Puasa Sebagai Bulan Perbaikan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Prof. Dr. Sukron Kamil, MA

Prof. Dr. Sukron Kamil, MA

Oleh: Prof. Dr. Sukron Kamil, MA

“Puasa itu adalah perisai, maka apabila seorang dari kalian sedang melaksanakan puasa, janganlah dia berkata rafats (kotor) dan jangan pula bertingkah laku jahil (seperti mengejek, atau bertengkar sambil berteriak). Jika ada orang lain yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka hendaklah dia mengatakan “Aku orang yang sedang puasa, Aku orang yang sedang puasa”. HR Bukhari.

M. Fuad Abdul Baqi dalam kitab Alu’lu wal Marjan menyebutkan rafats itu adalah tidak berbuat buruk di dalam omongan. Sementara kata jahil diartikan tidak mengerjakan pekerjaan orang-orang bodoh. Kata jahiliyah tidak selamannya lawan katanya alim tetapi juga bisa berarti haliim (orang-orang yang tidak sabar).

Lalu, apa hubungannya dengan bahasa?. Noam Chomsky dalam teorinya mengatakan bahasa itu terkait dengan pemikiran dan bahasa itu bisa diubah. Karena itu, sebuah fenomena bisa saja digunakan dengan bahasa yang dinamis. Salah satu indikator seseorang yang puasanya sukses adalah saat bahasanya terukur, bahasanya merupakan hasil dari pindaian jiwa, bahasanya menunjukan pikiran baik, dan bahasa yang selalu positif. Artinya kalau kita memunculkan bahasa yang baik, berarti hal pertama dibenahi adalah pikiran. Jadi kalau mau mereformasi diri, maka yang harus dibenahi adalah pikiran dan dilanjutkan dengan bahasa.

Chomsky mengatakan bahasa bisa digunakan ketika ada sebuah kalimat yang bisa diubah dengan bahasa yang berbeda. Ini adalah teori transformatif atau aqliyah. Pikiran akan melahirkan bahasa. Kita bisa melihat pikiran dan kegelisahan intelektualnya dengan melihat bahasanya.

Ketika kita ingin mereformasi keadaan diri kita, pertama yang harus dilakukan adalah positif terhadap apa yang dialami. Karena sebuah fenomena itu bisa menunjukan kepada dua hal. Contoh ketika seseorang mengirim tulisan ke sebuah media tetapi tidak juga dimuat. Kalau pikirannya positif maka kata yang keluar adalah belajar bukan gagal. Karena pada hakikatnya dalam hidup itu tidak ada kegagalan.

Fenomena bisa dilihat dari dua bahasa. Setiap kejadian itu disikapi manusia tergantung dari pola pikir yang dimilikinya. Apakah dia berpikir positif atau negatif terhadap fenomena tersebut. Badan kita sesungguhnya hanya mengikuti apa yang akal dan pikiran perintahkan. Kalau akal mengatakan harus sanggup maka kita akan sanggup meski sebenarnya tidak mau.

Orang sukses adalah orang yang mau menjungkirbalikan keadaan dan hidupnya agak “setengah gila”. Artinya sukses itu adalah soal alokasi waktu, tenaga, biaya, dan soal proritas. Kesuksesan seseorang juga karena persoalan hati. Kalau hati kita bertekad maka semua hambatan itu bisa dilewati. Karena puasa pada prinsipnya menolak segala kenikmatan material untuk mendapatkan pencerahan spiritual dan membuat perubahan-perubahan hidup.

Kunci sukes dalam belajar itu hanya ada 3, banyak baca, banyak baca, dan banyak baca. Kesuksesan juga tidak hanya menggunakan otak saja tetapi memakai intuisi. Dalam aliran romantisme, manusia seharusnya merasa terlebih dahulu sebelum berpikir.

Einsten mengatakan, sains tanpa agama buta, agama tanpa sains adalah pincang. Hidup ini terlalu sederhana dan sempit jika hanya dilengkapi dengan ilmu dan pengetahuan empirik saja, tetapi didekati dengan perasaan. Maka banyak orang sukses sebenarnya karena diajarkan dengan puasa. Karena dengan puasa dapat mencerdaskan pikiran dan melembutkan perasaan. Ketika sukses, dia tidak akan merasa kesuksesan milik sendiri, dia mampu mengelola perasaannya pada hal yang positif.

Puasa mengajarkan kita untuk mereformasi diri dan lembaga kita UIN Jakarta untuk menjadi lebih baik. Kita dikenal sebagai kampus pembaharu. Dunia tidak hanya di Indonesia menunggu kita untuk mampu menemukan temuan-temuan baru dari kajian Islam yang rasional dan signifikan.

Disarikan oleh Nur Jamal Shaid dari kultum Ramadhan Prof. Dr. Sukron Kamil, MA di Masjid Al-Jami’ah UIN Jakarta, Rabu 22 Juni 2016.