Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA: Cetak Ulama, Kemenag Harus Dirikan Pesantren Tinggi di Kampus

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ruang Diorama, BERITA UIN Online–Kementerian Agama (Kemenag) RI perlu segera mendirikan ma’had ali (pesantren tinggi) secara formal di beberapa Perguruan Tinggi Negeri Agama Islam (PTAIN),  baik di  kampus yang telah berubah status menjadi universitas maupun yang masih berstatus institut.

Demikian hal itu disampaikan Guru Besar Sejarah UIN Jakarta Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA pada sarasehan bertajuk “Refleksi 11 Tahun Transformasi IAIN Menjadi UIN” di Ruang Diorama Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, Jum’at (31/5/2013).

Menurutnya, lembaga tersebut dibutuhkan untuk melahirkan calon-calon ulama atau kyai yang betul-betul tafaqquh fi al-din. “Untuk menghasilkan calon-calon kyai, Menag sendiri harus membentuk ma’had ali di beberapa UIN dan IAIN seyogyanya segera diwujudkan sebagai kebijakan afirmatif,” ujarnya.

Pendirian ma’had ali itu, terang direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta, sebagai salah satu jawaban atas kekhawatiran sebagian orang atas perubahan IAIN menjadi UIN yang dianggap berefek meminggirkan fakultas-fakultas agama.

“Jika kita ingin IAIN/STAIN dan fakultas-fakultas agama UIN tidak marjinal, yang diperlukan bukan kebijakan menghentikan perubahan UIN jadi IAIN, tapi kebijakan khusus yang mendorong kian tersedianya potensi input bagi mereka,” tandasnya.

Oleh karena itu pula, mantan Rektor IAIN/UIN Jakarta ini mendesak Pemerintah, dalam hal ini Kemenag, untuk kembali membuka Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Dengan pendirian kembali MAK, maka input terbaik bagi STAIN, IAIN dan fakultas-fakultas agama UIN dapat terpenuhi.

Dengan kebijakan demikian, ia menegaskan, bahwa perubahan IAIN menjadi UIN sebenarnya tidak perlu dihentikan apalagi disesali. “Jika semua ini bisa dilakukan, eksistensi UIN tidak perlu disesali, tapi justru disyukuri karena membuka peluang lebih besar bagi anak-anak umat,” imbuhnya.

Dalam acara yang dihelat oleh Program Magister Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta itu dihadiri sejumlah guru besar, dekan dan  dosen, serta mahasiswa. ( D Antariksa/Saifudin)