Prof. Dr Abdul Mujib, M.Ag, M.Si

Prof. Dr Abdul Mujib, M.Ag, M.Si

Oleh: Prof. Dr Abdul Mujib, M.Ag, M.Si

“Dalam kajian psikologi pendidikan, puasa dapat menjadi sarana untuk melatih kesabaran  diri guna mencapai sesuatu yang diinginkan atau untuk membentuk diri menjadi lebih berkualitas”

Sejenak, mari kita simak kisah mengenai hikmah sabar.  Dikisahkan, pada suatu hari seseorang dari bani Israil menemui Nabi Musa AS dan bertanya, “Wahai Nabiullah, adakah di dunia ini orang yang lebih berilmu darimu?” ujarnya. Nabi Musa tersentak kaget, lalu menjawab dengan tegas, “tidak”. Tentu saja, siapa yang mampu menandingi ilmu Musa, utusan Allah kala itu. Namun, pernyataan Nabi Musa tersebut ditegur oleh Allah SWT, kemudian diberitahukan kepada Musa, bahwa orang paling pintar bukanlah dirinya, masih ada orang yang jauh lebih pintar dan memiliki ilmu yang musa tidak memilikinya, ia tidak lain adalah Nabi khidir AS.

Mendengar hal tersebut, Nabi Musa bergegas mencari dan menemui Nabi Khidir dengan niat untuk berguru padanya. Setelah Musa bertemu Khidir terjadilah kesepakatan bahwa Nabi Khidir mengizinkan Nabi Musa untuk berguru dengannya dengan satu syarat yaitu, Nabi Musa tidak boleh bertanya hingga Nabi Khidir sendiri yang menjelaskannya. Keanehan demi keanehan diperbuat Nabi Khidir, hingga saat di perjalanan Nabi Khidir membocorkn sebuah perahu yang akan digunakan  orang miskin yang akan melakukan perjalanan, membunuh anak kecil, dan memerintahkan musa merenovasi tembok sebuah rumah di desa yang pendudukanya tidak menyukai kehadiran mereka berdua.

Sepanjang perjalanan Nabi Musa terus bertanya hingga akhirnya Nabi Khidir tidak dapat menerima Nabi Musa sebagai muridnya, karena ia tidak bisa bersabar untuk tidak bertanya sepanjang perjalanan serta kejadian yang mereka lalui. Singkat cerita, akhirnya Nabi Khidir menjelaskan alasan perbuatan yang dilakukannya kepada Nabi Musa. Kemampuan Nabi Khidir yang tidak dimiliki oleh Nabi Musa adalah ilmu laduni, dimana nabi khidir mampu mengetahui akibat-akibat selanjutnya dari sebuah kejadian, ilmu laduni bisa didapatkan apabila nabi musa bisa bersabar untuk menahan diri untuk tidak bertanya.

Hikmah yang dapat kita petik adalah, ketika kita menginginkan untuk mendapatkan sebuah hal yang lebih baik, diperlukan kesabaran dalam mencapainya, dan menahan diri dari hal yang dapat menggagalkan keinginan itu.

Demikian halnya dengan puasa, kita dituntut menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa. Berbuka puasa diibaratkan sebagai tanda pencapaian seorang yang telah berhasil setelah selama sehari penuh bersabar untuk menahan dari segala yang membatalkan puasa. Tidak jauh berbeda dengan hari raya Iedul Fitri, dibutuhkan kesabaran selama 30 hari menanti dengan berpuasa dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa, sampai pada akhirnya bertemu dengan Iedul Fitri.

Dengan sabar, kita bisa mendapatkan hal yang luar biasa seperti ilmu laduni yang bisa didapatkan Nabi Musa ketika ia mampu bersabar dalam proses pembelajaran dan mematuhi perintah dan larangan yang telah disepakati sebelumnya. Kesabaran tidak serta merta hadir dalam diri individu, diperlukan latihan untuk membiasakan diri tetap tenang dalam kesabaran.

Puasa memiliki peran yang sangat penting dalam melatih kesabaran kita, seperti yang diriwayatkan dalam sebuah Hadits yang berbunyi:

… وَالصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ وَالطُّهُورُ نِصْفُ الْإِيْمَانِ

“Puasa itu setengah kesabaran dan kesucian itu setengahnya iman”.(HR. Tirmidzi: 3519).

Dengan demikian, seseorang yang menjalankan ibada puasa dengan baik dan benar, secara bersamaan ia juga mengasah kesabaran dalam dirinya. Pendidikan kesabaran pada jiwa ini hendaknya di manfaatkan oleh umat muslim untuk dipraktikan dalam kehidupan selama menjalani puasa agar terbentuk  pribadi muslim yang lebih tenang, sabar, dan tawadhu dalam perjalanan mencapai tujuan kehidupan.

Disarikan oleh Risa Dwi R dari kultum Ramadhan Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag di Masjid Fakultas Psikologi UIN Jakarta.

Share This