Philip Buckley: Cara Menuju Islam Progresif di Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Irma Wahyuni

Syahida Inn, UINJKT Online - Academic Director IAIN Indonesia Social Equity Project (IISEP) Prof Dr Philip Buckley dari McGill University Canada menyampaikan pendapatnya saat ditanyai peserta tentang bagaimana langkah-langkan menuju Islam Progresif di Indonesia pada sesi terakhir International Conference, Debating Progressive Islam: a Global Perspective yang digelar UIN Jakarta-McGill University Kanada di gedung Syahida Inn, Sabtu-Senin (25-27/7).

Ia menyatakan, setiap negara memiliki sisi unik kehidupan sosial yang berlaku di dalamnya. Ia tidak mengerti Indonesia secara dalam karena berbicara tentang progressive Islam dalam tatanan praktis tentunya akan mencakup ke segala aspek di Indonesia terkait dengan konteks sosial, budaya, ekonomi dan politik di dalamnya.

“Dan tentu saja karena saya bukan orang Indonesia. Saya orang Kanada,” lanjutnya sambil tersenyum.

Menurutnya, memang ide tentang Progressive Islam ini datang dari Barat, khususnya dari konteks budaya. Akan tetapi jika ia ditanya bisakah konsep Islam progresif ini diimplementasikan di Indonesia, jawabannya ada pada bangsa Indonesia itu sendiri karena lebih tau akan kondisi, kebijakan dan segala sistem yang berlaku di dalamnya.

Ia melanjutkan, bagi sebagian umat Islam dari golongan fundamentalis dan konservatif, mungkin tidak semudah itu menerima sesuatu yang datang dari Barat. Akan tetapi, menurutnya, bukankah setiap bangsa memerlukan kemajuan dalam peradaban dan perkembangan masyarakat.

“Setiap konsep bisa diterapkan jika disesuaikan dengan konteks, dan jiwa progresif bisa diterapkan pada setiap golongan umat, terlepas dari perbedaan agama dan etnik,” katanya.

Pada bagian kesimpulan dari pembicaraannya, dia menjelaskan, intinya, progressive Islam bukanlah suatu ideologi, tetapi lebih kepada proses menuju sebuah kemajuan dan peradaban yang lebih tinggi.

“Hal yang lebih penting adalah, Islam Progresif bukanlah sebuah ideologi, tetapi ia adalah proses,” tegasnya.

Tentu saja menurutnya psoses tersebut tidak bisa dilakukan sendiri karena memerlukan kejasama dari semua pihak.

“Dan bagian dari pihak yang memegang peran penting adalah institusi pendidikan yang ada di negara tersebut,” tandasnya. ()

 

Philip Buckley: Cara Menuju Islam Progresif di Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Irma Wahyuni

Syahida Inn, UINJKT Online - Academic Director IAIN Indonesia Social Equity Project (IISEP) Prof Dr Philip Buckley dari McGill University Canada menyampaikan pendapatnya saat ditanyai peserta tentang bagaimana langkah-langkan menuju Islam Progresif di Indonesia pada sesi terakhir International Conference, Debating Progressive Islam: a Global Perspective yang digelar UIN Jakarta-McGill University Kanada di gedung Syahida Inn, Sabtu-Senin (25-27/7).

Ia menyatakan, setiap negara memiliki sisi unik kehidupan sosial yang berlaku di dalamnya. Ia tidak mengerti Indonesia secara dalam karena berbicara tentang progressive Islam dalam tatanan praktis tentunya akan mencakup ke segala aspek di Indonesia terkait dengan konteks sosial, budaya, ekonomi dan politik di dalamnya.

“Dan tentu saja karena saya bukan orang Indonesia. Saya orang Kanada,” lanjutnya sambil tersenyum.

Menurutnya, memang ide tentang Progressive Islam ini datang dari Barat, khususnya dari konteks budaya. Akan tetapi jika ia ditanya bisakah konsep Islam progresif ini diimplementasikan di Indonesia, jawabannya ada pada bangsa Indonesia itu sendiri karena lebih tau akan kondisi, kebijakan dan segala sistem yang berlaku di dalamnya.

Ia melanjutkan, bagi sebagian umat Islam dari golongan fundamentalis dan konservatif, mungkin tidak semudah itu menerima sesuatu yang datang dari Barat. Akan tetapi, menurutnya, bukankah setiap bangsa memerlukan kemajuan dalam peradaban dan perkembangan masyarakat.

“Setiap konsep bisa diterapkan jika disesuaikan dengan konteks, dan jiwa progresif bisa diterapkan pada setiap golongan umat, terlepas dari perbedaan agama dan etnik,” katanya.

Pada bagian kesimpulan dari pembicaraannya, dia menjelaskan, intinya, progressive Islam bukanlah suatu ideologi, tetapi lebih kepada proses menuju sebuah kemajuan dan peradaban yang lebih tinggi.

“Hal yang lebih penting adalah, Islam Progresif bukanlah sebuah ideologi, tetapi ia adalah proses,” tegasnya.

Tentu saja menurutnya psoses tersebut tidak bisa dilakukan sendiri karena memerlukan kejasama dari semua pihak.

