Psikologi Islam Mengitegrasikan Ilmu dan Iman

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Psikologi Islam kini telah menjadi salah satu disiplin ilmu yang menantang. Tak heran jika kini mulai banyak perguruan tinggi yang menjadikan psikologi Islam sebagai salah satu mata kuliah di fakultas-fakultas psikologinya. Bahkan, sejak beberapa tahun lalu, Fakultas Psikologi UIN Jakarta telah mengangkat dua Guru Besar Psikologi Islam, salah satunya adalah Prof Dr Abdul Mujib. Bagaimana konsep psikologi Islam, apa distingsinya dengan psikologi “sekuler” dan bagaimana implementasinya di Fakultas Psikologi UIN Jakarta? Untuk mengetahuinya, Jumat (17/12), Iradatul Aini dari UIN Online mewawancari pakar psikologi Islam di Indonesia itu. Berikut petikannya.

Apa yang dimaksud dengan psikologi Islam?

Psikologi Islam adalah satu pendekatan studi dalam memahami kejiwaan dan perilaku manusia yang berdasarkan konsep tauhid, dengan cara integrasi antara ilmu dan iman. Jangan sampai hati beriman kepada Allah tetapi cara atau pola berpikirnya tidak menopangnya. Artinya, kehadiran Psikologi Islam untuk mengintegrasikan pada semua hal. Karena sebagaimana diketahui, psikologi (sebagai disiplin ilmu) muncul bukan dari orang Islam tapi dari orang Barat dan karya-karya mereka telah banyak memberi kontribusi pada semua bidang kehidupan, sekalipun cara berpikirnya sekuler. Justru kehadiran psikologi Islam memberi nuansa transenden.

Bagaimana perkembangan psikologi Islam dalam pengamatan Anda?

Ketika psikologi sekuler digunakan untuk memahami perilaku umat Islam, maka akan terjadi banyak masalah. Psikologi dipahami bukan sebagi ilmu jiwa, tetapi saat ini dipahami sebagai ilmu perilaku organisme. Sementara dalam Islam, jika merujuk pada tokoh seperti Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih dan al-Ghazali, psikologi merupakan bagian dari filsafat. Karena itu, dalam bahasa Arab, psikologi identik dengan ilmu nafs. Lantas, kenapa ilmu jiwa tidak menjadi bagian dari dalam psikologi modern, karena jiwa tidak bisa dipelajari. Sehingga di Barat, dengan pola berpikirnya yang positivistik itu tidak memasukkan jiwa sebagai bagian dari kajian psikologi, makannya psikologi dimaknai sebagai ilmu perilaku. Karena perilaku bisa dieksprimentasi dan eksplorasi secara empiris sedangkan jiwa tidak bisa. Itulah sejarah perkembangan Psikologi Islam, yang hadir untuk mengembalikan psikologi dari akarnya.

Apa perbedaan psikologi Islam terhadap ilmu psikologi?

Saya kira cukup banyak perbedaannya, meski banyak teori-teori Barat yang bisa menjadi bagian dari Psikologi. Satu saat bersebrangan, tetapi saat yang lain saling komplementer. Misalnya, karena psikologi tidak dipandang sebagai ilmu jiwa tetapi sebagi ilmu perilaku, ada banyak eksperimen dalam psikologi yang menggunakan hewan sebagai objek penelitian. Karena hewan dinilai sebagai makhluk yang tidak berjiwa sebagai mana manusia. Lalu, mereka melakukan eksprimen pada pada binatang; anjing, monyet, kelinci, dan lain-lain yang hasil penelitiannya diterapkan untuk manusia. Dalam konteks ini saya kira tidak bisa dibenarkan karena dinamika manusia dan hewan itu berbeda, tidak sama persis.

Konon, ada sekolah hutan, sekolah hutan itu peserta didiknya terdiri dari tiga jenis; ada monyet, ikan, dan burung. Kurikulumnya berkisar loncat, renang dan terbang. Lalu dia membuat eksperimen untuk menerapkan kurikulum tersebut terhadap ketiga hewan itu. Lalu apa yang terjadi? Ternyata ikan yang biasa renang, diajari loncat dan renang, malah tidak optimal hasilnya, karena begitu ke darat ikan bisa mati. Burung yang biasa terbang, diajari renang dan sayapnya terkena air sehingga tidak bisa terbang lagi dan mati dimakan ikan piranha. Sedangkan monyet yang biasa loncat diajari terbang dan renang, lama kelamaan ia akan bermasalah karena bukan alamnya.

