Psikologi Korupsi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Setiap tindakan seseorang selalu bersifat intensional, di sana ada pertimbangan dan kalkulasi untung-rugi sebelum seseorang melakukan. Termasuk ketika melakukan korupsi.

Salah satu sifat bawaan manusia itu selalu mendekati dan mengejar kesenangan (pleasure) dan menghindari penderitaan (pain). Dalam konteks korupsi, mengingat korupsi cepat mendapatkan kekayaan tanpa mesti kerja keras, secara psikologis seseorang akan mudah tergerak untuk korupsi. Terlebih lagi dengan uang banyak di tangan segera terbayang berbagai kesenangan dan kenikmatan lain yang dapat dibeli dengan uang secara konstan. Mereka berpandangan bahwa uang memang bukan segalanya, tetapi tanpa uang akan dibuat susah segalanya.

Ada ungkapan klasik, it is money that makes the world in motion. Dalam legenda Yunani kuno, pada mulanya alat tukar yang sekarang disebut uang adalah berupa kepingan logam yang didesain secara khusus untuk sesaji dewi Monata agar tidak marah dan, sebaliknya, diharapkan melimpahkan rezeki. Dari nama dewi inilah kemudian muncul kata money yang diterjemahkan menjadi uang. Dulu ketika alat tukar masih berupa logam emas yang terjadi adalah perampokan, bukannya korupsi berupa angka nominal melalui teknologi komputer dalam waktu yang amat cepat dengan prosedur yang dibuat berbelit dan berliku agar sulit ditelusuri oleh pengawas.

Ketika jumlah penduduk bumi sudah di atas 5 miliar, serta muncul saling ketergantungan ekonomi dan perdagangan antarwarga bangsa, alat nilai tukar paling praktis adalah lembaran uang seperti kita saksikan sekarang. Bahkan, sekarang tak mesti membawa uang kalau bepergian dan melakukan transaksi bisnis, cukup dengan kartu kredit. Ini sebuah revolusi besar dalam sejarah peradaban manusia. Hanya saja, ketika uang jadi komoditas, bahkan menyaingi dan mengungguli komoditas riil, malapetaka sosial tak terelakkan. Monopoli, manipulasi, dan korupsi serta capital flight keuangan sangat mudah dilakukan.

Karena kekayaan saat ini berupa uang, maka yang dianggap kaya adalah mereka yang tabungannya banyak, sekalipun uangnya tidak produktif. Pusat kekayaan tidak lagi di desa dengan lahan sawah yang luas, tetapi di dunia perbankan dan kantor pajak karena di situ terakumulasi uang triliunan rupiah. Lebih celaka lagi jika orang merasa kaya dengan uangnya yang banyak, tetapi disimpan di bank asing. Bukankah uang laksana darah bagi tubuh? Kalau disimpan di bank asing, sama halnya mengisap darah rakyat sendiri sehingga mereka itu tak ubahnya sebagai gerombolan economical vampire.

Musuh rakyat dan negara

Kalau korupsi dilakukan oleh sekelompok kecil pejabat negara ataupun perusahaan dalam jumlah yang kecil pula, dampaknya tidak begitu terasa. Akan tetapi, perlu diingat bahwa sebuah bendungan raksasa akan jebol bermula dari kebocoran yang kecil dan tidak segera diatasi. Begitu pun sebuah bangunan besar akan habis termakan api yang dimulai oleh jilatan api yang juga kecil.

Sungguh menjadi problem serius bagi bangsa ini karena yang melakukan korupsi saat ini tidak lagi pegawai rendahan, tetapi mereka yang kedudukan dan pendidikannya tinggi serta gaya hidupnya sangat mewah sehingga korupsi berlangsung secara sistemik dan jumlahnya miliaran. Ibarat ulat, yang dimakan bukan saja daun, dahan, dan buahnya, melainkan batang tubuhnya yang lama-kelamaan akan menjalar ke akar kehidupan bernegara. Kata korupsi sendiri berasal dari bahasa Latin yang bermakna menghancurkan. Jadi para koruptor memang sudah berhasil menghancurkan martabat dan wibawa pemerintah serta bangkrutlah kekayaan negara dan bangsa.

