Puasa dan Nilai Kaderisasi Pendidikan

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Warek 3Puasa di bulan suci ramadhan adalah kewajiban bagi setiap orang yang beriman. Perintah menjalankan ibadah puasa ini secara jelas telah Allah SWT firmankan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Ada banyak hikmah dan pelajaran dari menjalankan puasa selama bulan suci ramadhan ini diantaranya adalah nilai-nilai kaderisasi pendidikan. Setidaknya, ada empat hal penting yang menjadi nilai positif untuk bisa kita petik dari berpuasa.

Pertama, menahan diri dari hal-hal yang yang tidak baik dan tidak berguna. Sebaliknya kita selalu meningkatkan amalan pada hal-hal yang baik dan bermanfaat. Menahan diri ini merupakan dimensi utama dalam pengkaderan pendidikan, karena dengan manahan diri, seseorang dapat mengarahkan dirinya untuk bisa mengendalikan diri dalam melakukan perbuatan tidak baik. Melatih diri untuk senantiasa menjaga diri dari perbuatan maksiat. Semua orang ketika melakukan pendidikan kaderisasi maka harus bisa mengendalikan dan menahan diri untuk tidak melakukan hal tidak baik seperti menggunjing, menjelek-jelekan keburukan orang lain, gibah dan lain sebagainya.

Kedua, selama berpuasa kita semua dilatih untuk bersikap jujur. Nilai kejujuran begitu kental dalam beribadah puasa. Misalnya saja ketika seseorang berpuasa, yang mengetahui dia berpuasa atau pun tidak hanya dirinya sendiri dan Allah SWT. Ini menunjukan suatu ibadah yang sangat personal. Dengan begitu, puasa sesungguhnya mendidik seseorang muslim untuk selalu bersikap jujur. Kejujuran merupakan hal kedua yang utama dalam sistem kaderisasi pendidikan. Tidak ada artinya ketika seseorang yang berpuasa tetapi tidak jujur. Karena ketidakjujuran akan berimplikasi pada semua sendi kehidupan manusia.

Ketiga, tumbuhnya kepekaan sosial. Selama berpuasa, kita tidak hanya sekedar mengetahui betapa tidak enaknya seseorang ketika lapar ataupun haus. Tetapi kita juga dapat merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang lapar, haus dan tidak punya apa-apa. Kita akan bisa mengerti dan memahami keadaan lingkungan orang-orang sekitar yang hidup serba kekurangan. Dimensi kepekaan sosial ini menjadi nilai penting bagi seorang kader atau yang dididik, karena kalau tidak memiliki kepekaan dan kepedulian sosial tentu dia tidak bisa menjadi kader yang baik.

Keempat, nilai kebersamaan. Tentu ini bisa kita rasakan saat bersama keluarga, sahabat, dan kerabat. Momen sahur dan buka bersama secara teratur menjadi nilai penting dalam menumbuhkan kebersamaan. Ini adalah momen penting bagi semua orang yang beribadah puasa  untuk bisa merajuk kebersamaan diantara keluarga, kerabat dan teman.

Lebih dari itu ibadah puasa sesungguhnya lebih mengutamakan keberpihakan kita kepada jiwa. Dalam konteks filsafat kita memahami bahwa manusia terdiri dari aspek jasmani dan rohani. Maka selama ibadah puasa kita harus lebih memenangkan aspek rohani. Kebutuhan-kebutuhan rohani  lebih kita kedepankan daripada kebutuhan jasmani.

Akhiru kalam. Semoga ramadhan tahun ini betul-betul mendidik kita untuk menjadi manusia yang pandai mengendalikan diri, berikap lebih jujur, peka terhadap lingkungan sosial dan senantiasa menjaga ukhuwwah Islamiyah dalam ikatan kebersamaan.

Aamiin yaa robbal aalamiin.

Disarikan dari Kultum Wakil Rektor III Prof. Dr. Yusran Razak, MA di Masjid Al-Jami’ah UIN Jakarta, Selasa 07 Juni 2016 Oleh Nur Jamal Sha’id.