Perpustakaan Utama, Utamakan Pelayanan Prima

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

PERPUSTAKAAN Utama UIN Jakarta kini tengah berbenah. Sepanjang Agustus lalu beragam kegiatan pembenahan dilakukan, mulai dari inventarisasi koleksi (stock opname), menata ulang ruang baca,  penambahan koleksi, hingga penyediaan layanan internet gratis melalui hotspot/WiFi (Wireless Fidelity). Mampukah perubahan itu mengobati kekecewaan mahasiswa?

 

Diah berdiri mematung di depan meja Ruang Sirkulasi lantai dua Perpustakaan Utama. Badannya terasa lemas. Betapa tidak. Sudah sepuluh menit lebih ia menunggu, tapi petugas peminjaman buku itu tak kunjung melayaninya. Mereka malah asyik mengobrol, seolah tak mendengar apa-apa. ”Mbak, saya mau ngembaliin buku.” Sapaan itu berkali-kali ia ucapkan, tapi tak juga mendapat umpan balik. Selang beberapa menit kemudian, baru petugas peminjaman buku itu melayaninya dengan raut muka masam. Meski akhirnya dilayani, tapi ia tak bisa memendam kekecewaannya. ”Saya sangat kecewa mas,” tuturnya kepada DINAMIKA pertengahan Agustus lalu.

 

Peristiwa yang dialami Diah hanya bagian kecil dari gunung es kekecewaan mahasiswa terhadap pelayanan Perpustakaan Utama. Pasalnya, selain defisitnya pelayanan, buku-buku yang tercatat di katalog pun seringkali tak sinkron dengan kondisi riilnya di rak buku. Padahal, sebagai pusat referensi (gudang ilmu) universitas, Perpustakaan Utama mengemban peran penting untuk menjadi salah satu pilar utama universitas riset.

 

Di tengah derasnya keluhan itu, Perpustakaan Utama tak tinggal diam. Kini sejumlah terobosan dimunculkan. Kepala Perpustakaan Utama Dr Muhammad Zuhdi mengatakan, pihaknya akan berupaya meningkatkan pelayanan. Karena itu, ia tak segan mengambil tindakan tegas terhadap stafnya yang tidak ramah dalam melayani mahasiswa. ”Bila dirasa perlu saya tak segan merotasinya ke tempat lain, kalau tidak berubah juga, saya akan membinanya sehingga bisa bekerja lebih baik,” tegasnya kepada DINAMIKA akhir Agustus lalu.

 

Zuhdi menyarankan, mahasiswa yang mengalami perlakuan tidak baik dari pustakawan agar melayangkan surat pengaduan kepadanya. ”Kami sudah menyediakan kotak saran dan kritik di lantai dasar. Silahkan adukan jika mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan, dengan senang hati kami akan menindaklanjutinya,” jelas Zuhdi.

 

Pelayanan memang soal yang sangat penting bagi sebuah institusi publik. Bahkan, trend yang kini berkembang, lembaga publik saling bersaing dalam memberikan pelayanan prima kepada para penggunanya. Hal ini pula yang mendorong Zuhdi meningkatkan pelayanan kepada mahasiswa dan pengunjung Perpustakaan Utama.


Berangkat dari tekad mulia tersebut, sepanjang Agustus lalu, Perpustakaan Utama melakukan stock opname atau menginventarisasi dan menata kembali koleksi-koleksinya, baik buku, jurnal, skripsi, tesis, disertasi, maupun laporan penelitian. Jalur penempatan buku-buku umum dan keislaman dipisahkan sehingga mahasiswa mudah mencarinya. Buku-buku yang rusak ditata ulang. Kemudian, label sensor matic pun diganti. Usai stock opname, Zuhdi berharap, mahasiswa tak lagi mendapati buku yang tercatat di katalog tapi tidak ditemui di rak buku.

 

Selain itu, untuk menambah kenyamanan baca mahasiswa, Perpustakaan Utama juga memperluas area bacanya di lantai dua. “Selain menata ulang koleksi, kami juga memperluas area baca dan memperindahnya dengan berbagai asesoris, sehingga mahasiswa akan semakin nyaman berada di perpustakaan,” kata Zuhdi penuh semangat.

