urus pengelolaan museum atau perpustakaan seperti yang terjadi di Museum Reksopustoko Mangkunegaran atau Museum Radya Pustaka itu dipastikan akan mempercepat hilangnya penggalan artefak budaya yang sesungguhnya menyimpan informasi tentang siapa jatidiri kita.

Revitalisasi museum

Meskipun mewarisi aneka ragam artefak budaya bersejarah yang menegaskan identitas kita sebagai sebuah bangsa berperadaban besar, dibandingkan negara-negara lain, kita masih relatif ketinggalan dalam hal seni dan passion mengelola museum.

Kebanyakan museum di Indonesia, termasuk museum penyimpan naskah kuno, masih bersifat elitis, berjarak dengan masyarakat umum, hanya akrab dengan kalangan terdidik saja, dan ditunggui staf ala kadarnya.

Adapun museum-museum di sejumlah negara maju kini sudah bertransformasi tidak saja eksis dengan fungsi tradisionalnya sebagai tempat mengoleksi, merawat, dan memamerkan benda-benda bersejarah, melainkan juga sebagai destinasi wisata dan hiburan bagi pengunjung umum. Staf yang dipekerjakan pun adalah para kurator terdidik dan profesional. Sebagian mereka adalah lulusan universitas-universitas terkemuka di Eropa dan Amerika di bidang Museumologi.

Visualisasi artefak di museum negara maju juga sinergis dengan perkembangan mutakhir teknologi komunikasi dan informasi sehingga menjadi atraktif dan menyenangkan bagi anak-anak sekalipun dengan tetap merawat tujuan utamanya untuk edukasi.

Hilangnya naskah kuno Jawa-Tiongkok koleksi Museum Reksopustoko Mangkunegaran, dan mungkin juga naskah-naskah dalam koleksi lain yang tidak terekspos, hanya salah satu akibat saja dari potret pengelolaan museum kita yang belum tercerahkan. Semoga ini menjadi momentum bagi kita untuk melakukan transformasi pengelolaan museum secara profesional, visioner, transparan, dan akuntabel sehingga melahirkan museum yang mendidik dan menyenangkan.

Prof Dr Oman Fathurahman, Peneliti senior PPIM, Guru Besar Filologi di FAH UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara. Tulisan ini sudah dimuat di Kompas, 5 Februari 2016