Ruang Diorama, BERITA UIN Online— Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Jakarta melaksanakan perkuliahan perdana kelas gender dan anak angkatan empat sekaligus bedah buku “Al Qur’an dan Perempuan”. Kelas ini mempunyai tujuan yaitu mengkaji  isu gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Diorama, Kamis (18/05).

Hadir dalam kegiatan Wakil Rektor Bidang Akademik Dr Fadhilah Suralaga M Si, Ketua Pusat Studi Gender dan Anak Rahmi Purnomowati MSi, Ketua Komisi II Lembaga Sensor Film Indonesia dan Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum Prof Dr Zaitunah Subhan, dan peserta didik kelas gender dan anak angkatan empat.

Dalam sambutannya, Rahmi menjelaskan kegiatan kelas gender dan anak merupakan program rutin PSGA. Kegiatan juga sekaligus dilakukan dengan bedah buku Al Qur’an dan Perempuan. “Kegiatan  ini  telah dilaksanakan  sejak  tahun  2014.  Kegiatan ini mendapatkan  respon  positif  dari  mahasiswa, maka PSGA  kembali  menyelenggarakan  kegiatan  ini,  dan ini merupakan angkatan yang keempat,” ujar Rahmi.

Ditambahkan Rahmi, PSGA telah menjadi percontohan dari universitas-universitas lain, karena berhasil menyelenggarakan kelas khusus pengkajian gender dan anak yang dilaksanakan diluar matakuliah. Kini, PSGA mempunyai jurnal gender dan anak yang bernama Jurnal Harkat dan sudah terbit dalam delapan volume.

“Sekarang dalam proses akreditasi. Kami mengundang dosen dan mahasiswa untuk mempublikasikan artikel ilmiah, penelitian, dan karya-karya ilmiah bersama jurnal harkat,” katanya.

Di tempat sama, Fadhilah menjelaskan mengenai pentingnya melakukan kajian gender. Menurutnya, saat mempelajari gender dan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan peran laki-laki dan perempuan, biasanya orang merasa tidak terjadi masalah apa-apa. Tidak pernah mengalami perlakukan diskriminatif, tidak pernah merasa dimarginalkan, tidak pernah merasa dibedakan antara saudara laki-laki dan perempuan, serta mendapatkan perlakukan yang sama.

“Namun, diluar lingkungan tersebut ternyata banyak berbeda, dari hasil-hasil penelitian menunjukan adanya ketidakseimbangan antara apa yang bisa diperoleh antara laki-laki dan perempuan serta bagaimana peran mereka dimasyarakat,” papar Fadhilah.

Ditambahkan Fadhilah, yang diinginkan adalah terjadi keadilan dan kerjsama antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga, masyarakat, dan pembangunan bangsa dan negara. Namun, dalam fenomenanya banyak ditemuan hal-hal yang berbeda. Setelah dilakukan penelitian ternyata salah satu penyebabnya adalah kesalahan dalam menafsirkan apa arti gender yang sesungguhnya.

“Oleh karena itu kajian seperti ini (gender) diperlukan, sehingga diharapkan adanya penelitian-penelitian mengenai wacana gender yang lebih baik lagi,” jelas Fadhilah (Farah/AR/ZM)

Share This