Pidato Rektor UIN Jakarta Pada Wisuda Sarjana Ke-102

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Dede Rosyada, MA

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Dede Rosyada, MA

Meretas Jalan Menuju Otonomi Kampus

Pidato Rektor

pada Wisuda Sarjana, Magister, dan Doktor ke-102

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sabtu-Minggu, 25-26 November 2016

 Yang terhormat:

  1. Pimpinan dan Anggota Senat Akademik;
  2. Para sesepuh dan tamu kehormatan;
  3. Rekan pendidik dan tenaga kependidikan;
  4. Para orang tua dan pemberi beasiswa yang saya banggakan;
  5. Pengurus Ikatan Alumni UIN Jakarta (IKALUIN), para alumni, dan mahasiswa-mahasiswi yang saya cintai;
  6. Para Wisudawan –Sarjana, Magister, dan Doktor– yang berbahagia, serta hadirin sekalian.

 Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sebagai  pendahuluan  dari  sambutan  ini, marilah  kita panjatkan  puji syukur ke hadirat Allah SWT. Sebab, pada hari yang berbahagia ini, kita diberikan nikmat tuntuk bisa berkumpul di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta sehingga bisa melaksanakan kegiatan yang sangat penting bagi keluarga besar UIN Jakarta, yaitu Wisuda Sarjana UIN Jakarta ke-102 tahun akademik 2016/2017.

Sehubungan dengan acara ini, perkenankan saya –baik atas nama pribadi maupun sivitas akademika UIN Jakarta—, dengan penuh kebanggaan mempersembahkan 1.043 orang wisudawan-wisudawati yang berhasil menamatkan pendidikan mereka di 11 fakultas dan Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. Masing-masing dari mereka merupakan lulusan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan sebanyak 259 orang, Fakultas Adab dan Humaniora 41 orang, dan Fakultas Ushuluddin 65 orang.

Selanjutnya, lulusan Fakultas Syariah dan Hukum 188 orang, Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi 133 orang, Fakultas Dirasat Islamiyah 15 orang, Fakultas Psikologi 29 orang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis 112 orang, Fakultas Sains dan Teknologi 63 orang, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan 75 orang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 38 orang, dan Sekolah Pascasarjana 25 orang.

Dengan 1.043 lulusan edisi wisuda ke-102 ini, maka total lulusan sarjana-pascasarjana yang berhasil dicetak UIN Jakarta sepanjang tahun 2016 mencapai 4.301 orang. Jumlah ini disumbangkan juga oleh tiga kali wisuda sebelumnya, yakni wisuda ke-99 sebanyak 1.371 lulusan, wisuda ke-100 sebanyak 879 lulusan, dan wisuda ke-101 sebanyak 1.008 lulusan.

Harapan kami, para lulusan bisa berkarya di wilayah profesional yang mereka minati. Namun, sebagai lulusan universitas dimana nilai-nilai Islam diinternalisasikan di dalamnya, kami juga berharap para lulusan bisa berkarya di atas landasan spirit dan etik Islam. Sebab itu, jadilah profesional yang santri atau santri yang profesional. Siap berkarya di berbagai bidang profesi, tanpa harus kehilangan identitas moral keislamannya.

Selanjutnya, mewakili sivitas akademika UIN Jakarta, saya mengucapkan selamat kepada para wisudawan program pendidikan sarjana, magister, dan doktor atas keberhasilan menyelesaikan  studi  di  UIN Jakarta.  Kepada  para orang tua, orang tua asuh, penyedia beasiswa, dan keluarga wisudawan, saya turut bersyukur, berbahagia dan sekali lagi mengucapkan selamat atas keberhasilan mereka.

Hal tidak kalah penting, saya juga ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pendidik dan tenaga kependidikan UIN Jakarta atas totalitas dan komitmen melaksanakan tugas mendidik dan melayani mahasiswa hingga mereka berhasil menyelesaikan studinya.

