Prof Dr H Imam Suprayogo:Hafal Al-Qur’an Tingkatkan Prestasi Belajar

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Prof Dr Harun Nasution, BERITA UIN Online, Hafal al-Qur’an berpengaruh positif untuk meningkatkan kualitas dan prestasi belajar seseorang. Hal itu telah dibuktikan ratusan mahasiswa UIN Malang. Mereka yang hafal Al-Qur’an 30 juz mampu meraih Indek Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi dan berprestasi.

“Saya bukan mau sombong. dari 512 mahasiswa UIN Malang yang ikut Hai’ah Hifdz Al-Qur’an (Lembaga Tahfidz Al-Qur’an, red), rata-rata mereka memilki IPK dan prestasi yang bagus,” ujar Rektor UIN Malang Prof Dr H Imam Suprayogo pada  kuliah umum bertajuk “Membangun Integrasi Ilmu dan Agama untuk Masa Depan Pendidikan Islam” di Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Kamis (22/3).

Menurut Prof Imam, demikian ia akrab disapa,  sejak angkatan pertama sampai kedelapan, IPK tertinggi di UIN Malang diraih  mereka yang hafal Al-Qur’an. “Angkatan pertama dari Program Studi (Prodi) Fisika yang terbaik dan hafal 30 juz. Angkatan kedua dari Prodi Matematika, juga hafal 30 juz,” paparnya.

Tidak hanya itu. Bahkan, sambung dia, alumni-alumni selanjutnya juga bernasib serupa. “Angkatan kedelapan dari Psikologi juga hafal Al-Qur’an dan menulis skripsinya dalam bahasa Arab,” imbuh Prof Imam.

Meski begitu, jelas dia, sejumlah mahasiswa dari Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Syari’ah juga banyak yang ikut program hafal Al-Qur’an. “Tapi IPK mereka belum yang terbaik. Jadi tradisi menghafal Al-Qur’an sudah dijadikan program unggulan di UIN Malang,”tutur jelas periah doktor Sosiologi dari Universitas Airlangga (Unair) ini.

Prof Imam mengaku risau dengan sejumlah pihak yang galau dengan para penghafal Al-Qur’an. Mereka bukanlah orang-orang yang berpaham sempit, fundamentalis, atau stigma negatif lainnya. “Yang mengkhawatirkan itu mereka yang tidak hafal Al-Qur’an,” tutur dia.

Ia menambahkan, bentuk Pendidikan Islam yang ideal itu seperti itu, yaitu, menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar dan referensi utama dan pertama dalam proses pendidikan.

Terkait dengan hal tersebut, kata Prof Imam, untuk membangun Pendidikan Islam tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada Al-Qur’an. Selain itu, Al-Qur’an secara tegas menyatakan, bahwa semua ilmu itu berasal dari Allah SWT. Ini artinya, bahwa semua ilmu pengetahuan itu bersumber dari wahyu.

Dikotomi (pemisahan atau dualitas)antara ilmu dan agama terjadi di dunia Pendidikan Islam terjadi, karena faktor taklid. Ketika peradaban Barat kembali bangkit, umat Islam dalam pengembangan ilmu penegtahuan mengikuti tradisi mereka. Padahal tradisi yang mendikotomikan ilmu dan agama. “Jadi ketika umat Islam dalam keadaan jumud itulah mereka mengikuti peradaban Barat,” tandasnya. (D. Antariksa)