Kesimpulan dari eksperimen itu adalah didiklah anakmu sesuai dengan bakat aslinya. Memang kesimpulan ini tidak salah total, tetapi apa seperti itu. Mungkinkah dinamika hewan disamakan dengan manusia. Manusia itu unik, karena jika ia diajarkan 1, 2, sampai 10 kemudian dia bisa mengembangkan ke perkalian, pengurangan, penambahan, dan sebagainya, sedangkan hewan tidak bisa seperti itu. Walaupun manusia tidak bisa renang, dengan akalnya ia bisa menciptakan kapal selam. Manusia tidak bisa terbang, dengan akalnya bisa mengembangkan teknologi pesawat. Psikologi terlalu menyederhanakan keunikan manusia, bahkan metaempiris pun tidak dimasukkan menjadi bagiannya.

Sedangkan dalam Islam, jiwa bisa dipelajari. Allah menciptakan manusia juga menurunkan kitab suci. Dalam kitab suci itu banyak pembahasan tentang jiwa. Jiwa tidak harus diketahui melalui pendekatan empiris, tapi bisa juga dengan cara membaca buku panduan atau pedoman dalam teks al-Quran dan Sunnah. Filosofisnya seperti itu, jadi kenapa kemudian orang Islam itu perlu mengembangkan psikologi Islam.

Adakah contoh empiris yang mendukung uraian di atas?

Memang uraian tadi masih pada tataran falsafi dan teoritis. Namun banyak juga masalah pada tataran praktis. Contoh begini, saya pernah mengisi suatu seminar, ada satu mahasiswi yang datang pada saya, “Pak, saya sebel pada dosen, suatu saat dia datang ke kelas memberikan tugas kepada saya dan teman-teman untuk menggambar. Dosen bilang “Gambar diri Anda!” Lalu saya menggambar. Karena saya memakai jilbab, makanya saya menggambar dengan memakai jilbab. Saya kasih hasilnya itu pada dosen tersebut. Lalu, saya dikasih nilai empat, itu pun dengan tinta merah, padahal teman-teman yang lain nilanya bagus-bagus.

Saya nanya pada dosen tersebut, di mana letak kesalahan gambar saya ini? Ini kan mencerminkan diri saya. Tanpa berdosa, dosen tersebut bilang “Gambar Anda adalah gambar yang dungu. Karena Anda tidak memperlihatkan telinga Anda. Karikatur yang baik adalah ketika memperlihatkan telinga, karena hal itu menandakan ia mau menerima kritik dan saran. Kalau kamu tidak mau memperlihatkan telinga, berarti kamu dungu tidak mau mendengar kritikan.” Menurut saya, ini perspektifnya sudah berbeda, yang satu beranggapan bahwa memakai jilbab bagian dari self image sebagai seorang muslimah, sementara yang lain menganggap gambar yang menutup telinga sebagai gambar yang dungu. Ini pada aspek praktis.

Makanya sekarang kita ingin mencoba bagaimana psikologi bersanding dengan ajaran agama. Apalagi kita ini orang beragama, jangan sampai psikologi yang sekuler masuk pada wilayah orang yang beragama yang nantinya menjadikan kesimpangsiuran interpretasi.

Banyak orang menyamakan psikologi agama dan Psikologi Islam, padahal itu berbeda. Kalau psikologi agama itu berbicara pada perilaku orang beragama, seperti perilaku fundamentalis dan moderat pada agama dan kaitannya dengan perilaku sehari. Psikologi Islam itu satu madzhab tersendiri. Madzhab di mana kalau di psikologi itu ada madzhab psikoanalisis yang menitikberatkan kajiannya pada analisis kesadaran manusia, psikobehavioristik menitikberatkan pada perilaku yang nampak dan psikohumanistik menfokuskan kajiannya pada potensi manusia, tanpa melibatkan konsep Tuhan dalam kehidupan manusia. Justru Psikologi Islam hadir dengan memberikan nilai aksiologis transendental.

Apa keunikan psikologi Islam dibanding dengan psikologi lainnya?