 

Tak hanya itu, Zuhdi melanjutkan, Perpustakaan Utama juga mendisain ulang Ruang Koleksi Referen di lantai tiga yang berisi ensiklopedia, skripsi, jurnal, majalah, surat kabar, dan laporan penelitian. Dengan tata letak yang baru, mahasiswa akan lebih mudah mengakses referensi yang ada. Sementara itu, di lantai dasar, pihaknya juga tengah menyiapkan Ruang Multimedia. Ruangan yang terletak di samping Warnet ini, diproyeksikan sebagai perpustakaan digital (digital library). Di sana mahasiswa dapat mengakses koleksi digital seperti vcd, dvd, jurnal, dan majalah digital yang dilanggan UIN Jakarta. ”Insya Allah bulan November sudah dapat kami buka untuk umum,” kata Zuhdi.

 

Sebenarnya, sejak beberapa tahun terakhir, Perpustakaan Utama telah memiliki digital library, yaitu di American Corner dan Canada Corner. Hanya saja, mahasiswa kurang memanfaatkannya. Padahal, American Corner menyediakan banyak sekali referensi digital yang sangat penting bagi mahasiswa. Seiring rencana UIN Jakarta menjadi world class univesity, ke depan Perpustakaan Utama juga akan melanggan sejumlah jurnal internasional yang relevan dengan disiplin keilmuan yang ada.

 

Dan yang lebih menarik, selain membuka ruang multimedia, mulai November mendatang, Perpustakaan Utama juga akan memasang perangkat WiFi (Wireless Fidelity).  ”Agar pengunjung betah berada di perpustakaan, dalam waktu dekat kami akan memasang Wireless Fidelity (wifi) atau hotspot. Sehingga  pengunjung yang berada di perpustakaan dapat mengakses internet gratis dari laptop mereka,” jelas Zuhdi.

 

Meski belum dapat memuaskan seluruh mahasiswa, ikhtiar untuk terus berbenah dan memperbaiki pelayanan patut diapresiasi. Setidaknya, lembaga yang pernah tercatat sebagai perpustakaan terbaik se-DKI Jakarta tahun 1980 itu, telah berusaha.

 

Bahkan demi melayani seluruh mahasiswa, termasuk yang kuliah di program non-reguler, sejak beberapa tahun terakhir Perpustakaan Utama menambah jam layanan. Layanan ini dibagi dalam dua kategori yaitu layanan pagi hingga siang dan jam layanan sore hingga malam. Pada hari Senin hingga Jumat jam layanan dibuka sejak pukul 08.30 hingga pukul 20.00. Sementara hari Sabtu, di mana kampus libur, Perpustakaan Utama tetap membuka jam layanan yaitu dari  08.30 hingga pukul 13.00. ”Kami memang ingin melayani mahasiswa, dosen, dan para pengunjung dengan optimal,” tegas Zuhdi.

 

Zuhdi menambahkan, pihaknya ingin mengubah cara pandang pegawai dan pengguna terhadap perpustakaan. Ia ingin Perpustakaan Utama benar-benar dipandang sebagai jantung perguruan tinggi. Sebab itu, para pegawai harus mengubah cara pandangnya, tak sekadar menjadi penjaga ”gudang buku” atau tempat transaksi pinjam-meminjam buku, dan menarik denda jika mahasiswa terlambat mengembalikan buku, tapi lebih dari itu pihaknya ingin mereka menjiwai tugasnya sebagai pustakawan yang menjadi pengelola jantung perguruan tinggi.

 

Demikian juga mahasiswa dan dosen. Mereka jangan sekadar menjadi masyarakat wajib baca buku bila kebetulan ada tugas akademik. Mahasiswa dan dosen merupakan “masyarakat belajar” yang sadar bahwa membaca adalah kebutuhan sepanjang hidup. ”Karena itu harus dilakukan perubahan cara pandang, agar perpustakaan  benar-benar berfungsi sebagai jantung perguruan tinggi, bahkan jantung kehidupan masyarakat pada umumnya,” tegas Zuhdi.

 

Harus diakui Perpustakaan Utama memiliki peran strategis sebagai pusat informasi dan referensi berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Seiring perubahan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), dimana selain membuka fakultas agama juga membuka fakultas umum, UIN Jakarta terus berusaha melengkapi koleksinya, termasuk koleksi umum.

