Rahmi Purnomowati : Masyarakat Adalah Laboratorium Saya

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Luthfi Destianto

Menjadi seorang dosen ialah profesi yang mulia. Betapa tidak, seorang dosen dengan tulus membagi ilmu pengetahuan yang dimiliki dengan mengabdikan diri mengajar mahasiswa yang notabene sebagai calon agen of change atau agen perubahan dari suatu bangsa. Namun, di era globalisasi saat ini, terlihat jarang ada dosen yang bersedia mengabdikan ilmunya untuk masyarakat. Kebanyakan dosen menghabiskan waktu diruang laboratorium melakukan penelitian untuk mengembangkan ilmunya.


Namun, berbeda dengan sosok yang satu ini. Sosoknya begitu ramah kepada siapapun menandakan bahwa ia mudah bergaul dan berbaur dengan masyarakat. Itulah Rahmi Purnomowati SP M Si, dosen Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan (ESDAL) Jurusan Agribisnis UIN Jakarta yang mengaku begitu mencintai alam dan lingkungan serta mengamalkan ilmu yang dimiliki mengajak masyarakat turut menjaga kelestarian alam.

“Masyarakat adalah laboratorium bagi saya. Bukan sebagai objek penelitian, namun sebagai guru saya” tutur perempuan kelahiran Jakarta, 3 Agustus 1974 yang mengaku sering bergelut dengan petani, nelayan, dan pedagang.”Mereka membantu saya untuk memahami berbagai teori yang diajarkan dikelas waktu kuliah saya dulu” ujar jebolan magister program pasca sarjana jurusan Sumber Daya pesisir dan lautan Institut Pertanian Bogor ini

Rahmi, begitu ia akrab disapa, mengaku ingin menjadi parit atau pipa kecil yang selalu rajin mengalirkan air daripada menjadi waduk yang mampu menampung air begitu besar tapi tidak dapat mengalirkannya.”Lebih baik saya memiliki ilmu yang sedikit namun senantiasa membaginya pada masyarakat daripada ilmu tersebut saya simpan sendiri” ujarnya

Rahmi menceritakan awal mula ketertarikannya pada lingkungan hidup ketika duduk di bangku kuliah. Ia selalu mendapat teori tentang mengelola sumber daya alam (SDA) pertanian untuk mencapai keuntungan. Padahal, jika itu yang menjadi dasar maka pada satu titik SDA tersebut  akan habis. Banyak aktivitas SDA yang berdampak buruk terhadap lingkungan

“Dari situ tergerak untuk mengembangkan paradigma dan aksi pemanfaatan pemanfaatan SDA local tanpa harus merusak kelestariannya dan memperhatikan aspek keberlanjutan dimasa yang akan datang atau dikenal dengan istilah sustainable development,” imbuhnya

Perempuan yang menjadi peneliti senior di Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Laut (PKSPL) IPB secara free lance ini mengaku dari kuliah S2nya di bidang sumber daya pesisir dan laut, ia semakin mengetahui jika kerusakan yang terjadi di laut dan pesisir akibat pemanfaatan pengelolaan lahan dan pertanian yang salah di wilayah atasnya. “Sejak itu saya tidak pernah berhenti baik berprofesi sebagai profesional maupun valunteer untuk bergelut dalam pelestarian lingkungan”

Sebagai seseorang yang peduli gender, konsultan dan trainer di bidang community development, capacity building, dan pengelolaan SDA ini melihat kaum perempuan, khususnya ibu adalah golongan yang paling menerima beban akibat rusaknya SDA. “Padahal mereka adalah yang paling berkepentingan dengan SDA. Contoh sederhana masalah air bersih. Ketika air melimpah mereka boros, Namun, ketika air langka mereka yang paling ketar-ketir” imbuhnya.

Aksi peduli lingkungan terhadap gender dapat diterapkan di daerah yang punya Sumber Daya Air. Rahmi mencontohkan, kegiatan yang dilakukan bersama masyarakat di pulau kecil melalui kegiatan rehabilitasi, konservasi, dan pemanfaatan hutan bakau dimana kaum ibu sebagai tulang punggungnya.”Tanaman bakau bisa mengubah air asin menjadi air tawar” ujar perempuan yang mengaku masih single ini.

Pemikiran dan ide yang Ia miliki tidak hanya sebatas wacana. Aktivitas kesehariannya tidak pernah lepas dari pelestarian lingkungan. Untuk menunjukkan keseriusannya di bidang pelestarian lingkungan, ia mengaku mengikuti kursus selama 11 bulan di Uni Eropa (Jerman dan negara di sekitanya) dalam bidang pelestarian dan pengelolaan SDA pesisir dan lautan tahun 2006 hingga 2007 dengan disponsori Inwent Germany dan berkesempatan Magang selama tiga  bulan di Berlin Jerman untuk lembaga gender

“Saya bersama enam peserta lain diundang untuk program Sucoman (Sustainable Coastal Ocean Marine Resources Management). Program ini juga diikuti peserta lain dari berbagai Negara seperti Filiphina, Vietnam, dan negara-negara Amerika Latin. Kami mempelajari pengelolaan SDA khususnya di pesisir. Bukan hanya perikanan, namun juga pengelolaan limbah, pemukiman pesisir, bisnis dan perdagangan” ujarnya

Setelah pulang dari Jerman, lanjut Rahmi, ia langsung diminta Inwent dan Pelabuhan Bremen (Bremen Port) untuk membantu penyelenggaraan program ecoport atau pengelolaan pelabuhan laut berbasis lingkungan Sejak 2008 hingga 2010.