 Hadiran yang berbahagia

Tantangan yang dihadapi perguruan tinggi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan menghasilkan lulusan,semakin hari semakin berat. Tantangan tersebut tidak hanya dihadirkan oleh dinamika ilmu pengetahuan atau makin ketatnya penerimaan market terhadap lulusan yang dihasilkan perguruan tinggi, melainkan tantangan yang lahir dari kompetisi perguruan tinggi sendiri guna menjadi lembaga pendidikan terbaik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencetak para sarjana. Alhasil berbagai tantangan yang dihadirkan menuntut setiap perguruan tinggi, terutama UIN Syarif Hidayatullah, untuk senantiasa terus berikhtiar mencari format terbaik menjadi perguruan tinggi yang memiliki marwah dalam pengembangan keislaman, ilmu pengetahuan, maupun mencetak lulusan-lulusan terbaik di berbagai bidang profesi dan keilmuan.

Untuk itu, kami yang diberi amanat mengembangkan UIN Jakarta, mencoba berikhtiar dengan mentransformasikan perguruan tinggi ini dari Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum (PTN-BLU) menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH). Pasal 1, Ayat 3, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2013, mendefinisikan PTN BH sebagai perguruan tinggi negeri yang didirikan pemerintah dengan status sebagai subyek hukum yang otonom. Dari definisi ini bisa dilihat bahwa PTN BH merupakan entitas hukum yang mandiri dan memiliki otonomi untuk mengembangkan diri, baik di ranah akademik maupun non-akademik.

Dalam konteks kebutuhan menjawab tantangan yang makin berat, otonomi dan kewenangan mandiri dalam mengelola aspek akademik maupun non-akademik menjadi alasan kami berikhtiar mentransformasikan status perguruan tinggi ini dari PTN BLU menjadi PTN BH. Pada aspek akademik, misalnya, UIN Jakarta bakal memiliki keleluasaan dalam pengembangan program akademik yang tentu saja dibutuhkan masyarakat dalam pengembangan keilmuan maupun kehidupan kemanusiaan yang makin dinamis seperti perubahan, pembukaan, bahkan penutupan program studi dan desain kurikulumnya. Sedang di aspek non-akademik, UIN Jakarta bisa secara mandiri mengelola arah pengembangan lembaga, penganggaran, dan pemanfaatan aset untuk semaksimal mungkin digunakan bagi pengembangan pendidikan dan riset UIN Jakarta sendiri.

Hadiran yang berbahagia

Otonomi kampus seperti dalam status PTN BH merupakan impian hampir mayoritas perguruan tinggi di dalam negeri. Namun perolehan otonomi dengan bertransformasi menjadi PTN BH bukan perkara mudah. Dari puluhan dan ratusan perguruan tinggi nasional baru 11 perguruan tinggi yang mampu berubah status menjadi PTN BH. Diantaranya Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Hasanuddin, Universitas Diponegoro, Universitas Padjajaran, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Airlangga, Universitas Sumatera Utara, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada. Dari ke-11 perguruan tinggi negeri ini, hampir seluruhnya merupakan perguruan tinggi umum, bukan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Karena itu, andai UIN Jakarta berhasil bertransformasi menjadi PTN BH, maka UIN Jakarta bisa dipastikan menjadi pionier otonomi lembaga akademik di lingkungan PTKIN.

Merujuk pengalaman maupun ketentuan bagi perubahan status dari PTN BLU menjadi PTN BH terdapat banyak aspek yang perlu kita persiapkan baik dari sisi akademik maupun non-akademik. Pada sisi akademik, kita harus memantaskan diri bertransformasi menjadi PTN BH melalui peningkatan produktifitas dan kualitas publikasi internasional dan paten dosen; perbaikan akreditasi institusi, program studi, maupun akreditasi internasional; peningkatan kualitas tata kelola organisasi dan penganggaran termasuk kualitas pertanggungjawabannya; dan, yang paling penting, komitmen pada masyarakat miskin tertinggal. Pada aspek non-akademik, sejumlah komponen juga perlu diperbaiki guna menopang proses transformasi mulai dari aspek kemahasiswaan, mata kuliah, manajemen, sumber daya manusia, keuangan, pendapatan,  maupun profesionalitas administrasi.