Ya keunikannya jelas, tentang cara pandang yang berbeda interpretasinya. Misalnya, tentang penyakit, orang psikoanalisis akan menjawab bahwa sumber penyakit berawal dari konflik-konflik batin dan keinginan-keinginan yang tidak teraktualisakan, sehingga menjadi konflik dan kecemasan. Lain dengan pandangan psikologi Islam yang melihat penyakit kejiwaan tidak semata-mata karena gangguan neurosis dan psikosis, tetapi juga melibatkan aspek dosa. Makanya dosa menurut Nabi adalah apa yang membimbangkan dalam hatimu dan kamu benci jika perbuatanmu diketahui oleh orang lain. Jadi dosa itu di dalamnya ada dua unsur psikopatalogis. Selain karena dimurkai oleh Allah, dosa juga mengandung unsur simptomatis (seperti bimbang, cemas dan gelisah) dan sulit menyesuaikan diri dengan yang lain.

Psikologi Islam memandang bahwa iri hati, sombong dan lain-lain adalah psikopatologi. Makanya saya sering bertanya agak ekstrem;  “Gila mana, orang yang gila beneran seperti orang yang di jalan raya sambil mengambil batu, melempar kaca mobil orang hingga pecah dengan orang yang berdasi, bahkan pakai baju koko, tapi hatinya penuh iri hati, sombong dan sebagainya?” Memang itu analogi yang agak ekstrem. Dalam Islam, orang yang gila, ya gila saja, biarkan saja. Karena pena malaikat itu diangkat karena tiga hal, termasuk kegilaan. Dalam Islam, bahaya tidaknya suatu perilaku tergantung hatinya, seperti orang yang sok sehat tapi hatinya kotor. Nah, Islam sebagai suatu nilai masuk dalam hal itu, memandang kriteria tentang gila pun menjadi berbeda.

Apakah psikologi Islam dapat memengaruhi psikologi umum?

Saya kira, secara keilmuan belum, tapi ada perbedaan paradigma yang mendasar antara paradigma psikologi dengan Islam. Di Barat terdapat paham positivistik, kita bisa menerima hasil penelitian psikologi, tapi persoalannya apakah psikologi menerima pemahaman dalam Islam? Karena kita mengakui apa yang empirik (syahadah) dan metaempirik (ghayb). Sedangkan psikologi hanya empirik saja. Pada konteks itu psikologi tidak akan mau menerima konsep jiwa. Di dalam psikologi ada tokoh yang namanya Abraham Maslow. Dia seorang Yahudi yang taat. Teori motivasinya berbasis kebutuhan (need). Perilaku manusia digerakkan oleh lima hirarki kebutuhan berbentuk piramida, mulai kebutuhan fisiologis sampai pada kebutuhan aktualisasi diri. Maslow tahu ada kebutuhan yang keenam, yakni transendensi. Tetapi karena taat akan paradigma positivistik, ia tidak memasukkan kebutuhan ini pada hirarki kebutuhan manusia.

Banyak orang yang ditanya oleh Maslow, tentang kenapa mereka shalat? Jawabannya ikhlas lillahi ta’ala. Ini tidak bisa dijelaskan oleh lima hirarki kebutuhan tadi, bukan kebutuhan fisiologis, bukan kebutuhan rasa aman, bahkan gara-gara shalat Jum’at pekerjaannya tidak aman, pengantar-pengantar makanan itu banyak yang mengeluh karena kalau jumatannya lama, ia tidak dapat order. Dengan begitu, justru orang shalat tidak mendapatkan keamanan, cinta juga belum tentu, harga diri dan aktualisasi diri juga belum tentu tapi itu tetap dilakukan oleh orang.  Konsep ikhlas hanya bisa dijelaskan dengan kebutuhan akan transendensi. Namun, karena tidak empiris maka hal itu tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. Dan inilah keterbatasan secara psikologi.

Lantas, apakah Islam memiliki keterbatasan menurut pendekatan psikologi? Kalau dibalik, apakah psikologi bermakna dalam Islam? Misalnya saya contohkan begini, ketika Nabi Muhammad menerima wahyu, kondisi beliau dianggap seperti kena penyakit epilepsi. Waktu itu memang belum ditemukan tentang teori gelombang otak, sekarang sudah dietemukan teori gelombang otak itu. Manfaat psikologi dalam membantu memaknai fenomena dalam ajaran Islam sangat penting, misalnya tentang posisi sadar pada gelombang otak yang namanya beta. Itu laju kecepatannya dari 15-30 Hz untuk otak orang dewasa, kerja mental yang terkonsentrasi. Tapi sekarang ada yang namanya gelombang otak yang namanya gama, kecepatannya kurang lebih 10 Hz, otak yang terjaga walaupun dalam kondisi tidur disertai oleh mimpi. Selama ini mimpi dialami oleh orang yang tidak sadar, dan sekarang justru ditemukan dengan EEG, orang tersebut sadar meski ia sedang tidur. Makanya Nabi itu bisa menerima wahyu meski dalam keadaan tidur. Bahkan kini, ditemukan  gelombang otak yang para ilmuwan belum tahu namanya tapi laju kecepatannya kurang lebih 200 Hz. Artinya, otak orang dewasa baru digunakan maksimal 15% dan yang 85% hidden.