Jadi, masyarakat dan pemerintah mestinya menempatkan para koruptor sebagai kelompok subversi musuh rakyat dan negara yang mesti ditindak tegas, jika perlu dihukum mati karena negara dan rakyat banyak yang menjadi kurban. Daya rusak tindakan korupsinya jauh lebih dahsyat ketimbang teroris pelaku bom bunuh diri. Karena daya rusak korupsi berlangsung sistemik dan menghancurkan tubuh birokrasi negara serta mental pejabat, rakyat mesti marah dan bangkit melawan koruptor. Jika perlu segera dibuat undang- undang pembuktian kekayaan terbalik terhadap pejabat negara yang strategis. Masih banyak putra bangsa yang ingin mengabdi untuk melayani rakyat dengan gaji di bawah Rp 50 juta per bulan selama lima tahun.

Di kalangan sufi terdapat keyakinan kuat bahwa harta haram itu ibarat madu yang akan mengundang semut, maksudnya syaitan, untuk berkerumun. Artinya, jika rezeki yang masuk aliran darah adalah haram, seluruh aktivitas hidupnya akan mudah tergelincir ke jalan syaitan. Makna syaitan mirip dengan kata korupsi yang berasal dari bahasa Latin corrumpere, yaitu menghancurkan. Syaitan adalah energi tidak terkendali sehingga menimbulkan daya destruktif.

Jadi apa yang dilakukan koruptor sesungguhnya menghancurkan dirinya, keluarganya, bangsanya, dan rakyatnya. Bangsa dan negara yang sehat dan bermartabat pasti akan membenci korupsi. Bahkan, negara komunis dan sekuler yang tidak bertuhan pun antikorupsi demi menjaga masyarakatnya agar sehat dan sejahtera. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah, bahwa misi utama risalahnya adalah membentuk akhlak yang terpuji. Orang yang mengaku beragama, tetapi membuat orang lain sengsara, dikatakan mendustai agama dan Tuhan. Begitu firman Allah. Nilai hidup macam apakah yang akan diwariskan kepada anak dan masyarakat jika hidupnya bangga bergelimang korupsi?

Psikologi Korupsi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Setiap tindakan seseorang selalu bersifat intensional, di sana ada pertimbangan dan kalkulasi untung-rugi sebelum seseorang melakukan. Termasuk ketika melakukan korupsi.

Salah satu sifat bawaan manusia itu selalu mendekati dan mengejar kesenangan (pleasure) dan menghindari penderitaan (pain). Dalam konteks korupsi, mengingat korupsi cepat mendapatkan kekayaan tanpa mesti kerja keras, secara psikologis seseorang akan mudah tergerak untuk korupsi. Terlebih lagi dengan uang banyak di tangan segera terbayang berbagai kesenangan dan kenikmatan lain yang dapat dibeli dengan uang secara konstan. Mereka berpandangan bahwa uang memang bukan segalanya, tetapi tanpa uang akan dibuat susah segalanya.

Ada ungkapan klasik, it is money that makes the world in motion. Dalam legenda Yunani kuno, pada mulanya alat tukar yang sekarang disebut uang adalah berupa kepingan logam yang didesain secara khusus untuk sesaji dewi Monata agar tidak marah dan, sebaliknya, diharapkan melimpahkan rezeki. Dari nama dewi inilah kemudian muncul kata money yang diterjemahkan menjadi uang. Dulu ketika alat tukar masih berupa logam emas yang terjadi adalah perampokan, bukannya korupsi berupa angka nominal melalui teknologi komputer dalam waktu yang amat cepat dengan prosedur yang dibuat berbelit dan berliku agar sulit ditelusuri oleh pengawas.

