Rahmat Widodo: Virus H1N1 Belum Ditemukan Di Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Reporter: Jamilah

Aula Madya, UINJKT Online – Wakil Kepala Dinas Peternakan DKI Jakarta Rahmat Widodo mengatakan, sampai saat ini belum ditemukan virus H1N1 pada babi di Indonesia. Namun untuk mengantisipasi penyebaran virus itu, Direktorat Jendral Peternakan (Ditjenak) telah melakukan berbagai upaya pencegahan, di antaranya menutup pemasukan hewan, produk hewan, vaksin, dan sperma beku (straw) dari Meksiko dan USA. Hal itu dikatakannya dalam soialisasi dan dialog publik “Mengenali dan Mengantisipasi Flu Babi di Indonesia” di Gedung Aula Madya, Rabu (27/5).

Selain itu, lanjutnya, Direktorat Jenderal Peternakan (Ditjenak) juga sudah melayangkan surat edaran kepada Kepala Dinas Peternakan provinsi seluruh Indonesia tentang kewaspadaan dini terhadap kemungkinan masuknya swine influenza atau flu babi di wilayah kerjanya, termasuk peringatan kepada para pekerja di peternakan babi untuk waspada menggunakan PEE (masker (N95) dan sarung tangan.

“Ditjenak juga sedang berupaya memantau dan memperketat lalulintas babi antar daerah/pulau. Mereka perlu memiliki surat kesehatan terlebih dahulu, selain itu koordinasi intensif dengan jajaran karantina hewan juga sangat signifikan,” ujarnya. 

Adapun Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Prof Dr dr MK Tajudin dalam sambutannya mengatakan kasus flu babi dapat diambil pelajaran umat Islam. “Itulah salah satu hikmah mengapa Islam mengharamkan babi, karena di dalam babi terdapat berbagai virus dan dapat menghasilkan virus baru yang berbahaya,” katanya. []

Rahmat Widodo: Virus H1N1 Belum Ditemukan Di Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Reporter: Jamilah

Aula Madya, UINJKT Online – Wakil Kepala Dinas Peternakan DKI Jakarta Rahmat Widodo mengatakan, sampai saat ini belum ditemukan virus H1N1 pada babi di Indonesia. Namun untuk mengantisipasi penyebaran virus itu, Direktorat Jendral Peternakan (Ditjenak) telah melakukan berbagai upaya pencegahan, di antaranya menutup pemasukan hewan, produk hewan, vaksin, dan sperma beku (straw) dari Meksiko dan USA. Hal itu dikatakannya dalam soialisasi dan dialog publik “Mengenali dan Mengantisipasi Flu Babi di Indonesia” di Gedung Aula Madya, Rabu (27/5).

Selain itu, lanjutnya, Direktorat Jenderal Peternakan (Ditjenak) juga sudah melayangkan surat edaran kepada Kepala Dinas Peternakan provinsi seluruh Indonesia tentang kewaspadaan dini terhadap kemungkinan masuknya swine influenza atau flu babi di wilayah kerjanya, termasuk peringatan kepada para pekerja di peternakan babi untuk waspada menggunakan PEE (masker (N95) dan sarung tangan.

“Ditjenak juga sedang berupaya memantau dan memperketat lalulintas babi antar daerah/pulau. Mereka perlu memiliki surat kesehatan terlebih dahulu, selain itu koordinasi intensif dengan jajaran karantina hewan juga sangat signifikan,” ujarnya. 

Adapun Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Prof Dr dr MK Tajudin dalam sambutannya mengatakan kasus flu babi dapat diambil pelajaran umat Islam. “Itulah salah satu hikmah mengapa Islam mengharamkan babi, karena di dalam babi terdapat berbagai virus dan dapat menghasilkan virus baru yang berbahaya,” katanya. []