Program Pengabdian kepada Masyarakat Harus Fokus pada Tiga Kelompok Masyarakat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi

Gedung Kopertais, UIN Online – Arah dan kebijakan program pengabdian kepada masyarakat hendaknya difokuskan pada tiga kelompok, yakni komunitas marjinal perkotaan, komunitas daerah tertinggal, dan komunitas nelayan. Ketiga kelompok tersebut mesti mendapatkan perhatian serius Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) saat melaksanakan kegiatan pengabdian. Hal itu disampaikan Kepala Seksi Penelitian Direktorat Pendidikan Agama Islam Departemen Agama Wawan Djunaedi MA saat menjadi narasumber workshop Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM) UIN Jakarta di Gedung Kopertais Wilayah I Jakarta, Selasa (28/10).

Menurut Wawan saat melaksanakan pengabdian diharapkan dosen atau mahasiswa dapat memberikan pendampingan kepada mereka supaya kesenjangan sosialnya berkurang dan kesejahteraannya meningkat. “Fokus programnya berbasis pada pengembangan meng-organize masyarakat. Sebab saat ini arah dan kebijakan program pengabdian sudah mengalami perubahan, dulu berfokus pada islamic studies tapi kini pada pengembangan masyarakat,” katanya.

Wawan menambahkan sekarang sedang dibahas usulan fokus program keempat yakni pada komunitas di daerah perbatasan atau masyarakat minoritas. Jika program ini disetujui maka dosen pendampingnya bisa berasal dari lintas kampus. Menurut dia ada beberapa kriteria program pengabdian yang mesti diperhatikan di antaranya isu dan fokusnya mempunyai daya tarik, bermanfaat, dan prospektif dari sisi keberlanjutan (sustainablelity).

Pembantu Rektor Bidang Pengembangan Lembaga Dr Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan program pengabdian seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) harus diarahkan supaya lebih serius memberdayakan masyarakat. ”Kampus harus dapat memberikan manfaat pada masyarakat sekitar dan desa binaan. Sekarang kita sedang mengembangkan program pengabdian ke daerah yang dilanda bencana,” katanya.

Workshop yang diikuti pengurus LPM UIN se-Indonesia dan IAIN serta STAIN se-Jawa dan Lampung, ini membahas tiga agenda, yakni struktur organisasi, program, dan sumber daya manusia LPM. Menurut Ketua LPM UIN Jakarta Dr Daud Effendy tujuan kegiatan ini untuk menyamakan persepsi LPM di lingkungan Departemen Agama. ”Jika dibandingkan dengan LPM di kampus umum kita belum seimbang dan pelaksanaan pengabdian masih pincang,” ungkap Daud.

Daud menegaskan program pengabdian merupakan salah satu pilar penting tri dharma perguruan tinggi, tapi anggaran atau programnya kurang mendapatkan perhatian jika dibandingkan pilar lainnya pendidikan/pengajaran dan penelitian. Ke depan program pengabdian mesti berjalan seimbang mesti tidak sama.

Program Pengabdian kepada Masyarakat Harus Fokus pada Tiga Kelompok Masyarakat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Akhwani Subkhi

Gedung Kopertais, UIN Online – Arah dan kebijakan program pengabdian kepada masyarakat hendaknya difokuskan pada tiga kelompok, yakni komunitas marjinal perkotaan, komunitas daerah tertinggal, dan komunitas nelayan. Ketiga kelompok tersebut mesti mendapatkan perhatian serius Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) saat melaksanakan kegiatan pengabdian. Hal itu disampaikan Kepala Seksi Penelitian Direktorat Pendidikan Agama Islam Departemen Agama Wawan Djunaedi MA saat menjadi narasumber workshop Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM) UIN Jakarta di Gedung Kopertais Wilayah I Jakarta, Selasa (28/10).

Menurut Wawan saat melaksanakan pengabdian diharapkan dosen atau mahasiswa dapat memberikan pendampingan kepada mereka supaya kesenjangan sosialnya berkurang dan kesejahteraannya meningkat. “Fokus programnya berbasis pada pengembangan meng-organize masyarakat. Sebab saat ini arah dan kebijakan program pengabdian sudah mengalami perubahan, dulu berfokus pada islamic studies tapi kini pada pengembangan masyarakat,” katanya.

Wawan menambahkan sekarang sedang dibahas usulan fokus program keempat yakni pada komunitas di daerah perbatasan atau masyarakat minoritas. Jika program ini disetujui maka dosen pendampingnya bisa berasal dari lintas kampus. Menurut dia ada beberapa kriteria program pengabdian yang mesti diperhatikan di antaranya isu dan fokusnya mempunyai daya tarik, bermanfaat, dan prospektif dari sisi keberlanjutan (sustainablelity).

Pembantu Rektor Bidang Pengembangan Lembaga Dr Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan program pengabdian seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) harus diarahkan supaya lebih serius memberdayakan masyarakat. ”Kampus harus dapat memberikan manfaat pada masyarakat sekitar dan desa binaan. Sekarang kita sedang mengembangkan program pengabdian ke daerah yang dilanda bencana,” katanya.

Workshop yang diikuti pengurus LPM UIN se-Indonesia dan IAIN serta STAIN se-Jawa dan Lampung, ini membahas tiga agenda, yakni struktur organisasi, program, dan sumber daya manusia LPM. Menurut Ketua LPM UIN Jakarta Dr Daud Effendy tujuan kegiatan ini untuk menyamakan persepsi LPM di lingkungan Departemen Agama. ”Jika dibandingkan dengan LPM di kampus umum kita belum seimbang dan pelaksanaan pengabdian masih pincang,” ungkap Daud.

Daud menegaskan program pengabdian merupakan salah satu pilar penting tri dharma perguruan tinggi, tapi anggaran atau programnya kurang mendapatkan perhatian jika dibandingkan pilar lainnya pendidikan/pengajaran dan penelitian. Ke depan program pengabdian mesti berjalan seimbang mesti tidak sama.