“Dan bagian dari pihak yang memegang peran penting adalah institusi pendidikan yang ada di negara tersebut,” tandasnya. ()

 

Philip Buckley: Cara Menuju Islam Progresif di Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Irma Wahyuni

 

Syahida Inn, UINJKT Online – Academic Director IAIN Indonesia Social Equity Project (IISEP) Prof Dr Philip Buckley dari McGill University Canada menyampaikan pendapatnya saat ditanyai peserta tentang bagaimana langkah-langkan menuju Islam Progresif di Indonesia pada sesi terakhir International Conference, Debating Progressive Islam: a Global Perspective yang digelar UIN Jakarta-McGill University Kanada di gedung Syahida Inn, Senin (27/7).

 

Ia menyatakan, setiap negera memiliki sisi unik kehidupan sosial yang berlaku di dalamnya. Ia tidak mengerti Indonesia secara dalam karena berbicara tentang progressive islam dalam tatanan praktis tentunya akan mencakup ke segala aspek di Indonesia terkait dengan konteks sosial, budaya, ekonomi dan politik di dalamnya.

 

“Dan tentu saja karena saya bukan orang Indonesia. Saya orang Kanada,” lanjutnya sambil tersenyum.

Menurutnya, memang ide tentang Progressive Islam ini datang dari barat, khususnya dari konteks budaya. Akan tetapi jika ia ditanya bisakah konsep islam progresif ini diimplementasikan di Indonesia, jawabannya ada pada bangsa Indonesia itu sendiri karena lebih tau akan kondisi, kebijakan dan segala sistem yang berlaku di dalamnya.

 

Ia melanjutkan, bagi sebagian umat Islam dari golongan fundamentalis dan konservatif, mungkin tidak semudah itu menerima sesuatu yang datang dari barat. Akan tetapi, menurutnya, bukankah setiap bangsa memerlukan kemajuan dalam peradaban dan perkembangan masyarakat.

 

“Setiap konsep bisa diterapkan jika disesuaikan dengan konteks, dan jiwa progresif bisa diterapkan pada setiap golongan umat, terlepas dari perbedaan agama dan etnik,” katanya.

 

Pada bagian kesimpulan dari pembicaraannya, dia menjelaskan, intinya, progressive islam bukanlah suatu ideologi, tetapi lebih kepada proses menuju sebuah kemajuan dan peradaban yang lebih tinggi.

 

“Hal yang lebih penting adalah, Islam Progresif bukanlah sebuah ideologi, tetapi ia adalah proses,” ia menegaskan.

 

Tentu saja menurutnya psoses tersebut tidak bisa dilakukan sendiri karena memerlukan kejasama dari semua pihak.

 

“Dan bagian dari pihak yang memegang peran penting adalah institusi pendidikan yang ada di negara tersebut,” tandasnya.

 

 

 

Yang ini diinggriskan juga, lalu bikin lagi berita wawancara dengan Fuad Jabali in both languages

 

 

Philip Buckley: Cara Menuju Islam Progresif di Indonesia

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter: Irma Wahyuni

 

Syahida Inn, UINJKT Online – Academic Director IAIN Indonesia Social Equity Project (IISEP) Prof Dr Philip Buckley dari McGill University Canada menyampaikan pendapatnya saat ditanyai peserta tentang bagaimana langkah-langkan menuju Islam Progresif di Indonesia pada sesi terakhir International Conference, Debating Progressive Islam: a Global Perspective yang digelar UIN Jakarta-McGill University Kanada di gedung Syahida Inn, Senin (27/7).

 

Ia menyatakan, setiap negera memiliki sisi unik kehidupan sosial yang berlaku di dalamnya. Ia tidak mengerti Indonesia secara dalam karena berbicara tentang progressive islam dalam tatanan praktis tentunya akan mencakup ke segala aspek di Indonesia terkait dengan konteks sosial, budaya, ekonomi dan politik di dalamnya.

 

“Dan tentu saja karena saya bukan orang Indonesia. Saya orang Kanada,” lanjutnya sambil tersenyum.

Menurutnya, memang ide tentang Progressive Islam ini datang dari barat, khususnya dari konteks budaya. Akan tetapi jika ia ditanya bisakah konsep islam progresif ini diimplementasikan di Indonesia, jawabannya ada pada bangsa Indonesia itu sendiri karena lebih tau akan kondisi, kebijakan dan segala sistem yang berlaku di dalamnya.

 

Ia melanjutkan, bagi sebagian umat Islam dari golongan fundamentalis dan konservatif, mungkin tidak semudah itu menerima sesuatu yang datang dari barat. Akan tetapi, menurutnya, bukankah setiap bangsa memerlukan kemajuan dalam peradaban dan perkembangan masyarakat.

 

“Setiap konsep bisa diterapkan jika disesuaikan dengan konteks, dan jiwa progresif bisa diterapkan pada setiap golongan umat, terlepas dari perbedaan agama dan etnik,” katanya.

 

Pada bagian kesimpulan dari pembicaraannya, dia menjelaskan, intinya, progressive islam bukanlah suatu ideologi, tetapi lebih kepada proses menuju sebuah kemajuan dan peradaban yang lebih tinggi.

 

“Hal yang lebih penting adalah, Islam Progresif bukanlah sebuah ideologi, tetapi ia adalah proses,” ia menegaskan.

 

Tentu saja menurutnya psoses tersebut tidak bisa dilakukan sendiri karena memerlukan kejasama dari semua pihak.

 

“Dan bagian dari pihak yang memegang peran penting adalah institusi pendidikan yang ada di negara tersebut,” tandasnya.

 

 

 

Yang ini diinggriskan juga, lalu bikin lagi berita wawancara dengan Fuad Jabali in both languages