Ketika jumlah penduduk bumi sudah di atas 5 miliar, serta muncul saling ketergantungan ekonomi dan perdagangan antarwarga bangsa, alat nilai tukar paling praktis adalah lembaran uang seperti kita saksikan sekarang. Bahkan, sekarang tak mesti membawa uang kalau bepergian dan melakukan transaksi bisnis, cukup dengan kartu kredit. Ini sebuah revolusi besar dalam sejarah peradaban manusia. Hanya saja, ketika uang jadi komoditas, bahkan menyaingi dan mengungguli komoditas riil, malapetaka sosial tak terelakkan. Monopoli, manipulasi, dan korupsi serta capital flight keuangan sangat mudah dilakukan.

Karena kekayaan saat ini berupa uang, maka yang dianggap kaya adalah mereka yang tabungannya banyak, sekalipun uangnya tidak produktif. Pusat kekayaan tidak lagi di desa dengan lahan sawah yang luas, tetapi di dunia perbankan dan kantor pajak karena di situ terakumulasi uang triliunan rupiah. Lebih celaka lagi jika orang merasa kaya dengan uangnya yang banyak, tetapi disimpan di bank asing. Bukankah uang laksana darah bagi tubuh? Kalau disimpan di bank asing, sama halnya mengisap darah rakyat sendiri sehingga mereka itu tak ubahnya sebagai gerombolan economical vampire.

Musuh rakyat dan negara

Kalau korupsi dilakukan oleh sekelompok kecil pejabat negara ataupun perusahaan dalam jumlah yang kecil pula, dampaknya tidak begitu terasa. Akan tetapi, perlu diingat bahwa sebuah bendungan raksasa akan jebol bermula dari kebocoran yang kecil dan tidak segera diatasi. Begitu pun sebuah bangunan besar akan habis termakan api yang dimulai oleh jilatan api yang juga kecil.

Sungguh menjadi problem serius bagi bangsa ini karena yang melakukan korupsi saat ini tidak lagi pegawai rendahan, tetapi mereka yang kedudukan dan pendidikannya tinggi serta gaya hidupnya sangat mewah sehingga korupsi berlangsung secara sistemik dan jumlahnya miliaran. Ibarat ulat, yang dimakan bukan saja daun, dahan, dan buahnya, melainkan batang tubuhnya yang lama-kelamaan akan menjalar ke akar kehidupan bernegara. Kata korupsi sendiri berasal dari bahasa Latin yang bermakna menghancurkan. Jadi para koruptor memang sudah berhasil menghancurkan martabat dan wibawa pemerintah serta bangkrutlah kekayaan negara dan bangsa.

Jadi, masyarakat dan pemerintah mestinya menempatkan para koruptor sebagai kelompok subversi musuh rakyat dan negara yang mesti ditindak tegas, jika perlu dihukum mati karena negara dan rakyat banyak yang menjadi kurban. Daya rusak tindakan korupsinya jauh lebih dahsyat ketimbang teroris pelaku bom bunuh diri. Karena daya rusak korupsi berlangsung sistemik dan menghancurkan tubuh birokrasi negara serta mental pejabat, rakyat mesti marah dan bangkit melawan koruptor. Jika perlu segera dibuat undang- undang pembuktian kekayaan terbalik terhadap pejabat negara yang strategis. Masih banyak putra bangsa yang ingin mengabdi untuk melayani rakyat dengan gaji di bawah Rp 50 juta per bulan selama lima tahun.

Di kalangan sufi terdapat keyakinan kuat bahwa harta haram itu ibarat madu yang akan mengundang semut, maksudnya syaitan, untuk berkerumun. Artinya, jika rezeki yang masuk aliran darah adalah haram, seluruh aktivitas hidupnya akan mudah tergelincir ke jalan syaitan. Makna syaitan mirip dengan kata korupsi yang berasal dari bahasa Latin corrumpere, yaitu menghancurkan. Syaitan adalah energi tidak terkendali sehingga menimbulkan daya destruktif.

