Pustakawan UIN Jakarta Ikuti Writing Workshop

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung Perpustkaan Utama, BERITA UIN Online– Sebanyak 32 pustakawan dari Perpustakaan Utama,  11 fakultas dan Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta mengikuti  Best Practice Writing Workshop di Gedung Perpustakaan Utama, Rabu (6/6). Pelatihan menulis itu digelar untuk memberikan metode dan teknik menulis dengan mudah bagi para pustakawan. Sebagai pembicara dan instruktur pelatihan adalah Munawar Aziiz, motivator PT Besr Practice.

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk melatih menuangkan tulisan-tulisan. Kita berharap dengan pelatihan ini pustakawan bisa membuat tulisan dengan baik, baik berupa jurnal atau tulisan lainnya,” ujar Kepala Perpustakaan Utama Nuryudi, MLiS.

Menurutnya, para pustakawan perlu mendapatkan pelatihan menulis secara terus-menerus.  Untuk itu perlu adanya motivasi atau dorongan dan pelatihan, sehingga para pustakawan senang menulis. “Semangat untuk menulis harus ditanamkan. Pustakawan perlu meluangkan waktunya untuk menulis,” sambung dia.

Dalam kesempatan yang sama, pustakawan Perpustakaan Utama  Raden Trisno, MM menjelaskan, pelatihan menulis ini sangat bermanfaat dan menginspirasi dirinya lebih mudah menulis. “Pelatihan ini cukup membantu dalam memulai menulis dengan gaya sendiri,” katanya.

Selain itu, terang Trsino, pelatihan ini dapat mendorong pustakawan untuk dapat membuat tulisan yang lebih baik, sehingga tulisan tersebut layak dipublikasikan pada jurnal ilmiah atau bisa membuat buku.”Targetnya minimal bisa buat buku sendiri,”imbuhnya.

Hal senada disampaikan Risma Etawari, pustakawan America Corner. Menurutnya,   pelatihan menulis ini sangat bagus dan memberikan wawasan yang baik bagaimana seseorang bisa menulis dengan mudah dan enak dibaca. “Ini pelatihan luar biasa. Ini pelatihan tidak dapat dengan free,”akunya.

Pelatihan menulis selama sehari ini telah memotivasi para pustakawan untuk menulis.  Sebelumnya, ungkap Risma, dirinya dan kawan-kawannya terasa berat dan rumit untuk menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan. “Ini menumbuhkan bakat yang dulu terpendam,” sambung dia.

Ia menambahkan, pelatihan ini diharapkan ada tindak lanjutnya. Dengan demikian, para pustakawan mendapatkan kesempatan yang lebih baik untuk menulis. “Perlu ada follow up dari UIN Jakarta,” harap Risma. (D. Antariksa/S)