Kultum RektorAllah SWT mewajibkan kita melakukan puasa manakala bulan Ramadhan tiba. Sebagai sebuah kewajiban, puasa menempati posisi ketiga dalam pilar Islam setelah kewajiban beriman atas ketauhidan Allah SWT dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, lalu shalat. Ada banyak makna yang tersimpan dari kewajiban berpuasa, salah satunya puasa menjadi ukuran atas derajat ketakwaan seseorang. Kita akan melihatnya dari pemaknaan atas puasa.
Puasa, dalam bahasa Arabnya adalah Shaum. Dalam berbagai kamus bahasa Arab, kata Shaum seringkali diterjemahkan sebagai Imsak yang artinya menahan diri. Untuk itu, secara fiqhiyah, kata puasa diartikan sebagai menahan diri dari hal-hal membatalkan seperti makan dan minum, dimulai dengan niat, dan dilaksanakan sejak subuh hingga azan maghrib berkumandang. Inilah derajat pertama seseorang dalam menjalankan puasa, yakni sekedar menjalankan kewajiban dengan cara menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal membatalkan sejak subuh hingga adzan maghrib.
Hanya sebagai seorang Muslim, apakah kita cukup dengan hanya menahan diri dari perkara membatalkan sebatas makan dan minum? Tentu tidak. Kita perlu terus meningkatkan derajat ketakwaan tersebut.
Berangkat dari itu, maka puasa diterjemahkan sebagai al-imsak ‘an kulli-l ma’ashiy atau menahan diri dari berbagai perilaku dosa. Inilah derajat kedua ketakwaan seseorang yang diukur melalui berpuasa. Dalam kacamata tasawuf sendiri, sumber utama dosa itu lima hal, yakni mulut, mata, telinga, tangan, dan perut. Dan, indikator ma’ashy itu adalah menyebabkan orang lain menjadi mafsadat karena perbuatan kita atau menjadikan kita melanggar larangan yang telah ditegaskan Allah SWT.
Saat kita memaknai puasa sebagai al-imsak ‘an kulli-l ma’ashiy maka selayaknya kita mengontrol kelima sumber dosa di atas. Mulut dijaga dari ucapan-ucapan tidak benar seperti fitnah dan berbohong, mata dijaga dari pandangan yang tidak pantas karena mengundang syahwat, telinga dijaga dari hal-hal buruk, tangan dijaga dari perilaku dzolim, dan perut dijaga dari mengkonsumsi makanan-minuman haram baik karena dzat maupun cara perolehannya.
Ketika puasa dimaknai sebagai al-imsak ‘an kulli-l ma’ashiy, maka menahan diri itu harus dilakukan dalam seluruh waktu. Bukan sekedar menahan diri sejak subuh hingga adzan maghrib seperti pengertian puasa dalam batasan yang sangat sederhana. Saat berbuka misalnya, kita berbuka dengan makan-makanan yang secara dzat halal, tapi ketika puasa dimaknai sebagai al-imsak ‘an kulli-l ma’ashiy, maka kita tidak bisa berbuka dengan makanan-minuman halal tapi diperoleh melalui korupsi.
Selanjutnya, puasa juga diartikan sebagai al-Imsak ‘an Hubbiddunya, yakni menahan diri dari cinta-ketertarikan berlebihan pada hal-hal duniawi. Kita mungkin pernah mendengar nama seorang filsuf sekaligus sufi berpengaruh, Muhiddin Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah Hatimi at-Ta’i (L. 1165 M- W. 1240 M) atau lebih dikenal sebagai Ibn Arabi. Konon, ia merupakan orang kaya dengan lahan peternakan teramat luas. Namun, kekayaan tidak membuatnya lupa. Siapa pun yang datang kepadanya dan meminta ternak peliharaannya, Ibnu Arabi pasti akan memberikan. Bahkan, di setiap habis shalat Jum’at, ia akan mempersilahkan jamaah shalat untuk menghadiri jamuan makanan yang disediakannya secara gratis, termasuk menikmati makanan paling enak di ruangannya.
Kisah Ibnu Arabi ini adalah analogi atas pemaknaan puasa sebagai al-Imsak ‘an Hubbiddunya. Bahwa, jiwa/hati seseorang tidak lagi mengikatkan diri pada kekayaan maupun perkara duniawi lain. Bisa saja misalnya, ia amat kaya dengan simpanan harta maupun investasi, tapi seluruh kekayaan tidak membuatnya berkubur diri kenikmatan dunia dan lupa untuk memprioritaskan penghambaan terhadap Yang Maha Kuasa.
Akhirkalam, semoga kita mencapai pemaknaan puasa sebagai al-imsak ‘an kulli-l ma’ashiy dan al-Imsak ‘an Hubbiddunya, bukan sekadar menahan diri dari rasa haus dan lapar. Juga, mudah-mudahan kita selalu diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah puasa, menarik hikmah yang tersembunyi di dalamnya, termasuk menerapkan nilai-nilai yang dikandungnya dalam sikap dan perilaku kita. Amiiinn ya robbal ‘alamin…

Disarikan dari Kultum Rektor Prof. Dr. Dede Rosyada MA di Masji Al-Jami’ah UIN Jakarta, Senin 06 Juni 2016.

Share This