Pesantren Ujung Tombak Pengembangan Bahasa Arab

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone


Reporter: Muhammad Nurdin

Auditorium, BERITA UIN Online- Deputy Chief Editor Alo Indonesia Prof Dr Amny Lubis, menilai, pembelajaran Islam di Indonesia membawa pengaruh yang sangat besar sekali khususnya dalam perkembangan bahasa Arab. Hal ini karena adanya pesantren, dan sekolah-sekolah Islam yang masih  mempertahankan kitab-kitab klasik seperti ushul fiqih, tarikh Islam, ilmu hadits sebagai khazanah ke-Islaman.

Hal itu diungkap  Amany pada acara seminar nasional bertajuk “ Bahasa dan Budaya Arab dalam Konteks Pemikiran dan Pendidikan di Indonesia” di Auditorium Prof Dr Harun Nasution yang diselenggrakan Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (PBA-FITK) UIN Jakarta, Sabtu (7/05).

Turut hadir Pembantu Rektor Bidang Akademik Prof Dr Moh Matsna, Pembantu Dekan Bidang Akademik Dr Nurlena Rifai, MA, Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Dr Muhbib Abdul Wahab, MA, sejumlah tamu undangan dari Kedubes Syiria, segenap alumni PBA, sivitas akademika, serta mahasiswa.

Menurut Amany, pesantren atau sekolah Islam merupakan basic yang sangat tepat dalam mengembangkan bahasa Arab. Ia mengambil sampel pondok pesantren “Modern Gontor “ yang masih mempertahankan lingkungan berbahasa.

Selain itu, banyak mahasiswa, dan  peneliti baik dari dalam dan luar negeri yang meneliti perkembangan bahasa Arab di pesantren tersebut. “Bahkan mahasiswa tersebut mendapat nilai atau predikat kamlaude, “ tambahnya.

Sementara itu, Duta Besar Syiria Mr Bassan al-Khotib, mengatakan, lapangan (pekerjaan) bahasa Arab dalam dunia pendidikan itu luas sekali. Akan tetapi semua guru belum mengetahui  bagaimana cara mengajarkan bahasa Arab yang baik kepada murid dalam berbagai bentuk kemahiran berbahasa.

Menurutnya, masih sedikit guru yang memahami budaya Arab oleh karena itu setiap guru harus meningkatkan pemahaman budaya Arab. Karena budaya merupakan sarana untuk memahami Islam. “Semua itu ada dalam pendidikan pesantren, “ ujarnya.

Ia berharap, seminar ini dapat mempersatukan antar kebudayaan Indonesia dan Syiria  khususnya dalam bidang kebudayaan dan pengajaran bahasa Arab.  “Sebab Indonesia dan Syiria itu kan  bersaudara, “tuturnya.

Ia menambahkan,  kemahiran istima’ (mendegarkan) teks-teks Arab itu berbacam-macam baik dalam bidang sejarah, falsafat, dan sosial.  Disamping itu, penggunaan atau pemanfaatan sumber-sumber ilmu pengetahuan bahasa Arab itu berbeda baik dahulu hingga sekarang ini seperti intenet, ebook, media pengajaran,dan  metode penelitian. Oleh karena itu pemahaman perkembangan bahasa Arab di Indonesia khusunya lembaga-lembaga Islam harus ditingkatkan.

Selain seminar nasional, acara ini juga membahas perjalanan jurusan PBA dari tahun 1964 hingga 2006. Sedangkan yang menjadi narasumber adalah Guru Besar FITK Prof Dr HD Hidayat. Ia merupakan salah  seorang alumni PBA tahun 1964 yang menjadi guru besar FITK di Jurusan PBA.