Prof Moh Ardani: Isra’ Mi’raj Pelajaran Pendewasaan Diri

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Sebulan yang lalu umat Islam memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Banyak pesan yang terkandung pada peristiwa Isra’ Mi’raj, mulai dari disyariatkannya shalat wajib lima waktu hingga pelajaran sejarah kisah nabi-nabi terdahulu. Lantas, bagaimana relevansi peristiwa Isra’ Mi’raj dengan dunia pendidikan. Berikut petikan wawancara Jaenuddin Ishaq dari UIN Online dengan Guru Besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Prof Dr Moh Ardani beberapa waktu lalu.

Pelajaran apa yang dapat dipetik dari peristiwa Isra Mi’raj?

Peristiwa Isra’ Mi’raj mengisahkan kepada kita arti kehidupan yang akan terjadi di masa depan.  Pertama, perjalanan Isra’  Mi’raj yang dimulai dari Masjidil Haram (Makkah) hingga ke Baitil Maqdis di Palestina, kemudian naik hingga ke Sidratul Muntaha memperlihatkan tentang gambaran perilaku manusia pada masa mendatang. Dalam perjalanan itu Nabi diperlihatkan pada satu sisi ada orang-orang yang sedang memakan daging segar tapi pada sisi lain ada yang memakan daging bangkai. Ini artinya suatu hari nanti umat Nabi SAW, meski sudah berkeluarga tapi masih berzina.

Kedua, sebagai napak tilas sejarah para nabi terdahulu. Contohnya, dalam perjalanan itu Nabi SAW  sempat berhenti di Baitul Lahmi tempat Nabi Isa AS dilahirkan. Ketiga, yang sudah kita ketahui bersama, Isra’ Mi’raj merupakan titik awal turunnya perintah kepada Nabi SAW dan umatnya untuk melaksanakan shalat lima waktu. Dalam peristiwa itu terjadi negosiasi dari sebelumnya berjumlah 50 waktu menjadi lima waktu. Dan perlu diketahui perintah shalat ini, sebagai salah satu bukti ketaatan manusia dalam hubungannya dengan Sang Pencipta (Allah SWT).

Lantas, apa hubungan peristiwa Isra’ Mi’raj dengan masyarakat?

Ini memberikan arti, bahwa Isra’ Mi’raj memiliki misi rahmat untuk semua manusia dan Nabi SAW sebagai penyempurna dari nabi-nabi sebelumnya. Jadi memiliki mata rantai dalam melakukan syiar Islam kepada masyarakat.  Di samping itu juga pedoman umat Islam salah satunya al-Qur’an memberikan arahan-arahan tentang kehidupan. Jadi memiliki keseimbangan antara dunia dengan akhirat. Sehingga nantinya orang yang berbuat kebaikan akan selalu dirasakan oleh orang lain.

Maksudnya?

Kita harus upayakan hidup ini sebagai padi, semakin dia tumbuh semakin orang lain suka. Begitu juga manusia, seharusnya memaknai kehidupan sebagai ladang ibadah kepada Allah SWT juga tetap menjaga hubungan baik kepada sesama manusia.

Apa relevansi peristiwa Isra’ Mi’raj dengan pendidikan?

Isra’ Mi’raj sangat bagus dan relevan dengan pendidikan. Melalui Isra’ Mi’raj ada pelajaran tentang pendewasaan jasmani dan rohani. Shalat misalnya, itu kan melatih kita agar belajar khusyu. Apalagi dalam shalat, gerakan-gerakannya terdapat ilmu tentang kesehatan. Shalat tepat pada waktunya dan berjamaah juga membina kerapihan dalam menghadap kepada Allah SWT. Sehingga nanti akan terbentuk akhlak yang baik yang memiliki nilai baik di sisi Allah juga manusia. Karena manusia tanpa akhlak seperti binatang yang memiliki kehidupan bebas. Dan akhlak akan terbentuk dengan ibadah yang baik kepada Allah SWT.

Apa harapan Anda dalam konteks Isra’ Mi’raj?

