Program Riset untuk Ciptakan Iklim Akademik Kelas Dunia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

DI8W2444 - CopyRuang Diorama, Berita UIN Online— Program riset melalui skema visiting professor dan research fellowship diharap mengkreasikan iklim akademik kelas dunia di lingkungan UIN Jakarta. Untuk itu, UIN Jakarta berkomitmen menjadikan visiting professor dan research fellowship sebagai bagian pengembangan akademik UIN Jakarta ke depan.

Demikian disampaikan Rektor Prof Dr Dede Rosyada MA di hadapan dosen-peneliti peserta visiting professor dan research fellowship di Ruang Diorama, Senin (14/11/2016). Menurutnya, dosen-peneliti asal berbagai perguruan tinggi dunia diharap menularkan semangat dan disiplin insan akademik perguruan tinggi dunia kepada sivitas akademik UIN Jakarta. “UIN Jakarta juga mengirimkan dosennya ke luar negeri untuk mencari pengalaman baru dan mengimplementasikannya di UIN Jakarta setelah mereka kembali,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor didampingi Wakil Rektor Bidang Kerjasama Prof Dr Murodi MA dan Ketua LP2M Prof Dr Arskal Salim GP MA melepas peserta program visiting professor, Prof Jayakaran Mukundan. Profesor dari University Putera Malaysia ini selesai melakukan kepesertaannya di LP2M UIN Jakarta.

Diketahui, sejak 2015 lalu, UIN Jakarta melaksanakan kerjasama riset internasional. Dua diantaranya memanfaatkan skema visiting professor dan research fellowship. Kedua skema ini dilakukan dengan menerima dosen-peneliti asing melakukan riset di UIN Jakarta atau sebaliknya mengirim dosen-peneliti UIN Jakarta ke berbagai kampus dunia.

Tahun ini, skema visiting professor diikuti enam orang profesor untuk meneliti dan mengajar di sejumlah fakultas UIN Jakarta. Masing-masing, Bijan Davvaz dari Yazd University Iran di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Hamid Slimi dari Canadian Centre for Deen Studies di Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikaksi, dan Martha Beck dari Lyon College di Fakultas Ushuluddin.

Selanjutnya, Jayakaran Mukundan dari University Putra Malaysia ke LP2M, Muhammad Ibrahim Noorzaee dari Kabul University ke Fakultas Syariah dan Hukum, dan Abdul Aziz Munadhil dari Universitas Ibnu Thufail Maroko ke Fakultas Dirasat Islamiyah.

Khusus research fellowship, UIN Jakarta tahun ini menerima Sundaraj Dharmaraj dari Jawaharlal Nehru University, Jee Young Lee dari University of Canberra, dan Kevin William Fogg dari University of Oxford. Masing-masing meneliti dan mengajar di Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Sains dan Teknologi, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Adapun skema research-fellowship dengan mengirim dosen-peneliti UIN Jakarta ke berbagai kampus dunia diikuti empat dosen UIN Jakarta. keempatnya, Usep Abdul Matin ke Monash University, M. Amin Nurdin ke Philipps Marburg University of Jerman, Nurlaely Mida ke Yamaguchi University of Japan, dan Yuli Yasin ke Kuwait University.

Kegiatan kerjasama riset sendiri diapresiasi positif para peserta program. Mukundan, misalnya, mengaku sangat berbahagia bisa melaksanakan riset di UIN Jakarta. “Kegiatan juga bisa mengenalkan saya tentang iklim akademik UIN Jakarta maupun masyarakat Islam Indonesia,” ungkapnya.

Berkaca pada aktifitas akademiknya selama beberapa waktu, Mukundan berharap UIN Jakarta bisa memperdalam aktifitas riset. Menurutnya, riset mendalam bisa meningkatkan kontribusi UIN Jakarta bagi Islam dan ilmu pengetahuan.

Di tempat sama, Arskal menambahkan, UIN Jakarta sangat mengapresiasi para peserta research fellowship dan visiting professor yang telah melakukan akfitias akademik di UIN Jakarta maupun perguruan tinggi dunia. Sebab selain meneliti, para peserta program juga memberi perkuliahan, menjadi narasumber seminar, dan terlibat dalam berbagai aktifitas akademik lainnya.

Arskal mengatakan, kehadiran para profesor dan peneliti asing maupun pengiriman dosen UIN Jakarta ke berbagai perguruan tinggi dunia diharap bisa memperkaya iklim akademik di lingkungan UIN Jakarta. “Sebab tujuan kita dengan adanya mereka adalah menumbuhkan dan memperkaya kultur akademi kita,” tandasnya. (sf-zm/usa)