Hadiran yang berbahagia

Mengacu pada berbagai kondisi existing UIN Jakarta, optimisme transformasi menjadi PTN BH terasa begitu kuat. Dari sisi riset dan publikasi, misalnya, ikhtiar kita dalam dua tahun terakhir menunjukan optimisme tinggi. Sepanjang dua tahun terakhir kita berhasil mengundang dosen-peneliti asal berbagai perguruan tinggi terkemuka dunia melalui skema visiting professor dan research fellowhsip. Tahun ini, empat dosen-peneliti dan enam profesor berhasil kita undang untuk mengajar dan meneliti di lingkungan UIN Jakarta dengan harapan mereka menularkan semangat akademik perguruan tinggi kelas dunia. Di saat yang sama, kita juga mengirimkan para profesor dan dosen-peneliti untuk mengajar dan meneliti di sejumlah perguruan tinggi terkemuka dunia dengan harapan menyerap iklim akademik terbaik untuk kemudian diterapkan di UIN Jakarta.

Dari sisi publikasi, hingga awal November ini, dosen-peneliti UIN Jakarta berhasil mencatatkan jumlah penerbitan artikel internasional terindeks SCOPUS di atas angka 250judul artikel. Ke-250 artikel ini memuat berbagai tema disiplin keilmuan baik kajian keislaman, politik, sastra, ekonomi, sains, psikologi, kesehatan, dan ilmu kedokteran. Kendati belum setara dengan perguruan tinggi umum nasional, namun jumlah ini menjadi dasar optimisme kita sebagai PTKIN pertama yang siap menjadi PTN BH.

Pada aspek mutu akreditasi, dari total 54 program studi sarjana, 27 diantaranya sudah berakreditasi A dan 25 diantaranya berakreditasi B. Ini artinya, 51,9% prodi sarjana UIN Jakarta telah terakreditasi sangat sempurna. Hanya memang, prosentase prodi berakreditasi A ini perlu terus ditingkatkan mengingat status PTN BH meniscayajan 80% prodi sudah harus terakreditasi A. Terlebih jika ditotal jumlah prodi UIN Jakarta dengan memasukan Prodi tingkat magister dan doktoral menjadi 68 prodi, total prodi berakreditasi A baru sebanyak 29 prodi, berakreditasi B sebanyak 35 prodi, dan berakreditasi C sebanyak 3 prodi.

Terkait akreditasi, empat prodi UIN Jakarta juga telah memperoleh pengakuan tingkat regional ASEAN oleh ASEAN University Network Quality Assurance (AUN QA). Keempatnya yaitu Prodi Sejarah Kebudayaan Islam, Dirasat Islamiyah, Pendidikan Agama Islam, dan Bimbingan dan Penyuluhan Islam. Keempatnya baru merupakan tahap pertama prodi-prodi UIN Jakarta diakreditasi lembaga regional. Mudah-mudahan di tahun depan, prodi-prodi lain pun bisa diajukan untuk diakreditasi oleh AUN-QA.

Dari sisi keuangan dan penganggaran, alhamdulillah UIN Jakarta sebagai PTN BLU telah mencatatkan laporan keuangan dengan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), sedang secara penganggaran UIN Jakarta juga telah mengalokasikan 30% anggaran Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOTPN) untuk pembiayaan riset dosen-peneliti UIN Jakarta. Masih di sisi penganggaran, UIN Jakarta telah secara penuh menerapkan kebijakan remunerasi baik bagi pendidik maupun tenaga kependidikan. Remunerasi menjadi instrumen penting dalam menjaga konsistensi dan kualitas kinerja pelayanan akademik di lingkungan UIN Jakartamelalui pemberian reward berbasis kualitas kinerja mereka.