Jadi apa yang dilakukan koruptor sesungguhnya menghancurkan dirinya, keluarganya, bangsanya, dan rakyatnya. Bangsa dan negara yang sehat dan bermartabat pasti akan membenci korupsi. Bahkan, negara komunis dan sekuler yang tidak bertuhan pun antikorupsi demi menjaga masyarakatnya agar sehat dan sejahtera. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah, bahwa misi utama risalahnya adalah membentuk akhlak yang terpuji. Orang yang mengaku beragama, tetapi membuat orang lain sengsara, dikatakan mendustai agama dan Tuhan. Begitu firman Allah. Nilai hidup macam apakah yang akan diwariskan kepada anak dan masyarakat jika hidupnya bangga bergelimang korupsi?

Psikologi Korupsi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

BAGI pelakunya, tindakan apa pun, entah itu baik atau buruk, mesti memiliki rasionalitas tersendiri mengapa hal itu dilakukan?


Setiap orang ingin mencari pembenaran terhadap apa yang dilakukan dan berdamai dengan dirinya sendiri. Contoh yang terdengar ekstrem adalah pengakuan seorang pelacur. Dia merasa terpaksa melakukannya karena sudah putus asa, tidak mampu mencari penghasilan lain, sementara dia mesti membiayai pendidikan anaknya yang tinggal di kampung bersama neneknya.

Dia ingin agar anaknya tumbuh menjadi anak yang pintar dan saleh, rajin sembahyang danmengaji,jangan sampai bergelimang dosa seperti dirinya. Ibunya mencari nafkah dengan melacur sembari berharap (dan yakin) semoga dosa-dosa yang dilakukannya akan diringankan timbangannya di akhirat kelak oleh kesalehan anaknya.

Cerita di atas adalah contoh sederhana tentang rasionalitas sebuah tindakan. Bahwa setiap tindakan pasti ada upaya penjelasan dan pembenaran dari pelakunya sehingga yang bersangkutan merasa damai dengan dirinya sendiri meski yang bersangkutan tahu dan sadar bahwa tindakannya melawan norma susila, hukum, dan agama.

Dalam wacana normatif keagamaan,tentu saja sangat mudah membuat kategori dan penghakiman hitam-putih, antara halal dan haram, baik dan buruk, benar dan salah. Demikian juga halnya dengan tindakan korupsi. Dari sudut pandang hukum, korupsi, sebagaimana juga mencuri,adalah mengambil sesuatu yang bukan hak miliknya sehingga merugikan pihak lain.

Pertanyaan yang selalu muncul, mengapa orang yang sudah berkecukupan, bahkan kaya secara materi, masih juga mau melakukankorupsi? Mengapa korupsi yang jelas dan tegas dilarang agama dan pelakunya sangat sadar dan paham akan larangan itu masih juga dilakukan? Pertanyaan ini bisa dianalisis dari berbagai sudut pandang, tapi tulisan ini membatasi untuk mengulasnya dari sisi psikologis.

Sangat Fluktuatif

Setiap orang sangat potensial tergoda dan terpeleset untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh nalar sehat dan agama. Kondisi kejiwaan manusia sungguh sangat rapuh dan fluktuatif, selalu bergelombang naik dan turun, secara permanen. Itulah yang dalam bahasa Inggris disebut e-motion dan dalam bahasa Arab disebut qalbu.

Maknanya sama, yaitu energi batin yang selalu bergerak (motion) dan pendulumnya bergerak ke sanake mari (qalbu). Sedemikian peka dan sangat mudahnya terpengaruh sehingga suasana kejiwaan seseorang dari waktu ke waktu cepat sekali berubah mengingat di mana pun dan kapan pun berada selalu dihadapkan pada situasi dan stimulus yang mesti direspons, sadar ataupun tidak sadar.

Coba saja amati dan catat perubahan emosi Anda dari pagi bangun tidur sampai hendak tidur,apakah Anda lebih banyak merasa senang dan bahagia ataukah sebaliknya? Bahkan ketika membaca tulisan ini pun emosi Anda terpengaruh. Ketika berada di tengah keramaian, ada yang merasa tidak senang dengan alasan bising.

