Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub Wafat, Sivitas UIN Jakarta Berduka

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub meninggal dunia, Kamis (28/04). Meninggalnya Pengasuh Pondok Pesantren Darusunnah, mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, dan dosen UIN Jakarta ini menyisakan duka mendalam di kalangan sivitas akademi UIN Jakarta.

Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub meninggal dunia, Kamis (28/04). Meninggalnya Pengasuh Pondok Pesantren Darusunnah, mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, dan dosen UIN Jakarta ini menyisakan duka mendalam di kalangan sivitas akademi UIN Jakarta.

Gd. Rektorat, BERITA UIN Online—Kamis (28/04) pagi hari pukul 06.00 WIB, di Rumah Sakit Hermina, Ciputat, Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub meninggal dunia. Meninggalnya Pengasuh Pondok Pesantren Darusunnah, mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, dan dosen UIN Jakarta ini menyisakan duka mendalam di kalangan sivitas akademi UIN Jakarta.

Rektor Prof. Dr. Dede Rosyada MA mengungkapkan, wafatnya ulama kelahiran Batang, Jawa Tengah, 02 Maret 1952 adalah kehilangan bagi sivitas akademi UIN Jakarta maupun dunia Islam. Karena itu, kata rektor, wafatnya Ali merupakan kehilangan bagi UIN Jakarta. “UIN Jakarta dan dunia Islam kehilangan sosok ulama berpengaruh,” katanya.

Dalam pandangan rektor, Ali merupakan ulama yang ahli di bidang keilmuannya, rendah hati, jujur, dan total mengabdikan diri bagi pendidikan keislaman. Dengan segala kesibukannya menyandang amanah di berbagai lembaga yang dipercayakan, Ali tidak melupakan perlunya pendidikan keislaman. Salah satunya dengan mendirikan dan mengasuh Pondok Pesantren Darusunnah.

UIN Jakarta sendiri, lanjut rektor, berhutang budi terhadap almarhum. Selain pernah mengajar di sejumlah fakultas dan program studi seperti Prodi Tafsir Hadits di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Dirosat Islamiyah, banyak mahasiswa UIN Jakarta juga nyantri di pesantrennya.

“Bahkan para mahasiswa yang menjadi santrinya banyak mengikuti jejaknya, mengabdikan diri sebagai ulama, termasuk menjadi dosen di lingkungan UIN Jakarta,” katanya.

Sementara itu, ungkapan duka disampaikan sejumlah sivitas UIN Jakarta lainnya. Ketua Prodi Hukum Pidana Islam Fakultas Syariah dan Hukum Dr. M. Nurul Irfan, misalnya, mengaku sangat berduka atas wafatnya Ali. “Semoga beliau khusnul khotimah dan min ahlil jannah, tanda dzahirnya tampak pada raut wajah tenangnya pada saat wafat,” ujar santri kalong (muntasib) di Ponpes Darussunnah di periode 2001-2003.

Duka cita mendalam juga diungkapkan alumni Prodi Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin sekaligus pengajar Pondok Pesantren Daarul Quran, Farid Wajdi Nakib. Farid yang pernah nyantri di Daarussunnah sepanjang tahun 2000-2005 mengaku hampir tidak percaya saat dikabari wafatnya Ali.

Farid mengaku, ahli hadits ini merupakan sosok berpengaruh bagi hidupnya. Saat masih nyantri, almarhum senantiasa mendorongnya menghafal 30 juz al-Quran. “Beliau menjadi asbab (faktor) saya bisa bersemangat menghafal. Beliau sangat disayang Allah sehingga dipanggil duluan (wafat) hari ini,” jelasnya.

Muhammad Nida Fadlan M.Si, Pengajar Fakultas Adab dan Humaniora juga merasakan kehilangan atas sosok Ali. Nida yang pernah mengikuti sejumlah pengajian keislaman yang disampaikan almarhum menilai, wafatnya Ali merupakan kehilangan bagi dunia Islam. Sebagai seorang ulama, ia merupakan ahli hadits yang dimiliki Indonesia. “Semoga Allah Swt segera memberikan pengganti terbaik untuk Islam, Indonesia, dan dunia,” harapnya.

Dr. Rifqi Muhammad MA, Dosen Ilmu Hadits Prodi Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin juga mengaku tak menyangka atas wafatnya almarhum. Menurutnya, sejak sama-sama menarasumberi Seminar Nasional Gerakan Radikal: Problem Pemahaman Teks Hadis pada 04 November 2015 lalu di Fakultas Ushuluddin, ia tak mendengar adanya keluhan sakit dari almarhum.

Bagi Rifqi, Ali merupakan sosok ulama dengan kedalaman ilmu yang diimbangi kesederhanaan. Karena alasan itu, ungkapnya, ia tertarik meneliti pemikiran dan karya-karya almarhum. “Saya sudah berencana sowan menghadap beliau untuk ngangsu kaweruh sekaligus menanyakan beberapa pendapat dan karya beliau, sayang keinginan itu belum juga terlaksana hingga beliau wafat,” paparnya.

Wakil Rektor Bidang Kerjasama Prof. Dr. Murodi MA mengatakan, wafatnya Ali merupakan duka dan kehilangan mendalam bagi sivitas UIN Jakarta maupun dunia Islam. Menurutnya, Ali merupakan sosok yang berpengaruh di kalangan sivitas UIN Jakarta. Sejak Pesantren Daarusunnah didirikan, mayoritas para santri merupakan mahasiswa UIN Jakarta. “Karena itu, wafatnya beliau adalah juga duka bagi sivitas UIN Jakarta,” katanya.

Sebagai informasi, Ali yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Seblak Jombang dan Pondok Pesantren Tebuireng,  menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Syariah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Saudi Arabia (1976–1980). Selanjutnya ia menempuh pendidikan magister di Jurusan Tafsir Hadits Universitas King Saud (1980–1985) dan menamatkan doktor Hukum Islam di Universitas Nizamia, Hyderabad, India (2005–2008).

Setelah menyelesaikan studinya, Ali pulang ke tanah air dan menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi seperti Institut Ilmu al-Quran, Institut Studi Ilmu al-Quran, Sekolah Tinggi Islam Dakwah (STIDA) al-Hamidiyah, termasuk UIN Jakarta. Di UIN Jakarta, Ali mengajar Mata Kuliah Ulumul Hadits dan Takhrij Hadits di Jurusan Tafsir Hadits, Fakultas Ushuluddin. (Tim BERITA UIN)