Prince Charles

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone





 

Oleh Azyumardi Azra

 

JIKA ada tokoh di Barat yang begitu getol mengampanyekan hubungan dan saling pengertian yang baik di antara Barat dan Islam, agaknya dia adalah Prince of Wales, Pangeran Charles. Jauh sebelum peristiwa 11 September 2001 di New York dan Washington, Pangeran Charles dalam orasi yang disampaikannya pada 27 Oktober 1993 di Oxford Centre for Islamic Studies, Islam and The West, telah menekankan pentingnya hubungan yang lebih baik antara Islam dan Barat karena tingkat salah pengertian di antara keduanya masih tetap tinggi. Padahal, hal-hal yang menghubungkan dan mengikat kedua dunia ini sesungguhnya sangat banyak dan lebih kuat daripada hal-hal yang memisahkan keduanya.

 

Karena simpati dan empatinya yang mendalam, Pangeran Charles mendapat banyak kecaman dari kalangan masyarakat Barat. Tapi, Pangeran Charles tidak tergoyahkan. Setelah peristiwa 11 September 2001 yang disusul pengeboman di London dan Madrid, empatinya terhadap Islam tetap bertahan. Pangeran Charles kembali menekankan subjek tentang hubungan baik Barat dan Islam ini ketika mengadakan pertemuan dan dialog di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada awal November 2008 lalu dengan pimpinan Muhammadiyah (Din Syamsuddin), NU (Endang Turmudi), Dewan Masjid Indonesia (Tarmizi Taher), Depag (M Atho Mudzhar dan Nasaruddin Umar), dan saya sendiri yang merupakan co-chair UK-Indonesia Islamic Advisory Group. Langsung ke Masjid Istiqlal setelah mendarat di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, ini adalah kunjungan kedua Pangeran Charles ke Indonesia. Sebelumnya, ia pernah datang sekitar 19 tahun lalu didampingi Lady Di. Kali ini, ia datang sendiri, tidak didampingi istrinya, Camilla.

 

Dalam percakapan, Pangeran menunjukkan kekagumannya pada Islam Indonesia, yang dinamik dan menempuh ‘jalan tengah’ (middle path), yang toleran dan damai. Ia membandingkannya dengan kalangan Muslim Inggris yang memiliki pandangan dan praktik keagamaan yang literal karena orientasi yang kuat pada Islam di Timur Tengah dan Asia Selatan. Karena itu, tidak heran kalau ia menginginkan mereka belajar tentang Islam dari kaum Muslim Indonesia. Dan, itu antara lain bisa dilakukan dengan meningkatkan program pertukaran, misalnya dengan mendatangkan rombongan imam Inggris ke Indonesia atau berkunjung ke organisasi Islam, pesantren, madrasah, dan seterusnya. Program pertukaran semacam ini dapat memberikan perspektif yang lebih luas, tidak hanya tentang Islam Indonesia, bahkan Islam secara keseluruhan.

 

Bagi Pangeran Charles, Islam Indonesia dengan karakter keagamaan dan sosio-kulturalnya yang distingtif dapat memainkan peran lebih besar sebagai jembatan di antara dunia Muslim dan Barat. Sebagai negara Muslim terbesar dan sekaligus sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di muka bumi, Indonesia memiliki leverage yang kuat, baik ke dunia Barat maupun dunia Islam.

 

Simpati dan empati Pangeran Charles terhadap Islam dan kaum Muslim, sekali lagi, tidak berubah di tengah situasi dunia yang cenderung kian tidak kondusif bagi penciptaan hubungan yang lebih baik antara Barat dan Islam pasca-Peristiwa 11 September 2001. Dan, ini diakui banyak kalangan dunia Muslim sendiri sehingga Universitas Al-Azhar Kairo menganugerahinya dengan gelar DR HC pada 21 Maret 2006. "Saya orang non-Muslim pertama yang mendapatkan gelar DR HC dari Universitas Al-Azhar," ceritanya dalam dialog di Masjid Istiqlal.

 

Dalam orasinya pada penerimaan gelar DR HC tersebut, Pangeran Charles, misalnya, menyatakan bahwa semua orang laki-laki dan perempuan haruslah memulihkan kembali penghargaan timbal balik antara agama-agama yang berbeda; saling tidak percaya telah meracuni begitu banyak kehidupan umat manusia. "Dalam cara sederhana, melalui Yayasan Pangeran dan sekolah saya, Sekolah Seni Tradisional, saya berusaha mengintegrasikan masyarakat yang berbeda agama dan sekaligus merayakan kebajikan seni dan budaya Islam di United Kingdom. Dan, saya berusaha mengembangkan program-program seperti ini di negara lain untuk menjadi model bagi masyarakat di mana pun."

 

Pangeran Charles percaya, "Kita semua memikul tugas bersama untuk berbicara tentang agama kita masing-masing. Tapi, pada saat yang sama, kita harus melindungi integritas tradisi-tradisi kita semua; mengakui dan merayakan keragaman kita yang begitu kaya. Dalam mempertahankan diri kita dari materialisme, ekstrimisme, dan pendewaan diri, kita harus mendorong sifat-sifat Tuhan yang Mahakasih dan Maha Penyayang."

 

Pemikiran Pangeran Charles patut disimak sebagai sebuah suara penting yang datang dari kalangan elite berpengaruh di Barat. Suara-suara yang dengan simpati dan empati ini patutlah selalu disambut umat Islam dengan penuh husn al-dzan. Pada saat yang sama, kaum Muslim sendiri berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan untuk menciptakan dunia yang lebih toleran dan damai sebagaimana ditekankan Islam.