Ketika dalam suasana sepi, ada yang mengeluh karena kesepian. Mereka yang kaya berlimpah harta, bingung dan gelisah karena kekayaannya. Sebaliknya, yang miskin selalu mengeluh karena kemiskinannya. Yang memiliki jabatan tinggi selalu dibayangi kecemasan menghadapi saat berakhirnya kekuasaan yang digenggamnya.

Yang masih di bawahnya, hati penasaran ingin sekali merasakan posisi di atasnya lagi. Lalu, saat ajal tiba, sederet daftar keinginan masih melekat di hati, tapi jatah usia sudah habis. Demikianlah, kita semua dilengkapi pikiran untuk merancang skema hidup yang lurus dan benar, lalu hati dan emosi sebagai motor penggerak, dan tangan (hand) untuk melaksanakan keputusan head dan dorongan heart.

Problemnya, ketiga komponen utama tadi tidak selalu sinkron dalam menopang kehidupan ini.Komponen hati yang memiliki nafsu, keinginan, dan selalu mengejar kesenangan (pleasure) sering jalan sendiri, tidak mau mendengarkan perintah dan peringatan nalar sehat.

Tindakan nekat tanpa pertimbangan nalar dan moral mudah sekali diamati pada mereka yang sudah kecanduan narkoba, minuman keras, dan sejenisnya semisal rokok. Jika ditanya secara rasional, semuanya pasti menjawab kebiasaan itu jelek, merusak hidup, serta merepotkan keluarga dan masyarakat.

Namun dia tak sanggup menolak dan mengendalikan emosinya yang sudah termanjakan oleh kesenangan sesaat yang telah menjajah jiwanya. Mari kembali pada persoalan korupsi.Mengapa mereka masih juga melakukan korupsi,padahal pendidikannya tinggi, tahu adanya Undang-Undang Antikorupsi, harta sudah berkecukupan, jabatan cukup tinggi,juga mengaku taat menjalakan ritual beragama?

Jiwa yang Sakit dan Miskin

Tindakan seseorang selalu didorong dan distimulasi oleh harapan dan kalkulasi yang menguntungkan serta menyenangkan meski secara sosial bisa saja terkutuk. Secara sosial-psikologis, lembaga perkawinan, misalnya, merupakan solusi untuk mendamaikan konflik antara nafsu pribadi dan norma sosial di mana dorongan seksual yang pada dasarnya hanya mengejar pleasure mesti takluk di hadapan etika sosial agar ketenteraman masyarakat terjaga dan garis keturunan seseorang menjadi jelas.

Nafsu seks dan nafsu untuk menumpuk harta memiliki kemiripan.Yang dikejar adalah kesenangan dan kepuasan emosional-materialyangtidak mengenal batas dan sering merusak norma sosial dan agama.

Ketika seseorang tidak mampu mengendalikan jiwa sehingga dirinya lebih didominasi oleh dorongan nafsu untuk mengejar kesenangan semata (for the sake of pleasure),sesungguhnya dia terjebak hidupnya pada level hewani (animality), gagal menjadikan nilai dan kualitas insani (humanity) sebagai pemimpin (leader) dalam kehidupannya.

Pribadi yang demikian itu, meski lahiriahnya kaya, sesungguhnya jiwanya miskin. Meski pendidikan dan jabatan tinggi, orientasi hidupnya rendah. Meski tampaknya gagah dan energik, jiwanya sakit.Jadi,orang yang senang melakukan korupsi jiwanya sakit, tidak sanggup menaikkan kualitas dan komitmen hidupnya pada level lebih tinggi, yaitu pada tataran humanity yang ditandai dengan sikap selalu mengutamakan nalar sehat dan setia pada bisikan nurani.

Bagaimana membuat jiwa sehat dan selalu setia pada nalar sehat dan nilai-nilai moral? Banyak jalan mesti ditempuh. Pertama, faktor pendidikan dan pembiasaan keluarga sejak kecil sangat signifikan pengaruhnya pada perkembangan pribadi setiap orang.

Keluarga dan pendidikan sekolah yang selalu membiasakan dan menghargai kejujuran sehingga anak akan merasa salah dan jiwanya tersiksa kalau tidak jujur, lama-kelamaan akan membentuk pribadi jujur.Ketika berbuat curang, rasanya tidak enak dan tidak percaya diri sebagaimana berangkat sekolah tidak mandi dan gosok gigi.

Kedua, sejak dini tanamkan nilai,pengertian dan contoh nyata orang-orang sukses berkat ilmu, kerja keras, dan integritas.Bahwa peradaban ini dibangun oleh mereka yang memiliki integritas, sementara para koruptor biasanya justru malah menghancurkannya. Ketiga, tanamkan pada anak-anak sembari diberi pengertian bahwa korupsi itu hanya untuk memenuhi nafsu pribadi yang bersifat sesaat, tapi ujungnya akan merugikan diri dan orang lain.

Bayangkan, mereka yang korupsi waktu di jalan, ketika lampu masih merah atau kuning lalu seseorang menyerobot masuk, sesungguhnya orang itu telah mengambil hak orang lain dan akibatnya sangat berbahaya bagi dirinya dan orang lain. Keempat, secara psikologis tindakan yang masuk kategori dosa umumnya merupakan akibat dari tindakan yang mengejar kenikmatan sesaat, tapi merusak investasi kebaikan yang lebih besar di masa depan.

Kelima,korupsi selalu merupakan pelanggaran sosial dan dampak kerusakannya juga bersifat sosial-horizontal sehingga penyelesaian dan pertobatannya juga berdimensi sosial, tidak selesai dengan meloncat berupa penyelesaian vertikal, misalnya dengan melakukan umrah atau haji. Dosa kemanusiaan mesti ditebus dengan pertobatan kemanusiaan.

Oleh karena itu, fakta sosial menunjukkan, sebuah negara meskipun sekuler, tidak beragama, jika pendidikan dan ekonominya bagus serta hukum ditegakkan, lebih sanggup mengurangi korupsi ketimbang masyarakat yang agamais,tapi miskin komitmen sosial dan kemanusiaan. Rasanya pantas kasihan melihat orang yang lahiriahnya kaya,pintar,dan jabatannya tinggi, tetapi ternyata jiwanya miskin dan orientasi hidupnya rendah.(*)


Tulilsan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 16 Januari 2009


Psikologi Korupsi

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

BAGI pelakunya, tindakan apa pun, entah itu baik atau buruk, mesti memiliki rasionalitas tersendiri mengapa hal itu dilakukan?


Setiap orang ingin mencari pembenaran terhadap apa yang dilakukan dan berdamai dengan dirinya sendiri. Contoh yang terdengar ekstrem adalah pengakuan seorang pelacur. Dia merasa terpaksa melakukannya karena sudah putus asa, tidak mampu mencari penghasilan lain, sementara dia mesti membiayai pendidikan anaknya yang tinggal di kampung bersama neneknya.

Dia ingin agar anaknya tumbuh menjadi anak yang pintar dan saleh, rajin sembahyang danmengaji,jangan sampai bergelimang dosa seperti dirinya. Ibunya mencari nafkah dengan melacur sembari berharap (dan yakin) semoga dosa-dosa yang dilakukannya akan diringankan timbangannya di akhirat kelak oleh kesalehan anaknya.

Cerita di atas adalah contoh sederhana tentang rasionalitas sebuah tindakan. Bahwa setiap tindakan pasti ada upaya penjelasan dan pembenaran dari pelakunya sehingga yang bersangkutan merasa damai dengan dirinya sendiri meski yang bersangkutan tahu dan sadar bahwa tindakannya melawan norma susila, hukum, dan agama.

Dalam wacana normatif keagamaan,tentu saja sangat mudah membuat kategori dan penghakiman hitam-putih, antara halal dan haram, baik dan buruk, benar dan salah. Demikian juga halnya dengan tindakan korupsi. Dari sudut pandang hukum, korupsi, sebagaimana juga mencuri,adalah mengambil sesuatu yang bukan hak miliknya sehingga merugikan pihak lain.

