Positif, Lingkungan Hidup Diintegrasikan dalam Sisdiknas

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung FITK, UINJKT Online - Guru Besar Biologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Dr Suroso Adi Yudianto MPd menyatakan, pengintegrasian pendidikan lingkungan hidup dalam sistem pendidikan nasional (Sisdiknas) merupakan suatu hal positif dan relevan. Sebab, setiap orang mendambakan lingkungan yang asri, paling tidak untuk mencerminkan kebersihan, kesehatan, dan keindahan.  

Pernyataan tersebut diungkapkan Suroso saat menjadi narasumber sesi pertama seminar nasional bertajuk “Integrasi Pendidikan Lingkungan Hidup dalam Sisdiknas; Relevankah?, di FITK, Kamis, (13/11) pagi. Acara yang diselenggarakan Ikatan Himpunan Mahasiswa Biologi Indonesia (IKAHIMBI) tersebut dihadiri perwakilan 15 kampus anggota IKAHIMBI wilayah Jawa 1 (DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten).  

Alasan lain mengapa pendidikan lingkungan hidup perlu diintegrasikan dalam Sisdiknas, menurut Suroso, untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan hidup yang sekarang sudah terjadi, seperti pencemaran lingkungan, pemanasan global, banjir, dan sebagainya. “Integrasi Pendidikan lingkungan hidup masih relevan sehingga perlu diimplementasikan guna mewujudkan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk kesejahteraan generasi kini dan mendatang,” katanya. 

Ia menegaskan pendidikan lingkungan hidup akan tercapai jika kaidah-kaidah pendidikan lingkungan hidup bisa diaplikasikan. Salah satu kaidah pendidikan lingkungan hidup adalah menerapkan konsep dan prinsip pembangunan berkelanjutan, misalnya, benefisasi, optimalisasi, reklamasi, restorasi, integrasi, dan preservasi. 

“Pendekatan pendidikan lingkungan hidup bisa diterapkan dalam pembelajaran sains dengan memperhatikan aspek-aspeknya dan pengembangan nilai-nilai intrinsik sains,” tegasnya.

Sedangkan Suroso yang mewakili Menteri Kehutanan MS Kaban ketika memberikan keynote speaker mengungkapkan, penyebab menurunnya kualitas lingkungan hidup tidak lain disebabkan oleh ulah manusia sendiri seperti eksploitasi besar-besaran, illegal logging, dan lainnya.  

Menurut Suroso terjadinya kekeringan dan banjir di mana-mana, pemanasan global atau meningkatnya temparatur suhu bumi merupakan bukti nyata dari kerusakan lingkungan. “Green land di kutub utara sudah mulai mencair dan sebagian daerah di negeri ini telah terabrasi sekitar 2 km,” terangnya.

Menanam pohon, kata dia, merupakan sebuah ibadah. Maka ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menanam pohon apa pun sebagai salah satu cara menekan temperatur suhu bumi karena pohon bisa menyerap karbondioksida. [Nif/Ed]

Positif, Lingkungan Hidup Diintegrasikan dalam Sisdiknas

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Gedung FITK, UINJKT Online - Guru Besar Biologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Dr Suroso Adi Yudianto MPd menyatakan, pengintegrasian pendidikan lingkungan hidup dalam sistem pendidikan nasional (Sisdiknas) merupakan suatu hal positif dan relevan. Sebab, setiap orang mendambakan lingkungan yang asri, paling tidak untuk mencerminkan kebersihan, kesehatan, dan keindahan.  

Pernyataan tersebut diungkapkan Suroso saat menjadi narasumber sesi pertama seminar nasional bertajuk “Integrasi Pendidikan Lingkungan Hidup dalam Sisdiknas; Relevankah?, di FITK, Kamis, (13/11) pagi. Acara yang diselenggarakan Ikatan Himpunan Mahasiswa Biologi Indonesia (IKAHIMBI) tersebut dihadiri perwakilan 15 kampus anggota IKAHIMBI wilayah Jawa 1 (DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten).  

Alasan lain mengapa pendidikan lingkungan hidup perlu diintegrasikan dalam Sisdiknas, menurut Suroso, untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan hidup yang sekarang sudah terjadi, seperti pencemaran lingkungan, pemanasan global, banjir, dan sebagainya. “Integrasi Pendidikan lingkungan hidup masih relevan sehingga perlu diimplementasikan guna mewujudkan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk kesejahteraan generasi kini dan mendatang,” katanya. 

Ia menegaskan pendidikan lingkungan hidup akan tercapai jika kaidah-kaidah pendidikan lingkungan hidup bisa diaplikasikan. Salah satu kaidah pendidikan lingkungan hidup adalah menerapkan konsep dan prinsip pembangunan berkelanjutan, misalnya, benefisasi, optimalisasi, reklamasi, restorasi, integrasi, dan preservasi. 

“Pendekatan pendidikan lingkungan hidup bisa diterapkan dalam pembelajaran sains dengan memperhatikan aspek-aspeknya dan pengembangan nilai-nilai intrinsik sains,” tegasnya.

Sedangkan Suroso yang mewakili Menteri Kehutanan MS Kaban ketika memberikan keynote speaker mengungkapkan, penyebab menurunnya kualitas lingkungan hidup tidak lain disebabkan oleh ulah manusia sendiri seperti eksploitasi besar-besaran, illegal logging, dan lainnya.  

Menurut Suroso terjadinya kekeringan dan banjir di mana-mana, pemanasan global atau meningkatnya temparatur suhu bumi merupakan bukti nyata dari kerusakan lingkungan. “Green land di kutub utara sudah mulai mencair dan sebagian daerah di negeri ini telah terabrasi sekitar 2 km,” terangnya.

Menanam pohon, kata dia, merupakan sebuah ibadah. Maka ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menanam pohon apa pun sebagai salah satu cara menekan temperatur suhu bumi karena pohon bisa menyerap karbondioksida. [Nif/Ed]