 

Perpustakaan Utama kini memiliki 20.000 judul buku yang berjumlah  40.000 eksemplar. Sedangan koleksi referen (rujukan) berjumlah 1000 eksemplar yang meliputi rujukan kajian Islam, tafsir, hadis, rujukan dalam ilmu-ilmu sosial seperti pendidikan, hukum, politik, ekonomi dan berbagai boigrafi tokoh. Selain itu juga terdapat koleksi skripsi, tesis dan disertasi. Hingga September 2006, jumlah koleksi tersebut masing-masing skripsi 10.556 judul, tesis 774 judul, dan disertasi 267 judul.

 

Koleksi lainnya yaitu koleksi serial yang terdiri jurnal ilmiah, majalah populer dan surat kabar. Selain tersebut, terdapat juga koleksi non-cetak yang berupa bahan audio-visual. Beberapa jenis koleksi ini yang sudah dimiliki PU di antaranya CD ROM 91 judul (117 CD), kaset Audio 11 judul (15 kaset) dan kaset Video 3 judul (24 kaset).

 

Meski demikian, Perpustakaan Utama tidak akan meninggalkan ciri khas yang menempel selama ini yaitu sebagai pusat referensi kajian keislaman. ”Salah satu yang membedakan UIN Jakarta dengan perguruan tinggi lainnya yaitu adanya ilmu keislaman, sehingga kami akan tetap memperhatikan koleksi keislaman yang merupakan ciri khas dan  keunggulan tersendiri,” kata Zuhdi.

 

Untuk meningkatkan koleksi dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, Perpustakaan Utama menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga, di antaranya dengan The Asia Foundation (TAF) dan Library of Congres (LOC) Amerika Serikat. Melalui kerjasama itu TAF menyumbang lebih dari 50.000 buku yang bernilai US $ 2 juta kepada Perpustakaan Utama UIN Jakarta. Kerja sama tersebut dilakukan untuk mempercepat realisasi UIN Jakarta menjadi world class university dan universitas riset.

 

”Kerjasama dalam bidang penguatan akademik melalui penyediaan buku-buku berkualitas internasional mutlak diperlukan untuk mendukung UIN Jakarta menjadi universitas riset berkelas dunia,” tegasnya. Moh. Hanifudin Mahfuds [] Laporan: Hamzah Farihin

Perpustakaan Utama, Utamakan Pelayanan Prima

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

PERPUSTAKAAN Utama UIN Jakarta kini tengah berbenah. Sepanjang Agustus lalu beragam kegiatan pembenahan dilakukan, mulai dari inventarisasi koleksi (stock opname), menata ulang ruang baca,  penambahan koleksi, hingga penyediaan layanan internet gratis melalui hotspot/WiFi (Wireless Fidelity). Mampukah perubahan itu mengobati kekecewaan mahasiswa?

 

Diah berdiri mematung di depan meja Ruang Sirkulasi lantai dua Perpustakaan Utama. Badannya terasa lemas. Betapa tidak. Sudah sepuluh menit lebih ia menunggu, tapi petugas peminjaman buku itu tak kunjung melayaninya. Mereka malah asyik mengobrol, seolah tak mendengar apa-apa. ”Mbak, saya mau ngembaliin buku.” Sapaan itu berkali-kali ia ucapkan, tapi tak juga mendapat umpan balik. Selang beberapa menit kemudian, baru petugas peminjaman buku itu melayaninya dengan raut muka masam. Meski akhirnya dilayani, tapi ia tak bisa memendam kekecewaannya. ”Saya sangat kecewa mas,” tuturnya kepada DINAMIKA pertengahan Agustus lalu.

 

Peristiwa yang dialami Diah hanya bagian kecil dari gunung es kekecewaan mahasiswa terhadap pelayanan Perpustakaan Utama. Pasalnya, selain defisitnya pelayanan, buku-buku yang tercatat di katalog pun seringkali tak sinkron dengan kondisi riilnya di rak buku. Padahal, sebagai pusat referensi (gudang ilmu) universitas, Perpustakaan Utama mengemban peran penting untuk menjadi salah satu pilar utama universitas riset.

 

Di tengah derasnya keluhan itu, Perpustakaan Utama tak tinggal diam. Kini sejumlah terobosan dimunculkan. Kepala Perpustakaan Utama Dr Muhammad Zuhdi mengatakan, pihaknya akan berupaya meningkatkan pelayanan. Karena itu, ia tak segan mengambil tindakan tegas terhadap stafnya yang tidak ramah dalam melayani mahasiswa. ”Bila dirasa perlu saya tak segan merotasinya ke tempat lain, kalau tidak berubah juga, saya akan membinanya sehingga bisa bekerja lebih baik,” tegasnya kepada DINAMIKA akhir Agustus lalu.