Pertanyaan yang selalu muncul, mengapa orang yang sudah berkecukupan, bahkan kaya secara materi, masih juga mau melakukankorupsi? Mengapa korupsi yang jelas dan tegas dilarang agama dan pelakunya sangat sadar dan paham akan larangan itu masih juga dilakukan? Pertanyaan ini bisa dianalisis dari berbagai sudut pandang, tapi tulisan ini membatasi untuk mengulasnya dari sisi psikologis.

Sangat Fluktuatif

Setiap orang sangat potensial tergoda dan terpeleset untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh nalar sehat dan agama. Kondisi kejiwaan manusia sungguh sangat rapuh dan fluktuatif, selalu bergelombang naik dan turun, secara permanen. Itulah yang dalam bahasa Inggris disebut e-motion dan dalam bahasa Arab disebut qalbu.

Maknanya sama, yaitu energi batin yang selalu bergerak (motion) dan pendulumnya bergerak ke sanake mari (qalbu). Sedemikian peka dan sangat mudahnya terpengaruh sehingga suasana kejiwaan seseorang dari waktu ke waktu cepat sekali berubah mengingat di mana pun dan kapan pun berada selalu dihadapkan pada situasi dan stimulus yang mesti direspons, sadar ataupun tidak sadar.

Coba saja amati dan catat perubahan emosi Anda dari pagi bangun tidur sampai hendak tidur,apakah Anda lebih banyak merasa senang dan bahagia ataukah sebaliknya? Bahkan ketika membaca tulisan ini pun emosi Anda terpengaruh. Ketika berada di tengah keramaian, ada yang merasa tidak senang dengan alasan bising.

Ketika dalam suasana sepi, ada yang mengeluh karena kesepian. Mereka yang kaya berlimpah harta, bingung dan gelisah karena kekayaannya. Sebaliknya, yang miskin selalu mengeluh karena kemiskinannya. Yang memiliki jabatan tinggi selalu dibayangi kecemasan menghadapi saat berakhirnya kekuasaan yang digenggamnya.

Yang masih di bawahnya, hati penasaran ingin sekali merasakan posisi di atasnya lagi. Lalu, saat ajal tiba, sederet daftar keinginan masih melekat di hati, tapi jatah usia sudah habis. Demikianlah, kita semua dilengkapi pikiran untuk merancang skema hidup yang lurus dan benar, lalu hati dan emosi sebagai motor penggerak, dan tangan (hand) untuk melaksanakan keputusan head dan dorongan heart.

Problemnya, ketiga komponen utama tadi tidak selalu sinkron dalam menopang kehidupan ini.Komponen hati yang memiliki nafsu, keinginan, dan selalu mengejar kesenangan (pleasure) sering jalan sendiri, tidak mau mendengarkan perintah dan peringatan nalar sehat.

Tindakan nekat tanpa pertimbangan nalar dan moral mudah sekali diamati pada mereka yang sudah kecanduan narkoba, minuman keras, dan sejenisnya semisal rokok. Jika ditanya secara rasional, semuanya pasti menjawab kebiasaan itu jelek, merusak hidup, serta merepotkan keluarga dan masyarakat.

Namun dia tak sanggup menolak dan mengendalikan emosinya yang sudah termanjakan oleh kesenangan sesaat yang telah menjajah jiwanya. Mari kembali pada persoalan korupsi.Mengapa mereka masih juga melakukan korupsi,padahal pendidikannya tinggi, tahu adanya Undang-Undang Antikorupsi, harta sudah berkecukupan, jabatan cukup tinggi,juga mengaku taat menjalakan ritual beragama?

Jiwa yang Sakit dan Miskin

Tindakan seseorang selalu didorong dan distimulasi oleh harapan dan kalkulasi yang menguntungkan serta menyenangkan meski secara sosial bisa saja terkutuk. Secara sosial-psikologis, lembaga perkawinan, misalnya, merupakan solusi untuk mendamaikan konflik antara nafsu pribadi dan norma sosial di mana dorongan seksual yang pada dasarnya hanya mengejar pleasure mesti takluk di hadapan etika sosial agar ketenteraman masyarakat terjaga dan garis keturunan seseorang menjadi jelas.

