Puasa Membentuk Manusia Lebih Baik

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa merupakan ibadah individual sekaligus sosial yang bertujuan untuk membentuk manusia yang lebih baik. Bagaimana agar ibadah puasa Ramadhan yang kita laksanakan dapat mengubah pribadi kita menjadi lebih baik? Untuk mengetahuinya Nur Fitriyani dan Hafsa Tia Annisa dari BERITA UIN Online mewawancarai Dekan Fakultas Ushuluddin (FU) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Zainun Kamalludin Fakih yang ditemui di ruang kerjanya gedung FU, Kamis (4/8). Berikut petikannya.

Bisa Anda jelaskan bagaimana sejarah awal puasa?

Puasa sejatinya bukan hanya ada dalam tradisi Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, jauh sebelumnya, umat agama lain juga melakukan puasa. Hal ini ditegaskan dalam surat al-Baqarah ayat 183, “Ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumush shiyamu kama kutiba ‘alal ladzina min qablikum la’allakum tattaqun”. Yang artinya, Hai orang-orang yang  beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.

Dalam ayat di atas Allah tidak menyebutkan, qablikum itu siapa saja?  Umat-umat agama terdahulu sudah jelas, dan ternyata jika kita lihat dari perkembangan sejarah, umat-umat terdahulu yang tidak diturunkan wahyu secara formal oleh Allah juga telah melakukan puasa. Orang-orang Mesir kuno jauh sebelum Nabi Ibrahim juga telah melakukan puasa.

Apakah cara berpuasa mereka sama dengan umat Nabi Muhammad?

Cara berpuasanya tentu berbeda-beda. Misalnya orang Yahudi. Orang-orang Yahudi melakukan puasa pada 10 Safar untuk memperingati keselamatan Nabi Musa setelah berhasil menyeberangi lautan dan terbebas dari kejaran Fir’aun. Puasa yang mereka lakukan dari siang sampai tengah malam dengan tidak makan daging, dan hanya makan sayur-sayuran.

Ada pula puasa yang dilakukan Pythagoras, seorang ahli matematika yang memerintahkan murid yang ingin menimba ilmu kepadanya untuk terlebih dahulu melakukan puasa. Puasa yang dilakukan boleh makan dan minum, hanya saja tidak diperbolehkan berbicara selama tujuh jam dan harus dilakukan selama tiga tahun berturut-turut. Hal ini sangat efektif untuk menjaga hati dan pikiran tetap bersih dan suci.

Nah, bagi umat Islam, puasa diwajibkan di bulan suci Ramadhan. Itu merupakan  perintah dari Allah khusus kepada umat Islam yang menjadikannya berbeda dengan umat lain. Tentunya dengan ketentuan dan tata cara yang telah ditetapkan dengan sempurna. Puasa yang dijalankan oleh umat Islam lebih ringan karena hanya dilaksanakan satu bulan, yakni di bulan Ramadhan.

 

Sejak kapan puasa Ramadhan mulai diwajibkan bagi umat Islam?

Puasa Ramadhan mulai diwajibkan setelah Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah, tepatnya di tahun kedua hijriah. Saat di Mekkah belum ada perintah puasa, karena ajaran yang ditekankan pada saat itu  adalah masalah akidah dan akhlak, dan itu adalah hal yang paling sulit.

Mengapa akidah dan akhlak begitu sulit ditegakkan?

Inti dari ajaran agama itu adalah akhlak, untuk itu tujuan Rasullah diutus oleh Allah ke muka bumi  adalah untuk menyempurnakan akhlak. Tidak hanya di zaman Rasulullah, akhlak pun menjadi barang langka pada zaman sekarang. Jika bukan kita yang mengembangkan akhlak, siapa lagi? UIN Jakarta, khususnya sebagai perguruan tinggi berbasis agama Islam, merupakan contoh bagi masyarakat.

Lalu bagaimana caranya agar UIN Jakarta bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat?

Caranya adalah dengan berdakwah yang baik, sehingga akan lebih mudah diterima. Islam itu adalah agama yang menebarkan  damai dan seharusnya menjadi mercusuar tentang damai. Bukan dengan kekerasan yang marak terjadi saat ini, yang malah menambah citra buruk pada Islam. Dakwah itu bisa dilaksanakan dengan berbagai cara seperti dakwah bil hikmah, mauizatil hasanah, dan wajadilhum billati hiya ahsan.

