PPIM: Pengajaran Pendidikan Agama Islam di SMP-SMA tak Menarik

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Ruang Diorama, BERITA UIN Online–Survei Pusat Pengkajian Islam dan  Masyarakat UIN Jakarta terhadap guru-guru agama di sejumlah sekolah (SMA, MA, dan MTs, dan SMP) di Jakarta dan Tangerang Selatan menyebutkan, bahwa pengajaran Pendidikan Agama Islam oleh  guru-guru agama sangat tidak menarik bagi murid-murid, sehingga monoton dan membosankan.

“Hasil penelitian kami di sejumlah sekolah, menunjukkan bahwa pengajaran Pendidikan Agama Islam membosankan. Ini tidak saja terjadi di Indonesia, tetapi juga di luar negeri,” ujar peneliti PPIM Jamhari Makruf PhD pada acara launching buku pengayaan matapelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP dan SMA, di Ruang Diorama Auditorium Prof Dr Harun Nasution, Jumat (7/12/12).

Menurut Jamhari, kondisi itu diperparah lagi dengan kelangkaan pelatihan atau pendidikan tambahan bagi para guru agama. “Guru-guru agama itu paling susah mendapatkan training,”ujar dokor bidang Antropoligi Agama dari Australian National University (ANU), yang juga editor buku tersebut.

Untuk kepentingan itu pula, katanya, PPIM melakukan penelitian dan kajian, yang selanjutnya memberikan sumbangan materi ajar berupa suplemen-suplemen yang tidak terdapat pada buku ajar resmi. “Jadi buku ini hanya pengkayaan saja. Yang tidak ada di buku matapelajaran kita tambahkan di sini,”terang Pembantu Rektor Bidang Pengembangan Lembaga dana Kerjasama itu.

Beberapa materi yang ditambahkan dalam buku “suplemen” ini, antara lain materi tentang akidah, fikih, sejarah, dan akhlak. Misalnya, tentang etos kerja, kafarat, tasamuh,dan sebagainya.

Menurut Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat, buku ini perlu diapresiasi. Tapi, penjabaran subtansi isinya kurang atraktif dan komunikatif.”Perlu dibuat gambar-gambar, sehingga guru atau ssiwa mudah memahaminya,”ujarnya.

Di tempat yang sama, Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) Prof Dr Azyumardi Azra menilai, buku suplemen ini sarat dengan ulasan yang filosofis dan akademis. “Buku ini cocoknya untuk mahasiswa S1,”katanya.

Oleh karena itu, kedua guru besar itu mengusulkan, agar buku yang diterbitkan oleh penerbit Kencana, Prenada Media Grup, direvisi. “Perlu revisi, sehingga lebih konstektual penjabaran audio-visualnya, keindoneasiaan dan metodologinya,”saran mereka. (d a/Saifudin)