Jakarta, BERITA UIN Online— Guru Besar Filologi Islam UIN Jakarta, Prof. Dr. Oman Fathurahman M.Hum dipercaya ikut mengkordinasikan program digitalisasi manuskrip klasik Asia Tenggara yang bertajuk Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA). Peneliti ahli PPIM UIN Jakarta ini akan berbagi tugas dengan filolog dari Centre for the Study of Manuscript Cultures (CSMC), University of Hamburg, Prof. Dr. Jan van der Putten. Program sendiri direncanakan untuk segera direalisasikan.

Demikian rilis media Program DREAMSEA yang didapat BERITA UIN Online, Jumat (29/12/2017). Dalam rilis disebutkan, program DREAMSEA sendiri dimaksudkan sebagai bagian dari kegiatan pelestarian kekayaan manuskrip di Asia Tenggara yang akan segera diluncurkan. “Program akan memprioritaskan digitalisasi manuskrip yang terancam punah,” sebut rilis.

Dalam pelestarian ini, program DREAMSEA sendiri diproyeksikan mencakup dua kegiatan utama. Proyek pertama yang dilakukan adalah alih media digital atau digitalisasi manuskrip di wilayah Asia Tenggara. Selanjutnya, database manuskrip melalui pengembangan Open Access Database of Southeast Asian Manuscripts.

Melalui digitalisasi manuskrip, program diharap turut melestarikan keragaman teks yang tertulis dalam manuskrip-manuskrip di Asia Tenggara. Adapun database ditujukan untuk menyediakan akses bagi khalayak, khususnya para mahasiswa dan peneliti, sehingga pengetahuan dan informasi yang terdapat di dalamnya bisa dimanfaatkan bagi pengembangan penelitian dan keilmuan.

Selain itu, database nantinya akan disajikan dalam sebuah portal terintegrasi. Jika bisa direalisasikan, maka portal database ini akan menjadi portal pertama yang menghimpun keragaman manuskrip di Asia Tenggara.

Dalam rilis juga disebutkan, program DREAMSEA didanai sepenuhnya oleh yayasan amal yang berbasis di London, ARCADIA. Dalam laman daringnya disebutkan, ARCADIA merupakan yayasan amal yang berkonsentrasi pada pelestarian warisan kultural dan ekosistem yang terancam punah agar bisa dinikmati oleh generasi mendatang.

Sebagai yayasan amal, ARCADIA berprinsip bahwa setiap bentuk pengetahuan yang didapat dari ikhtiar pelestariannya terbuka untuk umum secara gratis. Sejak didirikan tahun 2001, yayasan ini telah menyalurkan banyak donasi penyelamatan warisan kultural dan lingkungan dari ancaman kepunahan.

ARCADIA dibentuk oleh sepasang suami istri sejarawan sekaligus filantropist, Peter Baldwin dan Lisbet Rausing atau Anna Lisbet Kristina Rausing. Baldwin merupakan professor sejarah pada University of California, sedang Lisbet merupakan doktor sejarah jebolan Harvard University. (farah nh/yuni nk/zm)