 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 20 Nopember 2008

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Prince Charles

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone





 

Oleh Azyumardi Azra

 

JIKA ada tokoh di Barat yang begitu getol mengampanyekan hubungan dan saling pengertian yang baik di antara Barat dan Islam, agaknya dia adalah Prince of Wales, Pangeran Charles. Jauh sebelum peristiwa 11 September 2001 di New York dan Washington, Pangeran Charles dalam orasi yang disampaikannya pada 27 Oktober 1993 di Oxford Centre for Islamic Studies, Islam and The West, telah menekankan pentingnya hubungan yang lebih baik antara Islam dan Barat karena tingkat salah pengertian di antara keduanya masih tetap tinggi. Padahal, hal-hal yang menghubungkan dan mengikat kedua dunia ini sesungguhnya sangat banyak dan lebih kuat daripada hal-hal yang memisahkan keduanya.

 

Karena simpati dan empatinya yang mendalam, Pangeran Charles mendapat banyak kecaman dari kalangan masyarakat Barat. Tapi, Pangeran Charles tidak tergoyahkan. Setelah peristiwa 11 September 2001 yang disusul pengeboman di London dan Madrid, empatinya terhadap Islam tetap bertahan. Pangeran Charles kembali menekankan subjek tentang hubungan baik Barat dan Islam ini ketika mengadakan pertemuan dan dialog di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada awal November 2008 lalu dengan pimpinan Muhammadiyah (Din Syamsuddin), NU (Endang Turmudi), Dewan Masjid Indonesia (Tarmizi Taher), Depag (M Atho Mudzhar dan Nasaruddin Umar), dan saya sendiri yang merupakan co-chair UK-Indonesia Islamic Advisory Group. Langsung ke Masjid Istiqlal setelah mendarat di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, ini adalah kunjungan kedua Pangeran Charles ke Indonesia. Sebelumnya, ia pernah datang sekitar 19 tahun lalu didampingi Lady Di. Kali ini, ia datang sendiri, tidak didampingi istrinya, Camilla.

 

Dalam percakapan, Pangeran menunjukkan kekagumannya pada Islam Indonesia, yang dinamik dan menempuh ‘jalan tengah’ (middle path), yang toleran dan damai. Ia membandingkannya dengan kalangan Muslim Inggris yang memiliki pandangan dan praktik keagamaan yang literal karena orientasi yang kuat pada Islam di Timur Tengah dan Asia Selatan. Karena itu, tidak heran kalau ia menginginkan mereka belajar tentang Islam dari kaum Muslim Indonesia. Dan, itu antara lain bisa dilakukan dengan meningkatkan program pertukaran, misalnya dengan mendatangkan rombongan imam Inggris ke Indonesia atau berkunjung ke organisasi Islam, pesantren, madrasah, dan seterusnya. Program pertukaran semacam ini dapat memberikan perspektif yang lebih luas, tidak hanya tentang Islam Indonesia, bahkan Islam secara keseluruhan.

 

Bagi Pangeran Charles, Islam Indonesia dengan karakter keagamaan dan sosio-kulturalnya yang distingtif dapat memainkan peran lebih besar sebagai jembatan di antara dunia Muslim dan Barat. Sebagai negara Muslim terbesar dan sekaligus sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di muka bumi, Indonesia memiliki leverage yang kuat, baik ke dunia Barat maupun dunia Islam.

 

Simpati dan empati Pangeran Charles terhadap Islam dan kaum Muslim, sekali lagi, tidak berubah di tengah situasi dunia yang cenderung kian tidak kondusif bagi penciptaan hubungan yang lebih baik antara Barat dan Islam pasca-Peristiwa 11 September 2001. Dan, ini diakui banyak kalangan dunia Muslim sendiri sehingga Universitas Al-Azhar Kairo menganugerahinya dengan gelar DR HC pada 21 Maret 2006. "Saya orang non-Muslim pertama yang mendapatkan gelar DR HC dari Universitas Al-Azhar," ceritanya dalam dialog di Masjid Istiqlal.

 

Dalam orasinya pada penerimaan gelar DR HC tersebut, Pangeran Charles, misalnya, menyatakan bahwa semua orang laki-laki dan perempuan haruslah memulihkan kembali penghargaan timbal balik antara agama-agama yang berbeda; saling tidak percaya telah meracuni begitu banyak kehidupan umat manusia. "Dalam cara sederhana, melalui Yayasan Pangeran dan sekolah saya, Sekolah Seni Tradisional, saya berusaha mengintegrasikan masyarakat yang berbeda agama dan sekaligus merayakan kebajikan seni dan budaya Islam di United Kingdom. Dan, saya berusaha mengembangkan program-program seperti ini di negara lain untuk menjadi model bagi masyarakat di mana pun."

 

Pangeran Charles percaya, "Kita semua memikul tugas bersama untuk berbicara tentang agama kita masing-masing. Tapi, pada saat yang sama, kita harus melindungi integritas tradisi-tradisi kita semua; mengakui dan merayakan keragaman kita yang begitu kaya. Dalam mempertahankan diri kita dari materialisme, ekstrimisme, dan pendewaan diri, kita harus mendorong sifat-sifat Tuhan yang Mahakasih dan Maha Penyayang."

 

Pemikiran Pangeran Charles patut disimak sebagai sebuah suara penting yang datang dari kalangan elite berpengaruh di Barat. Suara-suara yang dengan simpati dan empati ini patutlah selalu disambut umat Islam dengan penuh husn al-dzan. Pada saat yang sama, kaum Muslim sendiri berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan untuk menciptakan dunia yang lebih toleran dan damai sebagaimana ditekankan Islam.

 

Tulisan ini pernah dimuat di Republika, 20 Nopember 2008

Penulis adalah Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta