Suatu malam saya naik taxi dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta ke Bantul (13/4). Si sopir cerita bahwa anak laki-laki pertamanya selalu nangis sambil minta maaf karena dia ranking dua dari bawah (32 siswa). Rankingnya tidak bagus dari kelas 1 hingga kelas 5 SD. “Maafin aku ayah karena tidak bisa juara kelas.” “Tidak apa-apa nak.” Demikian si sopir menirukan percakapan ayah-anak setiap kali bagi-bagi raport di sekolah usai. Lima tahun lamanya.

Meski tidak terbilang anak cerdas di sekolah, ayahnya bangga pada anak ini. Anaknya biasa azan Subuh di masjid dekat rumah di Malioboro, sehingga ia disayang kiyai, imam masjid. Menjelang kelas 6, si anak minta belajar di pesantren. Ayahnya mengabulkan, dia akhirnya mesantren di Riau—tempat asal ayahnya.

Dua tahun kemudian, kelas 1 SMP, anaknya hafal 30 juz, dan mendapatkan banyak hadiah rupiah dari gubernur, walikota, dan bupati. Tidak hanya itu, perwakilan duta besar Mesir siap memberikan beasiswa kuliah di Mesir, Maroko, atau Timur Tengah. Pemda juga menyiapkan dan menjamin biaya pendidikan anaknya kelak.
Si sopir dan istrinya yang mualaf—sebelumnya katolik—sangat bersyukur memiliki anak yang hafal Alquran dan bersuara merdu saat melantunkan ayat-ayat suci ini. “Adiknya, ingin segera mengikuti jejak kakaknya yang hafid quran,” katanya.

Kecerdasan Jamak

Jika anak anda tidak cerdas di sekolah, mungkin dia punya bakat lain. Cari tahu apa yang jadi kelebihan anak kita. Apa yang disukainya. Selama itu baik, kembangkan, taruh dia di tempat yang tepat. Kalau anak suka, yang berat dan sulit akan mudah dan menyenangkan. Tidak sesuai dengan keinginan orangtua, biarkan mereka menjalani hidupnya sendiri.

Tidak perlu ranking kelas jika menimbulkan guru yang menanggap anak bodoh, dan orangtua yang ingin anaknya belajar lebih keras. Les Matematika, les IPA, dan les bahasa Inggris. Biasa saja jika anak tidak masuk sepuluh besar. Si kaka sering bilang, “Ayah kok ga marah, padahal rangking kaka 11 dari 25.”

Saya tahu kaka belajar keras di sekolah. Berangkat pagi sekali karena tidak ingin bangkunya di depan, dekat guru, ditempati temannya. Dia tidak suka duduk di belakang. Belajar dari pagi sampai jam 4 sore. Kalo pulang ke rumah dengan jalan kaki, tujuannya langsung dapur. Menyantap makanan apa saja dengan lahap, dengan seragam masih nempel di badannya. Pasti lelah dia belajar.

Jadi kalau malamnya susah diminta saya belajar, saya tidak maksa. Rankingnya sedang di kelas, tapi ia mau memasak nasi, mencuci piring, bahkan bikin telur ceplok, goreng naget, bikin kueh, saat tidak ada pembantu, Minggu. Hari-hari biasa pembantu kami dua orang.

Dia memang suka masak-memasak. Cita-citanya jadi koki. Kemampuan musikalnya bagus. Bisa main piano, dan terakhir minta dibelikan gitar, meskipun belum serius ditekuni. Olahraganya renang. Peringkatan di sekolah jangan sampai menyebabkan guru dan orangtua salah menilai bakat-bakat anak yang beragam.

Setiap anak beda dan punya bakatnya masing-masing. Dari rahim yang sama tapi beda bakat. Tugas kita menemukan bakat itu dan menyediakan fasilitas agar bakat itu berkembang dengan baik. Mau kita jangan beda dengan bakat dan mau anak-anak. Kalo di sekolah belum terlihat pintar dalam bidang tertentu, sabar masih ada perguruan tinggi. Di kuliah juga belum menonjol, masih ada sekolah kehidupan yang akan membuktikan bahwa anak kita layak jadi bintang.