Nah, mungkin itulah otak Nabi yang sampai 200 Hz. Dulu orang bilang, itu tidak rasional, tapi kini dapat dikatakan super-rasional atau di atas-rasional. Saking rasionalnya sehingga dalam mimpi pun bisa menembus ruang sadar. Ini manfaat psikologi terhadap pemaknaan Islam.

Pernah juga diramaikan, apakah seorang wanita boleh menjadi pemimpin? Dasarnya adalah QS. Al-Nisa’ ayat 34: “Laki-laki seharusnya menjadi pemimpin bagi seorang perempuan.” Kalau orang melihat dari aspek teologi, laki-laki ya laki-laki, perempuan adalah perempuan yang mempunyai alat kelamin perempuan. Tapi kalau dari sisi psikologi tidak seperti itu dalam melihat laki-laki dan perempuan. Laki-laki memiliki sifat maskulin dan perempuan memiliki sifat feminin. Kalau boleh saya terjemahkan secara psikologis ayat di atas; “Orang-orang yang memiliki sifat maskulin seharusnya menjadi pemimpin bagi orang-orang yang mempunyai sifat feminin.” Memang kebanyakan maskulin itu laki-laki dan feminin itu perempuan, tapi itu tidak mesti. Ada juga seorang perempuan yang kokoh dan tegas, dia tidak masalah menjadi presiden dan ada juga laki-laki yang melempem, kalau seperti itu ya tidak bisa menjadi seorang presiden.

Banyak contoh-contoh betapa manfaatnya Psikologi dalam Islam. Contohnya lainnya begini, syarat orang yang disebut mukallaf adalah orang yang berakal. Siapa yang tahu orang yang berakal ini? Psikolog semestinya lebih tahu melalu tes IQ. Apakah IQ normal atau IQ tumpul yang diwajibkan melaksanakan ibadah? Kalau idiot bagaimana? Orang tidak akan terkena taklif kalau orang itu gila. Tetapi gila itu batasannya seperti apa? Junun dalam terminologi fikih Islam itu sangat umum sekali. Justru dalam psikologi itu dibahas secara detail.

Seharusnya psikologi mendapatkan manfaat dari Islam, demikian juga Islam harus mendapatkan manfaat dari psikologi. Walaupun sering ditemukan batasan yang terkadang terjadi benturan antara keduanya. Maka disitulah kendala-kendala yang muncul untuk membangun psikologi Islam secara utuh. Kita masih butuh proses walaupun tidak musatahil akan ketemu banyak kendala. Misalnya sekarang diramaikan masalah terorisme. Namun, mereka tidak mau menyebut dirinya sebagai teroris dan ingin disebut sebagai mujahid. Bahkan kalau dia melakukan bom bunuh diri dia tidak mau disebut sebagai orang yang bunuh diri. Bagi dia mati dalam membela agama Allah pasti jaminannya surga.

Dalam psikologi sosial mereka paham mengenai perilaku-perilaku sosial mengenai terorisme tapi sayangnya pemahaman itu tidak disertai pemahaman tentang  makna jihad yang sebenarnya. Saya setuju dengan apa yang dilakukan oleh Presiden Barak Obama yang menyetujui pembangunan masjid di Ground di tempat WTC, hal itu sebagai trik untuk menaklukkan terorism dengan cara berpikir dia. Hal itu bisa dianalogikan, kalau ada anak kecil menangis, kita jangan memakai bahasa orang dewasa, menanyakan alasan rasional mengapa ia menangis, tapi pakai bahasa anak kecil seperti cara ngomongnya yang agak cadel, bahkan perilaku dan gerakan kita juga harus meniru anak kecil. Sama juga ketika membahas masalah teroris jangan memakai bahasa kita tapi memakai bahasa dia. Justru kita akan mengetahui bagaimana konsep jihad yang dipahaminya.

