Penerbitan Peraturan Pre­si­den (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Pe­nguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada 7 September lalu, meneguhkan spirit pentingnya ak­tualisasi pendidikan karakter bagi peserta didik dan warga bangsa Indonesia.

Aktualisasi PPK sejatinya merupakan ba­gian integral dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang dicanangkan Presiden RI.

Gerakan tersebut akan sukses jika tiga jalur PPKintrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler secara sinergis dan integratif, berkolaborasi menanamkan dan menerapkan nilai-nilai Pancasila, seperti nilai-nilai religius, jujur, disiplin, toleran, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, cinta tanah air, semangat kebangsaan, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, harmoni, mandiri, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Idealnya, PPK bukanlah “slogan kosong” yang hanya menjadi komoditas pencitraan dan kebijakan lips service. Nilai-nilai PPK menjadi sangat penting dibudayakan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat, untuk membentengi peserta didik dan warga masyarakat agar memiliki karakter positif, akhlak mulia, dan integritas moral yang bisa berkontribusi positif bagi pembangunan bangsa unggul dan maju.

Persoalannya, “Bagaimana PPK tersebut dapat disemai, dibentuk, dan dibudayakan da­lam satuan pendidikan dan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara?” Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia sejak abad ke-15, pesantren tidak hanya sukses menjadi pusat transformasi nilai keagamaan dan kaderisasi ulama, tapi juga terbukti mampu menjadi benteng terdepan dalam PPK.

Karena sistem pendidikan pesantren jauh lebih mengutamakan pembentukan spiritualitas, moralitas, dan karakter mulia pada diri santri, dibandingkan dengan pendidikan model sekolah yang lebih berorientasi pada penguatan aspek kognitif.

PKK di pesantren pada umum­nya berlangsung selama santri tinggal di asrama ber­sama kiai, para asatiz  (pendidik) dan musyrif (pembina). Kurikulum yang sangat ditekankan bukan “kejar paket” buku dan modul yang akan diujikan, tapi internalisasi “kurikulum kehidupan”, yakni belajar makna hidup, belajar hidup bersama, belajar disiplin, sederhana, bersaudara, mandiri, menghormati kiai, sabar dalam mencari dan menguasai ilmu, serta sebagainya.

Pesantren sejatinya merupakan proses pendidikan berbudaya. Melalui “kurikulum kehidupan” yang berlangsung lebih dari hampir 18 jam/hari (karena santri rata-rata tidur pada pukul 22.00 dan bangun pada pukul 04.00), pada santri dibiasakan dan dibudayakan menghargai waktu, memaknai hidupnya dengan ikhlas, dan tekun belajar.

Dalam kultur pesantren, PPK dibentuk melalui proses peneladanan dan pendisiplinan dari kiai, asatiz, musyrif, dan santri senior. Karena itu, pendidikan pesantren sarat dengan proses transformasi mindset menuju habituasi kebiasaan dan karakter positif.

Stephen Covey dalam Seven Habits menuliskan bahwa every­thing is created twice (segala sesuatu diciptakan dua kali). Sebelum tercipta di alam fisik, ia terlebih dulu telah diolah dalam alam pikir.

Gubahan musik yang indah, terlebih dahulu berada di otak komposernya. Produk fashion yang gemerlap, terlebih dahulu diolah dalam pikiran desainernya.

Dengan kata lain, alam mental intelektual dan spiritual atau mindset sangat penting diubah melalui PPK sehingga perubahan dan transformasi fundamental dalam perilaku serta karakter bangsa ini bisa berubah ke arah yang baik, benar, dan bermaslahat bagi umat dan bangsa.

Perubahan mindset paling mendasar dalam PPK adalah niat dan komitmen menjadi santri berakhlak mulia. Tidak jarang, pesantren menjadi semacam “bengkel perbaikan moral”.

Oleh karena itu, perubahan besar selalu dimulai dari diri sendiri, dengan peneguhan niat yang tulus dan benar berikut komitmen kuat melakukan per­ubahan dan prestasi tinggi.

