Putut: Kembangkan Jurnalisme Damai

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung FDK, UINJKT Online – Vice President Mizan Publika Putut Widjanarko mengatakan, mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik UIN Jakarta perlu mengembangkan jurnalisme damai. Seorang jurnalis yang berperspektif damai akan menuliskan berita secara positif, menggunakan diksi yang tepat, sehingga tidak menimbulkan konflik.

 

“Jurnalisme damai perlu dikembangkan, sehingga masyarakat yang tengah terlibat konflik akan termotivasi untuk berdamai,” jelas Putut ketika menjadi pembicara dalam Pelatihan Jurnalistik  bertema Islam dan Jurnalisme Damai yang diselenggarakan Konsentrasi Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Jakarta di Gedung Teater FDK Lantai 2, Rabu (4/11).

 

Istilah jurnalisme damai pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Johan Galtung pada tahun 1970-an. Menurut Jacklyn dan Mc Goldrict, jurnalisme damai mempunyai berbeda dengan jurnalisme perang. Jurnalisme damai menjunjung tinggi kebenaran dan selalu mencari solusi yang terbaik. Sedangkan jurnalisme perang lebih mementingkan kekerasan dalam konflik.

 

Dalam hal ini peran media sangat beragam, tergantung sudut pandang masing-masing pihak. Media dapat menjadi alat propaganda bila digunakan untuk menjatuhkan salah satu pihak. Dan media juga dapat menjadi peredam konflik bila suatu berita diinformasikan secara akurat dan berimbang.

 

Ketua Konsentrasi Jurnalistik Suhaimi MSi mengatakan, acara ini bertujuan melatih seluruh mahasiswa konsentrasi jurnalistik agar lebih mengerti tentang kejurnalistikan. Pelatihan tidak hanya diisi dengan teori tapi juga praktek lapangan. Rencananya hasil dari pelatihan ini akan diterbitkan dalam bentuk surat kabar yang bernama Kabar Jurnalistik (Kanal).

 

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti sedikitnya 90 mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik. [Nif/Ed]

Putut: Kembangkan Jurnalisme Damai

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung FDK, UINJKT Online – Vice President Mizan Publika Putut Widjanarko mengatakan, mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik UIN Jakarta perlu mengembangkan jurnalisme damai. Seorang jurnalis yang berperspektif damai akan menuliskan berita secara positif, menggunakan diksi yang tepat, sehingga tidak menimbulkan konflik.

 

“Jurnalisme damai perlu dikembangkan, sehingga masyarakat yang tengah terlibat konflik akan termotivasi untuk berdamai,” jelas Putut ketika menjadi pembicara dalam Pelatihan Jurnalistik  bertema Islam dan Jurnalisme Damai yang diselenggarakan Konsentrasi Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Jakarta di Gedung Teater FDK Lantai 2, Rabu (4/11).

 

Istilah jurnalisme damai pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Johan Galtung pada tahun 1970-an. Menurut Jacklyn dan Mc Goldrict, jurnalisme damai mempunyai berbeda dengan jurnalisme perang. Jurnalisme damai menjunjung tinggi kebenaran dan selalu mencari solusi yang terbaik. Sedangkan jurnalisme perang lebih mementingkan kekerasan dalam konflik.

 

Dalam hal ini peran media sangat beragam, tergantung sudut pandang masing-masing pihak. Media dapat menjadi alat propaganda bila digunakan untuk menjatuhkan salah satu pihak. Dan media juga dapat menjadi peredam konflik bila suatu berita diinformasikan secara akurat dan berimbang.

 

Ketua Konsentrasi Jurnalistik Suhaimi MSi mengatakan, acara ini bertujuan melatih seluruh mahasiswa konsentrasi jurnalistik agar lebih mengerti tentang kejurnalistikan. Pelatihan tidak hanya diisi dengan teori tapi juga praktek lapangan. Rencananya hasil dari pelatihan ini akan diterbitkan dalam bentuk surat kabar yang bernama Kabar Jurnalistik (Kanal).

 

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti sedikitnya 90 mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik. [Nif/Ed]