Saya tentu berharap yang terbaik kepada masyarakat dalam menjalankan aktifitasnya. Mulai dari mampu menangkap pesan-pesan Isra’ Mi’raj, hingga adanya latihan menahan hawa nafsu dari yang dilarang agama. Seperti selalu membaca al-Qur’an dan shalat fardhu berjamaah. Pada akhirnya akan terbentuk masyarakat yang memiliki akhlak terpuji, dan menjadi contoh untuk keshalehan umat. []

 

Prof Moh Ardani: Isra’ Mi’raj Pelajaran Pendewasaan Diri

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Sebulan yang lalu umat Islam memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Banyak pesan yang terkandung pada peristiwa Isra’ Mi’raj, mulai dari disyariatkannya shalat wajib lima waktu hingga pelajaran sejarah kisah nabi-nabi terdahulu. Lantas, bagaimana relevansi peristiwa Isra’ Mi’raj dengan dunia pendidikan. Berikut petikan wawancara Jaenuddin Ishaq dari UIN Online dengan Guru Besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Prof Dr Moh Ardani beberapa waktu lalu.

Pelajaran apa yang dapat dipetik dari peristiwa Isra Mi’raj?

Peristiwa Isra’ Mi’raj mengisahkan kepada kita arti kehidupan yang akan terjadi di masa depan.  Pertama, perjalanan Isra’  Mi’raj yang dimulai dari Masjidil Haram (Makkah) hingga ke Baitil Maqdis di Palestina, kemudian naik hingga ke Sidratul Muntaha memperlihatkan tentang gambaran perilaku manusia pada masa mendatang. Dalam perjalanan itu Nabi diperlihatkan pada satu sisi ada orang-orang yang sedang memakan daging segar tapi pada sisi lain ada yang memakan daging bangkai. Ini artinya suatu hari nanti umat Nabi SAW, meski sudah berkeluarga tapi masih berzina.

Kedua, sebagai napak tilas sejarah para nabi terdahulu. Contohnya, dalam perjalanan itu Nabi SAW  sempat berhenti di Baitul Lahmi tempat Nabi Isa AS dilahirkan. Ketiga, yang sudah kita ketahui bersama, Isra’ Mi’raj merupakan titik awal turunnya perintah kepada Nabi SAW dan umatnya untuk melaksanakan shalat lima waktu. Dalam peristiwa itu terjadi negosiasi dari sebelumnya berjumlah 50 waktu menjadi lima waktu. Dan perlu diketahui perintah shalat ini, sebagai salah satu bukti ketaatan manusia dalam hubungannya dengan Sang Pencipta (Allah SWT).

Lantas, apa hubungan peristiwa Isra’ Mi’raj dengan masyarakat?

Ini memberikan arti, bahwa Isra’ Mi’raj memiliki misi rahmat untuk semua manusia dan Nabi SAW sebagai penyempurna dari nabi-nabi sebelumnya. Jadi memiliki mata rantai dalam melakukan syiar Islam kepada masyarakat.  Di samping itu juga pedoman umat Islam salah satunya al-Qur’an memberikan arahan-arahan tentang kehidupan. Jadi memiliki keseimbangan antara dunia dengan akhirat. Sehingga nantinya orang yang berbuat kebaikan akan selalu dirasakan oleh orang lain.

Maksudnya?

Kita harus upayakan hidup ini sebagai padi, semakin dia tumbuh semakin orang lain suka. Begitu juga manusia, seharusnya memaknai kehidupan sebagai ladang ibadah kepada Allah SWT juga tetap menjaga hubungan baik kepada sesama manusia.

Apa relevansi peristiwa Isra’ Mi’raj dengan pendidikan?

Isra’ Mi’raj sangat bagus dan relevan dengan pendidikan. Melalui Isra’ Mi’raj ada pelajaran tentang pendewasaan jasmani dan rohani. Shalat misalnya, itu kan melatih kita agar belajar khusyu. Apalagi dalam shalat, gerakan-gerakannya terdapat ilmu tentang kesehatan. Shalat tepat pada waktunya dan berjamaah juga membina kerapihan dalam menghadap kepada Allah SWT. Sehingga nanti akan terbentuk akhlak yang baik yang memiliki nilai baik di sisi Allah juga manusia. Karena manusia tanpa akhlak seperti binatang yang memiliki kehidupan bebas. Dan akhlak akan terbentuk dengan ibadah yang baik kepada Allah SWT.

Apa harapan Anda dalam konteks Isra’ Mi’raj?

Saya tentu berharap yang terbaik kepada masyarakat dalam menjalankan aktifitasnya. Mulai dari mampu menangkap pesan-pesan Isra’ Mi’raj, hingga adanya latihan menahan hawa nafsu dari yang dilarang agama. Seperti selalu membaca al-Qur’an dan shalat fardhu berjamaah. Pada akhirnya akan terbentuk masyarakat yang memiliki akhlak terpuji, dan menjadi contoh untuk keshalehan umat. []