Menurut Thomas Licona, pendidikan karakter dapat dilakukan secara efektif dan fungsional jika prosesnya dimulai dengan mengenalkan kebajikan (knowing the good) kepada para santri, lalu ditumbuhkan sikap merasakan kebajikan (feeling the good), dan mencintai kebajikan (loving the good).

Selanjutnya mereka dibudayakan etos menginginkan kebajikan (desiring the good) dan dibiasakan (habituation) melakukan kebajikan (ac­ting or doing the good).

Sistem pendidikan pe­san­tren tidak hanya berdimensi lima langkah strategis pendidikan karakter ala Licona tersebut, tetapi juga dikawal dan dipandu dengan memberi teladan kebajikan yang paripurna (exam­pling the good) dari pim­pinan dan asatiz pesantren se­ba­gai the best role model (uswah ha­sanah).

Kata kunci kesuksesan PPK itu terletak pada keteladanan yang baik dari semua insan pendidik. Pendidikan mi­nus keteladanan tidak akan per­nah menghasilkan manusia ber­akhlak mulia.

PPK idealnya bermuara pada terwujudnya sikap batin yang memotivasi dan mampu secara spontan melahirkan karakter positif, baik, dan mulia.

Oleh karena itu, PPK harus difungsikan dan diorientasikan kepada, pertama, proses humanisasi peserta didik yang berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, kedua, menanamkan rasa malu, etos berbuat, dan berlomba-lomba dalam kebajikan (fastabiqul khairat) sesuai hati nurani; ketiga, menghargai kehidupan dengan berbuat yang terbaik dan bermanfaat bagi orang lain demi kemajuan, kebaikan, dan kebahagiaan semua.

Jadi, sebagai aset dan masa depan bangsa, sistem pen­didik­an pesantren penting dikembangkan menjadi benteng PPK dengan empat hal. Pertama, standardisasi kurikulum pesantren dan proses pembelajaran yang dapat meneguhkan PPK.

Kedua, modernisasi manajemen mutu terpadu pe­santren dengan mengoptimalkan segenap potensi dan sumber belajar yang ada. Ketiga, penguatan keteladanan yang baik dari semua pihak dalam lingkungan pesantren, termasuk keteladanan dalam ke­disiplinan, kesederhanaan, kebersihan, kemandirian, kerapian, dan keindahannya.

Keempat, pesantren harus dijadikan sebagai “industri mulia” (noble industry) yang berkemajuan: inovatif, progresif, produktif, dan inklusif.

Walhasil, PPK berbasis keteladanan yang baik di lingkungan pesantren merupakan kunci sukses pesantren sebagai benteng pertahanan religiusitas dan moralitas bangsa.

Karena keteladanan yang baik itu merupakan energi paling dahsyat dalam membentuk kepribadian mulia dan karakter positif. Nabi Muhammad SAW sukses mengubah karakter dan moral masyarakat Arab Jahiliyah yang rusak itu bukan dengan fasilitas pendidikan yang serba mewah, melainkan dengan keteladanan beliau yang luhur dan menginspirasi umat manusia.

Keteladanan beliau itu terbukti menjadikan segala proses pendidikan dan pembelajaran itu memiliki referensi dan orientasi jelas. Ibarat lokomotif, keteladanan beliau itu menggerakkan sekaligus mengarahkan aktualisasi karakter mulia.

PPK minus keteladanan yang baik dari semua pihak hanyalah omong kosong, sia-sia belaka. Pesantren itu kaya referensi mental spiritual dan moral yang bisa digugu dan ditiru oleh para santri untuk menjadi warga bangsa yang ber­budi pekerti luhur dan mulia. Selamat memaknai Hari Santri Nasional!

Muhbib Abdul Wahab, Dosen Pascasarjana FITK UIN Jakarta

Sumber: https://nasional.sindonews.com/read/1250775/18/pesantren-benteng-pendidikan-karakter-1508720032/13 (Senin, 23 Oktober 2017) (lrf/zm)

Share This