Konsep psikologi apa yang terapkan di UIN?

UIN adalah tempat integrasi ilmu. Intergrasi ilmu sebetulnya ada dua. Bagi Fakultas Agama yang selama ini belajar mata kuliah keagamaan diberikan wawasan tentang ilmu-ilmu umum. Begitu juga Fakultas umum, termasuk psikologi ini, diberikan wawasan yang berbasis keislaman. Dengan harapan nanti mahasiswa bisa mengintegrasikan sendiri dengan upaya yang sudah ada, walau pun upaya tersebut butuh waktu. Di UIN, konsepnya bagus tapi masalahnya banyak sekali. Misalnya yang dikeluhkan sampai saat ini adalah SDM yang kurang. Jangankan orang itu menguasai dua disiplin sekaligus, menguasai satu disiplin saja banyak yang bermasalah. Ketika kita berbicara tentang psikologi Islam kita harus tahu tentang psikologi dan Islam, begitu juga tentang ekonomi dan Islam. Orang banyak ngerti psikologi tapi keislamannya perlu dipertanyakan begitu juga sebaliknya.

Ada lagi tentang Islamafobia. Orang itu fobi, kalau Islam itu disebut. Contohnya, calon mahasiswa lebih menyukai masuk ke dalam Fakultas Pendidikan dari pada Fakultas Tarbiyah, Fakultas Ekonomi dari pada Perbankan Syariah. Padahal yang saya ketahui, justru teman-teman yang berbasis agama punya dua kompetensi, dia bisa ke mana-mana. Saya lihat kalau dibandingkan dengan teman-teman yang lain, kurikulum agamanya di Fakultas Psikologi lebih banyak. Kalau saya mengajar akidah saya tidak ngajar seperti yang diajarkan di Fakultas Usuluddin, tapi dikaitkan dengan psikologi. Saya punya teman yang punya panti rehabilitasi bagi korban Narkoba, lalu mereka dikumpulkan dan ditanya, apa yang kalian inginkan ketika mengkonsumsi Narkoba? Ternyata kebanyakan dari mereka alasannya karena faktor gagal cinta. Mereka bilang, kalau mereka mengkonsumsi Narkoba membayangkan wanita cantik. Setelah shalat Magrib berjamaah, pembimbing menyuruh mereka makan, shalat Isya’ dan mengaji tentang surga dan neraka. Salah satu pembahasannya tentang iman kepada Kiamat. Pembimbingnya menjelaskan tentang surga dan neraka. Surga adalah tempat yang nikmatnya luar biasa seolah-olah di dunia nikmatnya hanya 1 persen dan 99 persen nikmatnya di surga. Ada bidadari yang cantik, lebih cantik dari yang dibayangkan. Lalu pembimbing menyuruh mereka berdoa. Dalam doanya dipanjatkan untuk dipertemukan dengan bidadari di surga. Dan ternyata ketika mereka tidur, mereka ketemu bidadari yang cantinya luar biasa. Maka apa terapinya? Ketika mereka lagi sakau membutuhkan obat, mereka disuruh bayangkan bidadari yang cantik itu, ternyata membayangkan bidadari di surga jauh lebih nikmat daripada merasakan sakitnya sakau.

Apa pesan Anda dalam pengembangan psikologi di UIN?

Kita harus punya komitmen bersama. Meski saya sebagai guru besar Psikologi Islam seolah-olah semuanya ditumpahkan ke saya. Justru kita harus membangun bersama. Ini bukan kerja satu orang tapi tim. Saya juga punya keterbatasan. Maka kembali ke pernyataan saya tadi, konsep tauhid jangan hanya mengucapkan la ilaha illallah saja, tapi pikiran dan tingkah laku kita juga tauhid. Ilmu dan iman harus saling berkesinambungan. Kalau dari aspek dosennya harus terus mengembangkan keilmuannya, melalui diskusi ataupun kuliah lanjut. Sedangkan dari aspek mahasiswanya saya berharap, kalau dia memilih psikologi Islam, dia akan mendapat nilai plus, plus dalam agama dan plus psikologi sebagai ilmu umum. Maka, jadikan psikologi Islam ini sebagian keunikan, yang mampu bersaing dengan lulusan fakultas lain.[]