Bil hikmah dalam bahasa Arab artinya filsafat atau filosofi. Bulan puasa adalah bulan hikmah, maka berdakwah dengan menggunakan dakwah bil hikmah sangatlah tepat, karena dakwah bil hikmah berarti dakwah yang memberikan pelajaran.

Mauizatil hasanah yaitu dengan persuasif. Tidak dengan caci maki, melainkan dengan cara persuasif dan memberikan penjelasan yang baik. Dakwah yang menggunakan caci maki tidak akan efektif dan hanya akan menimbulkan kebencian pada pihak lain yang merasa terhina.

Kemudian, wajadilhum billati hiya ahsan, berdialog kepada mereka yang menentang  dengan  bantahan yang terbaik.

Menurut Anda apa hikmah yang bisa kita petik dari puasa Ramadhan?

Puasa dapat mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Di dalam salah satu ayat puasa yaitu surat al-Baqarah ayat 186 yang artinya,Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat”. Di dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Allah itu dekat, sehingga hikmah dari melaksanakan puasa adalah lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan berpuasa kita akan merasa lebih dekat dengan Tuhan. Hal ini dapat mendidik kita untuk berlaku jujur. Misalnya saat berpuasa kita tidak makan sebelum waktunya berbuka, meski makanan tersebut milik kita dan tidak ada orang yang melihat perbuatan kita. Hal tersebut kita lakukan karena kita merasa dekat dan selalu diawasi oleh Allah.

Jika terdapat orang yang berpuasa namun tidak jujur, itu akan menghilangkan pahala dari puasa yang ia jalankan Orang yang demikian hanya mendapat lapar dan haus saja, seperti halnya orang-orang korupsi, yang mengambil milik orang lain yang bukan haknya,  mereka berpuasa hanya sebatas menahan lapar dan haus, namun ibadahnya sia-sia. “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thabrany).

Puasa tidak hanya menahan haus dan lapar. Tujuan akhir dari berpuasa adalah menjadi manusia yang baik.

Bagaimana agar puasa dapat membentuk manusia yang baik?

Saat berpuasa, kita merasa ada yang mengontrol. Tuhan dekat dengan kita. Apa yang kita lakukan selalu merasa diawasi. Dengan begitu kita akan selalu berlaku jujur.

Mengikuti sifat-sifat Tuhan. Maksud dari mengikuti sifat Tuhan adalah karena Dia (Allah) tidak butuh makan, tapi Dia memberi makan makhluk ciptaan-Nya. Dan dengan berpuasa akan melatih sikap tersebut, karena saat berpuasa manusia akan menahan nafsunya terutama lapar dan haus yang merupakan kebutuhan pokok manusia, sehingga dapat merasakan penderitaan kaum dhuafa yang sering merasakan hal tersebut. Dengan begitu, akan menumbuhkan jiwa sosial manusia,  yang pada akhirnya mau berbagi dan memberi kepada orang miskin semampunya.

Di dalam filsafat, ibadah merupakan epistemologi, yaitu salah satu metode untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Puasa merupakan salah satu metode untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, sama halnya seperti salat dan ritual yang lain. Namun, bukan itu yang terpenting. Yang terpenting adalah menghubungkan diri dengan Tuhan dari segi aksiologinya, dari segi nilai, sejauh mana ibadah itu memberikan implikasi di kehidupan nyata dengan baik, untuk  kebaikan sesama. Oleh sebab itu, orang yang sedang puasa tidak boleh jahat.

Jadi puasa itu dapat meningkatkan kesalihan kita, tidak hanya kesalihan individual dengan melakukan ritual ibadah, melainkan juga dengan kesalihan sosial yakni dengan berbagi kepada sesama. Karena sesungguhnya ibadah sosial lebih tinggi kedudukannya dari pada ibadah ritual.

Keutamaan apa saja yang harus dilakukan selama bulan Ramadhan?

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Quran. Ayat yang pertama turun adalah Iqra. Bulan Ramadhan adalah bulan ilmu. Prioritas utama adalah mendalami ilmu, karena ilmu lebih dari segala-galanya. Ilmu yang bermanfaat akan menyelamatkan kita nanti di akhirat.[]