Hadirin yang Berbahagia

Kami menyadari, pengalaman berbagai perguruan tinggi yang lebih dulu bertransformasi menjadi PTN BH tidak sepi dari kritik. Transformasi menjadi PTN BH acapkali dinilai sama dengan korporatisasi lembaga akademik sehingga menciptakan komersialisasi pendidikan. Otonomi yang didapat perguruan tinggi dalam hal ini difahami sebagai kewenangan perguruan tinggi untuk memaksimalkan penerimaan sumber pembiayaan, terutama dari sumbangan pendidikan mahasiswa. Selain kenaikan sumbangan pendidikan mahasiswa, transformasi menjadi PTN BH acapkali dikuatirkan berimplikasi serius bagi termarginalkannya para mahasiswa dengan latar belakang keluarga ekonomi menengah-bawah. Namun kami berani menjamin, transformasi menjadi PTN BH tidak lantas menimbulkan hal-hal yang selama ini dikuatirkan oleh sebagian besar sivitas akademika. Setidaknya terdapat beberapa alasan penting mengapa kekuatiran demikian tak perlu berkepanjangan.

Pertama, transformasi menjadi PTN BH semata mengkreasikan otonomi yang memungkinkan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bergerak fleksibel dalam memajukan aktifitas tri dharma perguruan tinggi, baik riset, pengajaran, maupun pengabdian kepada masyarakat. Hal ini misalnya dengan keleluasaan dalam mengubah bahkan mendirikan program studi yang dinilai layak tanpa harus terkendala proses perizinan yang rumit dan berkepanjangan

Kedua, transformasi menjadi PTN BH memungkinkan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta membentuk dan mengoperasikan unit-unit usaha dengan pendapatan potensial. Lokasi universitas di wilayah yang cukup menarik secara ekonomis, memungkinkan unit-unit usaha ini beroperasi sempurna sehingga menghasilkan penerimaan potensial bagi universitas. Penerimaan yang memadai akan menjadi jaminan bahwa sumbangan pendidikan mahasiswa bukan satu-satunya tumpuan pembiayaan operasionalpendidikan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ketiga, sejalan dengan alasan kedua, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta akan tetap memegang komitmen pemberian akses pendidikan kepada para mahasiswa kurang mampu dan/atau berprestasi. Hal ini dilakukan dengan menjaga atau bahkan meningkatkan porsi pemberian beasiswa melalui berbagai skema beasiswa seperti Beasiswa APBN, Beasiswa BLU, maupun beasiswa kerjasama dengan korporasi/lembaga pemerintahan. Kami menyadari, tidak seluruh mahasiswa yang kuliah di UIN Jakarta berasal dari keluarga mapan secara ekonomi. Cukup banyak mahasiswa yang sedang belajar atau bahkan yang bercita-cita kuliah di sini berlatarbelakang ekonomi menengah bawah. Untuk itu, sekali lagi kami tegaskan, transformasi menjadi PTN BH bukan berarti pengabaian dan pengingkaran hak-hak pendidikan anak-anak didik yang kurang mampu.

Hadirin yang terhormat

Demikianlah paparan sambutan yang bisa kami sampaikan pada acara wisuda kali ini. Semoga apa yang sudah kita capai saat ini menjadi kemaslahatan bagi UIN Jakarta dalam mengemban tugas-tugas keilmuan dan keislaman. Sedang apa yang kita rencanakan, mudah-mudahan Allah SWT memberikan jalan lapang bagi kita dalam merealisiasikan seluruh harapan tersebut.

Akhirulkalam, semoga Allah SWT yang  Maha  Memiliki  Ilmu,  Maha  Pencipta, dan Maha Pemelihara kepentingan segenap umat manusia, senantiasa menganugerahkan bimbingan dan petunjuk-Nya kepada kita semua dalam memantapkan peran dan kontribusi UIN Jakarta untuk mewujudkan kehidupan sosial dan spiritual bangsa Indonesia yang lebih baik, kini dan esok hari.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ciputat, Sabtu-Ahad 26-27Nopember 2016

Prof. Dr. Dede Rosyada, MA

(zm)