Petaka Jepang Akibat Urbanisasi Besaran-besaran

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Lindah

Auditorium SPs, BERITA UIN Online – Gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada 11 Maret 2011, membongkar masalah dan kontradiksi yang ada di Jepang selama 60 tahun pembangunan. Kontradiksi ini diakibatkan urbanisasi secara besar-besaran yang terjadi dalam beberapa dekade belakangan ini.

Hal tersebut disampaikan Ken Miichi, dari Iwate Prefectural University, Jepang, pada acara Discussion Series bertema, “Urbanization Matters: Asian Muslim Perspective, di Auditorium Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta, Selasa (22/3).

Pembicara lain yang hadir adalah Mutiar Pratiwi, Haula Noor, dan Dina Afrianty.  Acara ini sebagai tindaklanjut dari Invitation Program for Young Muslim Intellectuals in Southeast Asia, yang diorganisir oleh Japan Foundation dan Graduate School, Jakarta.

Menurut Miichi, pembangunan ekonomi di Jepang memang dapat dikatakan sukses secara keseluruhan, namun sesungguhnya banyak terdapat masalah di dalamnya. “Hingga 2011, jumlah populasi perkotaan di Jepang mencapai 67 persen dari total populasi 126,475,664 jiwa, dan rata-rata urbanisasi yang terjadi setiap tahunnya mencapai 0,2 persen,” ungkapnya.

Berbeda dengan Ken Miichi, Mutiara Pertiwi yang membahas mengenai Arti Agama bagi Masyarakat Urban Jepang: Sebuah Refleksi, menyatakan bahwa ternyata masyarakat Jepang tidak memiliki agama, melainkan spiritualitas. Hal tersebut terungkap berdasarkan pada pengakuan seorang pendeta Budha yang juga professor di Musashino University, Prof Kenneth Tanaka.

Menurut Kenneth Tanaka, dalam kehidupan masyarakat Jepang, terdapat tiga ajaran hidup yang dipraktikkan oleh masyarakat pada umumnya. Ajaran tersebut yaitu Shinto, Budha, dan Confusianism. Dalam praktiknya, ketiga keyakinan tersebut dipraktikan secara bersama dan kemudian membentuk suatu nilai yang selanjutnya membentuk budaya Jepang.

Sementara itu, Haula Noor, yang telah melakukan kunjungan singkat ke Jepang selama 10 hari, menyatakan bahwa urbanisasi telah mengakibatkan berubahnya segala aspek kehidupan tmemasuk sosial, ekonomi, politik, budaya, dan nilai-nlai yang lain. Hal ini karena disebabkan oleh adanya perpindahan masyarakat dari desa ke kota untuk mencari pekerjaan. Sehingga, luar area di perkotaan semakin luas dan jumlah pendudukannya semakin bertambah.

“Saat ini dan hingga 2050, populasi Jepang diestimasikan bertambah sekitar 25 persen, atau sekitar 95 ribu jiwa. Dari angka tersebut hampir setengahnya berusia 60 tahun,’ pungkasnya.

Selain itu, lanjut Haula Noor, Urnbanisasi juga berdampak pada persoalan sosial seperti kemiskinan, pengangguran, kejahatan, dan krisis keamanan. Dan pengaruh utama dari urbanisasi ini adalah kaum muda Jepang. Karena minimnya lapangan pekerjaan dan kemiskinan yang menjeratnya, sebagian kaum muda Jepang melampiaskannya di jalanan yang tergabung dalam gang sepeda motor -bosozuku morcycle gangs, atau mereka bunuh diri sebagai solusi dari persoalan yang dihadapinya.