Ada banyak potensi dalam anak-anak kita yang kapan saja bisa lahir dan matang asal dibimbing. Entah berhitung, sains, musik, olahraga, menulis, bahasa, jika didukung sejak awal dengan benar akan membuat hidup mereka punya keahlian khusus. Jika mau bekerja dengan keahliannya itu, anak-anak akan mandiri ekonomi dan bahagia.

Strategi Pengembangan Bakat

Kemauan bekerja keras dan bahagia itu memerlukan latihan dan pembelajaran dari sekolah, kampus, guru, dan orangtua. Sekolah mengajarkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sosial. Kalo sudah terampil dalam bidangnya, jangan lupa fokus, sungguh-sungguh, dan bahagia.

Belajar banyak mata pelajaran atau mata kuliah itu belum tentu sesuai dengan kebutuhan anak di masa depan. Untuk pekerjaan dan hidup mereka. Tas mereka penuh buku yang tebal-tebal. Belum lagi bekal makanan karena di sekolah dan kampus belum tentu higienis. Luar biasa beban tas anak-anak zaman now.

Sekolah dan kampus perlu menyusun ulang kurikulum agar tidak semua dianggap penting. Beban siswa dan mahasiswa yang harus menguasai banyak ilmu sungguh berat dan membunuh kreativitas mereka. Guru tidak perlu memberikan PR jika belajar sudah full day, apalagi karena tidak rela siswa isi liburan dengan full senang-senang. “Liburan tapi PR-nya seabrek,” kata istri teman saya di Yogya.

Dalam kehidupan nyata, manusia cukup punya satu keterampilan untuk bertahan hidup, plus sikap-sikap positif. Sikap-sikap positif atau karakter harus diajarkan di sekolah dan kampus. Jujur, sabar, syukur, tanggung jawab, adil, harus terinternalisasi dalam setiap pembelajaran di kelas. Semua guru dan dosen, apa pun mata pelajaran dan mata kuliahnya. 

Guru dan dosen mempersiapkan pembelajaran dengan baik. Materi, metode dan media apa yang akan digunakan, sehingga pembelajaran berlangsung efektif, menyenangkan, dan tidak membosankan. Dari setiap proses belajar guru-dosen bisa menjelaskan nilai apa yang bisa dipetik siswa-mahasiswa.

Model pembelajaran yang bervariasi memungkinkan siswa belajar sesuai dengan gaya mereka masing-masing. Gaya visual cocok dengan media dan teknik video, gambar, dan tulisan, auditori cocok dengan media dan teknik musik dan ceramah, sedangkan kinestetik cocok dengan media dan teknik praktik dan sosio-drama. 

Guru-dosen yang hebat bisa menularkan kecintaan belajar kepada siswa-mahasiswa. Belajar dan berlatih sesuai dengan bakat anak. Orangtua dan guru mengarahkan dan memfasilitasinya. Setiap anak istimewa dengan bakat mereka masing-masing, hanya soal waktu kapan itu benar-benar menjadi sesuatu yang patut dibanggakan. Ada yang cepat meraihnya, ada yang lamban, bahkan lamban sekali. Guru-dosen-orangtua perlu kesabaran untuk melihat anak-anak berhasil dan menjadi manusia baik.

Perbaikan pendidikan bangsa ini harus dimulai dari guru. Guru yang menentukan anak senang belajar atau tidak. Guru yang menentukan bagaimana kelas menjadi ajang bermain tapi sesungguhnya anak belajar. Guru juga yang menjadikan kelas bukan tempat yang menyenangkan, melainkan beban psikis bagi siswa. Misal, Matematika itu pelajaran menyenangkan atau tidak sangat tergantung kualitas gurunya.

Saat ini kita merindu guru-orang tua yang mampu menemukan rahasia bakat anak. Anak-anak kita sering anggap bodoh, padahal kita yang tidak mampu membaca bakat mereka. Alih-alih menemukannya, membahagiakannya, kita malah sering menuntun anak pada tujuan dan mau kita. Seolah kebahagiaan kita adalah kebahagiaan mereka. Bakat anak adalah rahasia yang kuncinya tidak sulit ditemukan, asal kita yakin dan berusaha. Selamat merayakan Hari Pendidikan Nasional, 2018.

Jejen Musfah, Kepala Program Magister Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (mf)

Share This