Nafsu seks dan nafsu untuk menumpuk harta memiliki kemiripan.Yang dikejar adalah kesenangan dan kepuasan emosional-materialyangtidak mengenal batas dan sering merusak norma sosial dan agama.

Ketika seseorang tidak mampu mengendalikan jiwa sehingga dirinya lebih didominasi oleh dorongan nafsu untuk mengejar kesenangan semata (for the sake of pleasure),sesungguhnya dia terjebak hidupnya pada level hewani (animality), gagal menjadikan nilai dan kualitas insani (humanity) sebagai pemimpin (leader) dalam kehidupannya.

Pribadi yang demikian itu, meski lahiriahnya kaya, sesungguhnya jiwanya miskin. Meski pendidikan dan jabatan tinggi, orientasi hidupnya rendah. Meski tampaknya gagah dan energik, jiwanya sakit.Jadi,orang yang senang melakukan korupsi jiwanya sakit, tidak sanggup menaikkan kualitas dan komitmen hidupnya pada level lebih tinggi, yaitu pada tataran humanity yang ditandai dengan sikap selalu mengutamakan nalar sehat dan setia pada bisikan nurani.

Bagaimana membuat jiwa sehat dan selalu setia pada nalar sehat dan nilai-nilai moral? Banyak jalan mesti ditempuh. Pertama, faktor pendidikan dan pembiasaan keluarga sejak kecil sangat signifikan pengaruhnya pada perkembangan pribadi setiap orang.

Keluarga dan pendidikan sekolah yang selalu membiasakan dan menghargai kejujuran sehingga anak akan merasa salah dan jiwanya tersiksa kalau tidak jujur, lama-kelamaan akan membentuk pribadi jujur.Ketika berbuat curang, rasanya tidak enak dan tidak percaya diri sebagaimana berangkat sekolah tidak mandi dan gosok gigi.

Kedua, sejak dini tanamkan nilai,pengertian dan contoh nyata orang-orang sukses berkat ilmu, kerja keras, dan integritas.Bahwa peradaban ini dibangun oleh mereka yang memiliki integritas, sementara para koruptor biasanya justru malah menghancurkannya. Ketiga, tanamkan pada anak-anak sembari diberi pengertian bahwa korupsi itu hanya untuk memenuhi nafsu pribadi yang bersifat sesaat, tapi ujungnya akan merugikan diri dan orang lain.

Bayangkan, mereka yang korupsi waktu di jalan, ketika lampu masih merah atau kuning lalu seseorang menyerobot masuk, sesungguhnya orang itu telah mengambil hak orang lain dan akibatnya sangat berbahaya bagi dirinya dan orang lain. Keempat, secara psikologis tindakan yang masuk kategori dosa umumnya merupakan akibat dari tindakan yang mengejar kenikmatan sesaat, tapi merusak investasi kebaikan yang lebih besar di masa depan.

Kelima,korupsi selalu merupakan pelanggaran sosial dan dampak kerusakannya juga bersifat sosial-horizontal sehingga penyelesaian dan pertobatannya juga berdimensi sosial, tidak selesai dengan meloncat berupa penyelesaian vertikal, misalnya dengan melakukan umrah atau haji. Dosa kemanusiaan mesti ditebus dengan pertobatan kemanusiaan.

Oleh karena itu, fakta sosial menunjukkan, sebuah negara meskipun sekuler, tidak beragama, jika pendidikan dan ekonominya bagus serta hukum ditegakkan, lebih sanggup mengurangi korupsi ketimbang masyarakat yang agamais,tapi miskin komitmen sosial dan kemanusiaan. Rasanya pantas kasihan melihat orang yang lahiriahnya kaya,pintar,dan jabatannya tinggi, tetapi ternyata jiwanya miskin dan orientasi hidupnya rendah.(*)


Tulilsan ini pernah dimuat di Seputar Indonesia, 16 Januari 2009