 

Zuhdi menyarankan, mahasiswa yang mengalami perlakuan tidak baik dari pustakawan agar melayangkan surat pengaduan kepadanya. ”Kami sudah menyediakan kotak saran dan kritik di lantai dasar. Silahkan adukan jika mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan, dengan senang hati kami akan menindaklanjutinya,” jelas Zuhdi.

 

Pelayanan memang soal yang sangat penting bagi sebuah institusi publik. Bahkan, trend yang kini berkembang, lembaga publik saling bersaing dalam memberikan pelayanan prima kepada para penggunanya. Hal ini pula yang mendorong Zuhdi meningkatkan pelayanan kepada mahasiswa dan pengunjung Perpustakaan Utama.


Berangkat dari tekad mulia tersebut, sepanjang Agustus lalu, Perpustakaan Utama melakukan stock opname atau menginventarisasi dan menata kembali koleksi-koleksinya, baik buku, jurnal, skripsi, tesis, disertasi, maupun laporan penelitian. Jalur penempatan buku-buku umum dan keislaman dipisahkan sehingga mahasiswa mudah mencarinya. Buku-buku yang rusak ditata ulang. Kemudian, label sensor matic pun diganti. Usai stock opname, Zuhdi berharap, mahasiswa tak lagi mendapati buku yang tercatat di katalog tapi tidak ditemui di rak buku.

 

Selain itu, untuk menambah kenyamanan baca mahasiswa, Perpustakaan Utama juga memperluas area bacanya di lantai dua. “Selain menata ulang koleksi, kami juga memperluas area baca dan memperindahnya dengan berbagai asesoris, sehingga mahasiswa akan semakin nyaman berada di perpustakaan,” kata Zuhdi penuh semangat.

 

Tak hanya itu, Zuhdi melanjutkan, Perpustakaan Utama juga mendisain ulang Ruang Koleksi Referen di lantai tiga yang berisi ensiklopedia, skripsi, jurnal, majalah, surat kabar, dan laporan penelitian. Dengan tata letak yang baru, mahasiswa akan lebih mudah mengakses referensi yang ada. Sementara itu, di lantai dasar, pihaknya juga tengah menyiapkan Ruang Multimedia. Ruangan yang terletak di samping Warnet ini, diproyeksikan sebagai perpustakaan digital (digital library). Di sana mahasiswa dapat mengakses koleksi digital seperti vcd, dvd, jurnal, dan majalah digital yang dilanggan UIN Jakarta. ”Insya Allah bulan November sudah dapat kami buka untuk umum,” kata Zuhdi.

 

Sebenarnya, sejak beberapa tahun terakhir, Perpustakaan Utama telah memiliki digital library, yaitu di American Corner dan Canada Corner. Hanya saja, mahasiswa kurang memanfaatkannya. Padahal, American Corner menyediakan banyak sekali referensi digital yang sangat penting bagi mahasiswa. Seiring rencana UIN Jakarta menjadi world class univesity, ke depan Perpustakaan Utama juga akan melanggan sejumlah jurnal internasional yang relevan dengan disiplin keilmuan yang ada.

 

Dan yang lebih menarik, selain membuka ruang multimedia, mulai November mendatang, Perpustakaan Utama juga akan memasang perangkat WiFi (Wireless Fidelity).  ”Agar pengunjung betah berada di perpustakaan, dalam waktu dekat kami akan memasang Wireless Fidelity (wifi) atau hotspot. Sehingga  pengunjung yang berada di perpustakaan dapat mengakses internet gratis dari laptop mereka,” jelas Zuhdi.

 

Meski belum dapat memuaskan seluruh mahasiswa, ikhtiar untuk terus berbenah dan memperbaiki pelayanan patut diapresiasi. Setidaknya, lembaga yang pernah tercatat sebagai perpustakaan terbaik se-DKI Jakarta tahun 1980 itu, telah berusaha.

