Gd. FST, BERITA UIN Online— Program Studi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Jakarta menggelar stadium general dengan mengusung tema Peran Penyuluh dalam pembangunan Pertanian Indonesia. Acara yang berlangsung di ruang teater Lt.2 FST tersebut digelar pada, Kamis (22/03) lalu.

Hadir sebagai nara sumber pada acara tersebut, Ketua Dewan Pembina Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (PERHIPTANI), Ir Mulyono Machmur MS.

Memulai pembicaraannya, Mulyono menyoroti tentang penyuluh pertanian yang saaat ini mendapatkan perhatian dari para petinggi negeri ini. Menko Perekonomian, Chairul Tanjung misalnya, di harian Republika (3/9/2017), menyoroti perlunya penambahan jumlah penyuluh pertanian dalam program memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Selain itu, Ketua Komisi Penyuluhan Pertanian Nasional Prof Dr Soemarjo pada harian Kompas (3/9) menyatakan, tenaga penyuluh pertanian jumlahnya semakin menurun diperkirakan tahun 2017 tinggal setengahnya (PP PNS ± 28.000 orang) sedangkan jumlah desa di Indonesia ± 73.000 desa.

Mulyono menambahkan, permasalahan utama penyuluh pertanian di Indonesia bukan hanya jumlahnya yang kurang akan tetapi juga menyangkut kualitas penyuluh yang perlu ditingkatkan.

“Rendahnya kualitas penyuluh pertanian sebagai akibat dari kurangnya pelatihan dan rendahnya mutu pendidikan para penyuluh. Hal tersebut berdampak pada proses pembelajaran bagi para petani, penyuluh kurang mendapat respon dari petani dan bahkan penyuluh sering minder berhadapan dengan petani lebih menguasai permasalahan yang dihadapi petani, dengan kondisi seperti ini sangat sulit diharapkan kemampuan penyuluh dapat berperan dalam “Revolusi Mental Petani”,” jelas Mulyono.

Lebih jauh, dirinya mengatakan bahwa revolusi mental petani bukan suatu hal yang mudah karena mental petani sudah berpuluh-puluh tahun dibina dengan situasi yang kurang mendidik. Para petani dimanjakan dengan pembinaan yang bersifat materialistik dan kurang dibina melalui pendampingan yang humanis. Para petani sering diberikan bantuan-bantuan materi yang sifatnya tidak mendidik.

“Ketika petani memerlukan benih unggul oleh pemerintah dibagikan benih secara gratis, bukannya dibimbing bagaimana menghasilkan benih bermutu. Begitupun ketika petani dihadapkan pada masalah kelangkaan pupuk, seharusnya dibimbing bagaimana membuat pupuk alternatif berupa kompos atau bokhasi. Pemerintah sibuk menyediakan dana subsidi pupuk sebesar Rp 17 triliun,” tandasnya.

Dalam kondisi mental sebagaimana dijelaskan sebelumnya, masih menurut Mulyono, peran pemerintah di masa-masa mendatang semakin berat. Perlu dilakukan perubahan-perubahan kebijakan secara holistik sehingga terjadi revolusi mental petani.Penyuluh pertanian mempunyai peran strategis dalam pelaksanaan revolusi mental petani. Tugas dan peran penyuluh pertanian sebagai garda terdepan tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani, tapi juga mengubah sikap petani.

“Penyuluhan pertanian hendaknya menjadi wadah pendidikan non formal bagi petani dan keluarganya melalui proses pendidikan tersebut para petani diharapkan dapat menolong dirinya sendiri terutama dalam pengembangan usahanya menjadi better farmingbetter bussines, better living, better community dan better environmental,” imbau Mulyono. (lrf/http://tabloidsinartani.com)

Share This