Perubahan Iklim Bukti Kegagalan Pembangun Global

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter Akhwani Subkhi 

Gedung FITK, UINJKT Online - Perubahan iklim (climate change) dan pemanasan global (global warming) merupakan dua topik hangat yang kini sedang diperbincangkan oleh berbagai kalangan masyarakat. Menurut aktivis Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jakarta Selamet Daroyni, terjadinya perubahan iklim merupakan bukti konkrit gagalnya model pembangunan global dalam menjamin keselamatan dan kesejahteraan warga dunia secara luas.  

Selamet mengatakan hal demikian ketika menjadi narasumber seminar nasional bertema “Amdal dan Revolusi Industri; Usaha Mempertahankan dan Reinventing Biodiversity Indonesia”, yang diselenggarakan Ikatan Himpunan Mahasiswa Biologi Indonesia (IKAHIMBI) wilayah Jawa 1, Kamis, (13/11) siang, di FITK.  

Berdasarkan cacatan yang dimilikinya, selama 12 tahun (1991-2003) Indonesia telah kehilangan hutan sebesar 68 juta hektar. Menurut dia, pihak pembangun ketika akan melakukan pembangunan, kebanyakan tidak menghiraukan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dari pembangunan tersebut. Sehingga terkadang pembangunan yang mengabaikan AMDAL bisa mengakibatkan kebakaran, kebanjiran, dan dampak lainnya.  

“Maka kesimpulan awalnya pembangunan adalah bencana. Sebab sebesar 80 persen pembangunan kita salah urus,” katanya. Ia menjelaskan alasan mengapa banyak pembangun yang mengabaikan AMDAL karena tidak ada aturan penegakan hukum bagi yang melanggarnya. 

Mantan aktivis KPA Arkadia UIN Jakarta ini mengkritik beberapa poin terkait AMDAL, diantaranya waktu proses AMDAL yang terlalu lama, kualitas dokumennya masih buruk, dan tidak ada aturan hukumnya. Tidak adanya aturan hukum bagi yang melanggar AMDAL, kata dia, karena sistem dan strukturnya lemah.  

“Menurut prediksi pada 2050 sebagian daerah di ibukota Jakarta akan terendam karena pasang air laut. Daerah tersebut seperti Tanjung Priok, Koja, Pademangan, Penjaringan, dan Bandara Soekarno-Hatta,” tukasnya.  [Nif/Ed]

Perubahan Iklim Bukti Kegagalan Pembangun Global

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

Reporter Akhwani Subkhi 

Gedung FITK, UINJKT Online - Perubahan iklim (climate change) dan pemanasan global (global warming) merupakan dua topik hangat yang kini sedang diperbincangkan oleh berbagai kalangan masyarakat. Menurut aktivis Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jakarta Selamet Daroyni, terjadinya perubahan iklim merupakan bukti konkrit gagalnya model pembangunan global dalam menjamin keselamatan dan kesejahteraan warga dunia secara luas.  

Selamet mengatakan hal demikian ketika menjadi narasumber seminar nasional bertema “Amdal dan Revolusi Industri; Usaha Mempertahankan dan Reinventing Biodiversity Indonesia”, yang diselenggarakan Ikatan Himpunan Mahasiswa Biologi Indonesia (IKAHIMBI) wilayah Jawa 1, Kamis, (13/11) siang, di FITK.  

Berdasarkan cacatan yang dimilikinya, selama 12 tahun (1991-2003) Indonesia telah kehilangan hutan sebesar 68 juta hektar. Menurut dia, pihak pembangun ketika akan melakukan pembangunan, kebanyakan tidak menghiraukan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dari pembangunan tersebut. Sehingga terkadang pembangunan yang mengabaikan AMDAL bisa mengakibatkan kebakaran, kebanjiran, dan dampak lainnya.  

“Maka kesimpulan awalnya pembangunan adalah bencana. Sebab sebesar 80 persen pembangunan kita salah urus,” katanya. Ia menjelaskan alasan mengapa banyak pembangun yang mengabaikan AMDAL karena tidak ada aturan penegakan hukum bagi yang melanggarnya. 

Mantan aktivis KPA Arkadia UIN Jakarta ini mengkritik beberapa poin terkait AMDAL, diantaranya waktu proses AMDAL yang terlalu lama, kualitas dokumennya masih buruk, dan tidak ada aturan hukumnya. Tidak adanya aturan hukum bagi yang melanggar AMDAL, kata dia, karena sistem dan strukturnya lemah.  

“Menurut prediksi pada 2050 sebagian daerah di ibukota Jakarta akan terendam karena pasang air laut. Daerah tersebut seperti Tanjung Priok, Koja, Pademangan, Penjaringan, dan Bandara Soekarno-Hatta,” tukasnya.  [Nif/Ed]