Prof Huzaemah: Shalat Membuat Hidup Menjadi Tenang

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Muhammad Nurdin

Gedung FKIK, UIN Online - Shalat merupakan makanan rohani. Shalat yang dilakukan dengan khusyuk akan membuat hidup lebih tenang. Jika rohani seseorang bagus maka kehidupannya pun akan tenang dan terasa indah. Setiap gerakan dalam shalat mengandung manfaat yang sangat besar. Selain menyehatkan secara jasmani dan rohani, ibadah shalat juga dapat meningkatkan kepekaan sosial.

Hal itu disampaikan Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Prof Dr Huzaemah Tahido Yanggo dalam seminar dan diskusi publik bertajuk “Esensi Shalat dalam Perspektif Kesehatan” yang diadakan Community of Santri Scholors of Ministry of Religious Affairs (CSS MORA) UIN Jakarta, di Auditorium Utama FKIK, Sabtu (11/12). Turut hadir dua narasumber lainnya, Dr Ahmad Shodiq MA dan Dr Mukhtar Ikhsan SpP(K) MARS.

“Bahkan dengan shalat seseorang bisa cerdas, karena ketika sujud aliran darah mengalir ke otak sehingga sel-sel di dalam otak bekerja dengan cepat,” ujar Huzaemah.

Dalam ajaran Islam, shalat merupakan tiang agama. Agama tidak akan kokoh dan tegak kecuali dengan tiang. Karena itu, pelaksanaan dan esensi yang terkandung dalam ibadah shalat harus dilaksanakan dengan baik dan sempurna. Jika shalatnya khusyu’ dan sempurna maka ibadah lainnya akan sempurna, bagitu pula sebaliknya.

Huzaemah menegaskan  banyak hikmah yang dipetik dari shalat, antara lain sebagai  sarana untuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah, dan sarana untuk menentramkan jiwa sesudah melakukan aktivitas. Dengan hati yang selalu ingat kepada Allah, seseorang akan mendapatkan kekuatan batin dalam menghadapi semua problem dengan penuh optimis dan sabar.

Sementara itu, pembicara kedua Dr  Ahmad Shodiq mengungkapkan, shalat bagaikan sebuah undangan walimah, jika diundang maka wajib untuk datang begitu juga dengan shalat, jika waktu shalat telah tiba maka bergegaslah  untuk melaksanakan shalat.

“Gerakan dalam shalat itu bagaikan sebuah makanan yang enak sedangkan minumannya adalah dzikir.  Jika seseorang sudah dapat melakukan dzikir dengan khusyuk maka shalatpun dapat dilaksanakan dengan khusyuk. Oleh karena itu antara shalat dan dzikir tidak dapat dipisahkan,” ujarnya.

Menurut Ahmad Shodiq, ada beberapa cara untuk menjaga keikhlasan dalam shalat antara lain, niatkan mencari ridha Allah bukan ridha manusia, memperhatikan pertolongan Allah dengan sepenuh hati, dan menjaga keikhlasan dengan selalu berdzikir. []