Kegiatan lainnya, kini memiliki mitra binaan petani di Bogor (daerah Pamijahan dan Ciseeng) dalam pengembangan agribisnis pertanian organik terpadu. Selain itu, di wilayah Kepulauan Seribu, bersama Yayasan Bumi Madani Bogor yang dibinanya ini bermitra dengan masyarakat Pulau Panggang dan Pulau Pramuka untuk penyuluhan dan pelatihan dalam pengembangan sumber daya pesisir

“Sejak 2005 hingga Sekarang kami berbaur dengan masyarakat kelompok nelayan, wanita, pemuda, dan anak-anak untuk bertemu, berbagi pengalaman, dan belajar dengan mereka tentang pengembangan kewirausahaan sekaligus menjaga kelestariannya” tandas Direktur Kumpulan Lembaga Bina Alam Harmoni (LeBAH) ini..

Melalui aktivitasnya itu, Rahmi berkesempatan menjadi narasumber Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) untuk pengembangan masyarakat dan fasilitasi kegiatan perempuan pesisir.

Aktivitas lain yang kini sedang digeluti ialah bersama Yayasan Bina Madani dan Kumpulan LeBAH bekerja sama dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga menghimpun lembaga-lembaga kepemudaan dan pesantren di seluruh Indonesia untuk mengembangkan kewirausahaan melalui pemanfaatn SDA lokal.

Di tengah aktivitasnya segudang, ia masih meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan mahasiswa  untuk membahas persoalan yang berkenaan dengan community development, capacity building, dan pengelolaan SDA dan lingkungan hidup di rumahnya yang nyaman diberi nama D’Orange.

“Saya siap membina mahasiswa UIN Jakarta untuk berdiskusi soal itu. Saya selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT dan siap berbagi mewujudkan syukur itu. Pesan saya pada mahasiswa Jadilah orang yang bukan hanya menebar pesona Namun juga menebar prestasi,” tutupnya. []

Rahmi Purnomowati : Masyarakat Adalah Laboratorium Saya

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter : Luthfi Destianto

Menjadi seorang dosen ialah profesi yang mulia. Betapa tidak, seorang dosen dengan tulus membagi ilmu pengetahuan yang dimiliki dengan mengabdikan diri mengajar mahasiswa yang notabene sebagai calon agen of change atau agen perubahan dari suatu bangsa. Namun, di era globalisasi saat ini, terlihat jarang ada dosen yang bersedia mengabdikan ilmunya untuk masyarakat. Kebanyakan dosen menghabiskan waktu diruang laboratorium melakukan penelitian untuk mengembangkan ilmunya.


Namun, berbeda dengan sosok yang satu ini. Sosoknya begitu ramah kepada siapapun menandakan bahwa ia mudah bergaul dan berbaur dengan masyarakat. Itulah Rahmi Purnomowati SP M Si, dosen Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan (ESDAL) Jurusan Agribisnis UIN Jakarta yang mengaku begitu mencintai alam dan lingkungan serta mengamalkan ilmu yang dimiliki mengajak masyarakat turut menjaga kelestarian alam.

“Masyarakat adalah laboratorium bagi saya. Bukan sebagai objek penelitian, namun sebagai guru saya” tutur perempuan kelahiran Jakarta, 3 Agustus 1974 yang mengaku sering bergelut dengan petani, nelayan, dan pedagang.”Mereka membantu saya untuk memahami berbagai teori yang diajarkan dikelas waktu kuliah saya dulu” ujar jebolan magister program pasca sarjana jurusan Sumber Daya pesisir dan lautan Institut Pertanian Bogor ini

Rahmi, begitu ia akrab disapa, mengaku ingin menjadi parit atau pipa kecil yang selalu rajin mengalirkan air daripada menjadi waduk yang mampu menampung air begitu besar tapi tidak dapat mengalirkannya.”Lebih baik saya memiliki ilmu yang sedikit namun senantiasa membaginya pada masyarakat daripada ilmu tersebut saya simpan sendiri” ujarnya

Rahmi menceritakan awal mula ketertarikannya pada lingkungan hidup ketika duduk di bangku kuliah. Ia selalu mendapat teori tentang mengelola sumber daya alam (SDA) pertanian untuk mencapai keuntungan. Padahal, jika itu yang menjadi dasar maka pada satu titik SDA tersebut  akan habis. Banyak aktivitas SDA yang berdampak buruk terhadap lingkungan