 

Bahkan demi melayani seluruh mahasiswa, termasuk yang kuliah di program non-reguler, sejak beberapa tahun terakhir Perpustakaan Utama menambah jam layanan. Layanan ini dibagi dalam dua kategori yaitu layanan pagi hingga siang dan jam layanan sore hingga malam. Pada hari Senin hingga Jumat jam layanan dibuka sejak pukul 08.30 hingga pukul 20.00. Sementara hari Sabtu, di mana kampus libur, Perpustakaan Utama tetap membuka jam layanan yaitu dari  08.30 hingga pukul 13.00. ”Kami memang ingin melayani mahasiswa, dosen, dan para pengunjung dengan optimal,” tegas Zuhdi.

 

Zuhdi menambahkan, pihaknya ingin mengubah cara pandang pegawai dan pengguna terhadap perpustakaan. Ia ingin Perpustakaan Utama benar-benar dipandang sebagai jantung perguruan tinggi. Sebab itu, para pegawai harus mengubah cara pandangnya, tak sekadar menjadi penjaga ”gudang buku” atau tempat transaksi pinjam-meminjam buku, dan menarik denda jika mahasiswa terlambat mengembalikan buku, tapi lebih dari itu pihaknya ingin mereka menjiwai tugasnya sebagai pustakawan yang menjadi pengelola jantung perguruan tinggi.

 

Demikian juga mahasiswa dan dosen. Mereka jangan sekadar menjadi masyarakat wajib baca buku bila kebetulan ada tugas akademik. Mahasiswa dan dosen merupakan “masyarakat belajar” yang sadar bahwa membaca adalah kebutuhan sepanjang hidup. ”Karena itu harus dilakukan perubahan cara pandang, agar perpustakaan  benar-benar berfungsi sebagai jantung perguruan tinggi, bahkan jantung kehidupan masyarakat pada umumnya,” tegas Zuhdi.

 

Harus diakui Perpustakaan Utama memiliki peran strategis sebagai pusat informasi dan referensi berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Seiring perubahan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), dimana selain membuka fakultas agama juga membuka fakultas umum, UIN Jakarta terus berusaha melengkapi koleksinya, termasuk koleksi umum.

 

Perpustakaan Utama kini memiliki 20.000 judul buku yang berjumlah  40.000 eksemplar. Sedangan koleksi referen (rujukan) berjumlah 1000 eksemplar yang meliputi rujukan kajian Islam, tafsir, hadis, rujukan dalam ilmu-ilmu sosial seperti pendidikan, hukum, politik, ekonomi dan berbagai boigrafi tokoh. Selain itu juga terdapat koleksi skripsi, tesis dan disertasi. Hingga September 2006, jumlah koleksi tersebut masing-masing skripsi 10.556 judul, tesis 774 judul, dan disertasi 267 judul.

 

Koleksi lainnya yaitu koleksi serial yang terdiri jurnal ilmiah, majalah populer dan surat kabar. Selain tersebut, terdapat juga koleksi non-cetak yang berupa bahan audio-visual. Beberapa jenis koleksi ini yang sudah dimiliki PU di antaranya CD ROM 91 judul (117 CD), kaset Audio 11 judul (15 kaset) dan kaset Video 3 judul (24 kaset).

 

Meski demikian, Perpustakaan Utama tidak akan meninggalkan ciri khas yang menempel selama ini yaitu sebagai pusat referensi kajian keislaman. ”Salah satu yang membedakan UIN Jakarta dengan perguruan tinggi lainnya yaitu adanya ilmu keislaman, sehingga kami akan tetap memperhatikan koleksi keislaman yang merupakan ciri khas dan  keunggulan tersendiri,” kata Zuhdi.

 

Untuk meningkatkan koleksi dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, Perpustakaan Utama menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga, di antaranya dengan The Asia Foundation (TAF) dan Library of Congres (LOC) Amerika Serikat. Melalui kerjasama itu TAF menyumbang lebih dari 50.000 buku yang bernilai US $ 2 juta kepada Perpustakaan Utama UIN Jakarta. Kerja sama tersebut dilakukan untuk mempercepat realisasi UIN Jakarta menjadi world class university dan universitas riset.

 

”Kerjasama dalam bidang penguatan akademik melalui penyediaan buku-buku berkualitas internasional mutlak diperlukan untuk mendukung UIN Jakarta menjadi universitas riset berkelas dunia,” tegasnya. Moh. Hanifudin Mahfuds [] Laporan: Hamzah Farihin