Persaingan Menjadi Jurnalis Kian Ketat

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Reporter: Marisha Arianti Agustin

Gedung Fidikom, BERITA UIN Online – Persaingan menjadi seorang jurnalis kini semakin ketat. Tidak hanya sarjana lulusan jurnalistik yang mampu menjadi jurnalis andal, tapi juga sarjana dari disiplin ilmu lain..

Hal itu diungkapkan pemimpin redaksi majalah Trax Hagi Hagoromo dalam diskusi bertema “Membentuk Generasi Jurnalistik yang Berkualitas” yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Konsentrasi Jurnalistik bekerja sama dengan Akademi Berbagi di Ruang Teater Prof Dr Aqib Suminto lantai dua Gedung Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom), Selasa (20/9). Diskusi yang dihadiri para mahasiswa jurnalistik ini merupakan rangkaian dari acara Jurnalistik Fair 2011.

Hagi mengatakan, saat ini banyak sarjana lulusan non-jurnalistik, seperti Institut Pertanian Bogor, justru menjadi wartawan. “Mereka kebanyakan sarjana pertanian, tetapi justru mampu jurnalis-jurnalis andal dan profesional,” ujarnya.

Menurut Hagi, banyaknya sarjana non-jurnalistik yang menjadi jurnalis disebabkan kualitas individu masing-masing. “Mereka memiliki pengetahuan yang lebih luas karena bidang yang mereka tekuni adalah satu bidang ilmu, sehingga mereka bisa terfokus menulis suatu berita secara lebih mendalam,” katanya.

Sebaliknya, sarjana lulusan jurnalistik, yang notabene lebih mendalami ilmu jurnalistik, malah tidak menguasai. Karena itu persaingan dalam profesi bidang jurnalis akan selalu ada, tetapi satu sama lain tidak bisa saling membunuh persaingan tersebut.

Dia mengatakan, mahasiswa calon jurnalis di masa depan tidak perlu mengkhawatirkan. Yang penting mahasiswa harus benar-benar belajar dan mencari pengalaman serta pengetahuan sebanyak-banyaknya.

“Jadilah diri sendiri karena orang akan menilai kita melalui karya berupa tulisan-tulisan yang kita buat,” tutupnya.