“Dari situ tergerak untuk mengembangkan paradigma dan aksi pemanfaatan pemanfaatan SDA local tanpa harus merusak kelestariannya dan memperhatikan aspek keberlanjutan dimasa yang akan datang atau dikenal dengan istilah sustainable development,” imbuhnya

Perempuan yang menjadi peneliti senior di Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Laut (PKSPL) IPB secara free lance ini mengaku dari kuliah S2nya di bidang sumber daya pesisir dan laut, ia semakin mengetahui jika kerusakan yang terjadi di laut dan pesisir akibat pemanfaatan pengelolaan lahan dan pertanian yang salah di wilayah atasnya. “Sejak itu saya tidak pernah berhenti baik berprofesi sebagai profesional maupun valunteer untuk bergelut dalam pelestarian lingkungan”

Sebagai seseorang yang peduli gender, konsultan dan trainer di bidang community development, capacity building, dan pengelolaan SDA ini melihat kaum perempuan, khususnya ibu adalah golongan yang paling menerima beban akibat rusaknya SDA. “Padahal mereka adalah yang paling berkepentingan dengan SDA. Contoh sederhana masalah air bersih. Ketika air melimpah mereka boros, Namun, ketika air langka mereka yang paling ketar-ketir” imbuhnya.

Aksi peduli lingkungan terhadap gender dapat diterapkan di daerah yang punya Sumber Daya Air. Rahmi mencontohkan, kegiatan yang dilakukan bersama masyarakat di pulau kecil melalui kegiatan rehabilitasi, konservasi, dan pemanfaatan hutan bakau dimana kaum ibu sebagai tulang punggungnya.”Tanaman bakau bisa mengubah air asin menjadi air tawar” ujar perempuan yang mengaku masih single ini.

Pemikiran dan ide yang Ia miliki tidak hanya sebatas wacana. Aktivitas kesehariannya tidak pernah lepas dari pelestarian lingkungan. Untuk menunjukkan keseriusannya di bidang pelestarian lingkungan, ia mengaku mengikuti kursus selama 11 bulan di Uni Eropa (Jerman dan negara di sekitanya) dalam bidang pelestarian dan pengelolaan SDA pesisir dan lautan tahun 2006 hingga 2007 dengan disponsori Inwent Germany dan berkesempatan Magang selama tiga  bulan di Berlin Jerman untuk lembaga gender

“Saya bersama enam peserta lain diundang untuk program Sucoman (Sustainable Coastal Ocean Marine Resources Management). Program ini juga diikuti peserta lain dari berbagai Negara seperti Filiphina, Vietnam, dan negara-negara Amerika Latin. Kami mempelajari pengelolaan SDA khususnya di pesisir. Bukan hanya perikanan, namun juga pengelolaan limbah, pemukiman pesisir, bisnis dan perdagangan” ujarnya

Setelah pulang dari Jerman, lanjut Rahmi, ia langsung diminta Inwent dan Pelabuhan Bremen (Bremen Port) untuk membantu penyelenggaraan program ecoport atau pengelolaan pelabuhan laut berbasis lingkungan Sejak 2008 hingga 2010.

Kegiatan lainnya, kini memiliki mitra binaan petani di Bogor (daerah Pamijahan dan Ciseeng) dalam pengembangan agribisnis pertanian organik terpadu. Selain itu, di wilayah Kepulauan Seribu, bersama Yayasan Bumi Madani Bogor yang dibinanya ini bermitra dengan masyarakat Pulau Panggang dan Pulau Pramuka untuk penyuluhan dan pelatihan dalam pengembangan sumber daya pesisir

“Sejak 2005 hingga Sekarang kami berbaur dengan masyarakat kelompok nelayan, wanita, pemuda, dan anak-anak untuk bertemu, berbagi pengalaman, dan belajar dengan mereka tentang pengembangan kewirausahaan sekaligus menjaga kelestariannya” tandas Direktur Kumpulan Lembaga Bina Alam Harmoni (LeBAH) ini..

Melalui aktivitasnya itu, Rahmi berkesempatan menjadi narasumber Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) untuk pengembangan masyarakat dan fasilitasi kegiatan perempuan pesisir.

Aktivitas lain yang kini sedang digeluti ialah bersama Yayasan Bina Madani dan Kumpulan LeBAH bekerja sama dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga menghimpun lembaga-lembaga kepemudaan dan pesantren di seluruh Indonesia untuk mengembangkan kewirausahaan melalui pemanfaatn SDA lokal.

Di tengah aktivitasnya segudang, ia masih meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan mahasiswa  untuk membahas persoalan yang berkenaan dengan community development, capacity building, dan pengelolaan SDA dan lingkungan hidup di rumahnya yang nyaman diberi nama D’Orange.

“Saya siap membina mahasiswa UIN Jakarta untuk berdiskusi soal itu. Saya selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT dan siap berbagi mewujudkan syukur itu. Pesan saya pada mahasiswa Jadilah orang yang bukan hanya menebar pesona Namun juga menebar prestasi,” tutupnya. []