Perlu Seimbangkan Matakuliah Agama dan Umum

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

UIN Jakarta harus menyeimbangkan antara matakuliah agama dengan umum. Sebab, UIN atau IAIN dikenal sebagai kampus agama Islam. Sehingga lulusan IAIN/UIN meskipun dari fakultas umum tetap mengusai ilmu agama Islam. Itulah saran Ustadzah Mamah Dedeh, salah seorang alumni IAIN/UIN Jakarta yang kini telah menjadi mubalighah ternama.

Mamah Dedeh atau lengkapnya Dedeh Rosidah adalah ustadzah yang dikenal lewat acara “Mamah dan Aa” di stasiun televisi Indosiar. Ia mengawali dakwahnya di media elektronik sejak 1994 melalui acara Ngaji di Bens Radio, radio Betawi milik H. Benyamin Sueb. Dunia dakwah bagi Mamah Dedeh bukan hal baru. Sebagai “anak bedug” atau anak seorang guru ngaji yang rumahnya dekat dengan masjid di daerah Ciamis, Jawa Barat, sejak kecil Mamah Dedeh sudah terbiasa berdakwah. Kecintaannya pada dakwah bertambah seiring perjalanan pendidikannya di IAIN Jakarta pada 1968. Sembari kuliah Mamah Dedeh aktif mensyiarkan Islam ke kampung-kampung di sekitar kampus.

Beberapa waktu lalu, UIN Online berkesempatan silaturahmi ke rumah Mamah Dedeh di bilangan Depok, Jawa Barat. Saat itu, ia masih menerima tamu rombongan ustadzah dari daerah Depok yang sengaja datang untuk berlebaran. “Ini teman-teman “geng” saya,” kata Mamah Dedeh memperkenalkan teman-temannya. Menjelang Magrib UIN Online berbicang dengan Mamah Dedeh tentang pengalamannya ketika menjadi mahasiswa di IAIN Jakarta, karirnya sebagai mubalighah, dan harapannya kepada UIN Jakarta. Berikut petikannya.

Bagaimana pengalaman Anda ketika kuliah di IAIN/UIN Jakarta dulu?
Saya masuk IAIN tahun 1968. Waktu itu Ciputat masih hutan. Pondok Pinang masih Kebun Karet. Pondok Indah kebon karet dan kebon bambu. Saat itu saya tinggal di Asrama Putri di Komplek Dosen. Jadi saya sangat diawasi oleh dosen. Kegiatan saya, karena kebetulan kakak saya, Kholiluddin, waktu itu menjadi ketua cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ciputat, otomatis saya sebagai adiknya dibawa ke organisasi dia. Saya tidak tahu waktu itu ada organisasi apa, saya hanya dibawa. Tapi saya bersyukur karena ternyata di PMII Ciputat kegiatannya bagus. Misalnya, setiap malam Jumat, kita ada pengajian yang bergabung dengan ibu-ibu Muslimat NU yang ada di Komplek Dosen. Saya waktu itu di Korps PMII Putri (KORPRI). Pengajiannya berisi yasinan, tahlilan, istighosah, dll. Pokonya saya gabung dengan Muslimat NU. Kemana Muslimat NU pergi kami menginduk sa saja.

Di samping itu, dalam seminggu dua kali, kami para anggota PMII punya program mengajar mengaji atau ceramah di tengah masyarakat yang ada di sekitar kampus IAIN. Misalnya kami ke Kampung Utan, Pondok Pinang, Pisangan, Cirendeu, Pondok Cabe, dan kampung lainnya. Saat itu untuk mencapai kampung-kampung itu kami harus berjalan kaki. Tapi kegiatan-kegiatan di seperti itu justru menuntun kami untuk kenal dengan masyarakat luas, lingkungan, dan orang-orang kampung. Saat itu orang kampung wellcome sekali dengan mahasiswa IAIN. Sehabis ceramah atau mengajar kami diajak makan ke rumah. Kemudian pulangnya sering diberi rambutan, duku, duren, dan buah-buahan lainnya. Pokoknya kami senang.

Saya merasa kegiatan seperti itu sudah bisa menjadi modal untuk berdakwah di kemudian hari. Minimal ketika menghadapi orang banyak kami tidak kaget. Kita sudah terlatih dengan tanya jawab yang macam-macam tentang masalah agama dari orang-orang kampung. Kami juga terlatih berbicara. Apalagi kami mendapatkan kuliah dari dosen-dosen yang bagus. Apa yang kami dapat di kelas, kami sampaikan ke masyarakat, seminggu sekali atau dua kali. Jadi kami terlatih.

Dari segi gender, waktu itu mahasiswi termasuk marginal di kelas. Dari total puluhan mahasiswa dalam satu kelas, mahasiswinya paling banyak hanya enam. Bahkan ada yang dalam satu kelas tidak ada perempuan. Ada yang hanya satu atau dua perempuan saja.

Kemudian, pakaian yang kami kenakan,  kami tidak memakai jilbab dan pakaian muslimah seperti sekarang. Tapi dosen tidak marah. Karena memang pada saat itu belum ada jilbab dan pakaian muslimah. Kita hanya pakai kain panjang. Saat itu belum ada baju muslimah seperti sekarang. Yang ada saat itu baju kurung orang Padang yang bawahnya juga sarung. Jadi kami sekolah yang penting memakai baju lengannya tertutup, tidak pakai jilbab. Asal tidak pakai baju you can see saja. Yang ada kerudung yang panjang, tapi kami simpan. Kalau dosennya killer baru kami keluarkan untuk dipakai. Minimal disangkutkan di pundak. Walaupun pakai kerudung, tapi tetap saja waktu itu rambutnya kelihatan. Itu pakaian yang dikenakan pada saat itu.

Di samping itu, kekeluargaan kami sangat dekat. Kami para mahasiswa IAIN tidak melihat umur. Misalnya saya baru masuk, kakak kelas saya yang tingkat dua walaupun usianya di bawah saya, tetap saya panggil kakak, meskipun tidak ada yang menyuruh. Jadi waktu itu tata krama sangat kita jaga dan tercermin dalam hidup kita. Ketika kita bergaul dengan mereka otomatis kita panggil kakak. Saat itu mahasiswa tinggal di Pisangan, dekat Bens Radio. Di sana masih banyak pohon jambu, pohon pisang, kemudian di situ ada Asrama Putra. Sementara yang putri tinggal di Asrama Putri yang ada di dekat rumah dosen.

Siapa saja teman seangkatan Anda?
Teman seangkatan saya, Yayah Masiyah sekarang istinya Suyuti, Atho Mudzhar dan istrinya Aniq Musyahadah, Agustiar (almarhum), Tulus yang pernah menjadi Direktur Urusan Haji Depag, banyak lagi yang lainnya. Dan mereka, walaupun sebagian sedang berada di atas, memegang jabatan penting tapi kami tetap bersahabat. Karena kita bersahabat jadi terus terang saja walau sekarang sudah tua tetap saja kalau bertemu tetap saling menyapa dengan bahasa gaul, gue dan lu saja. Saya bersyukur kepada Allah Swt. Mereka meski pejabat sudah hebat mau main ke rumah saya, makan makanan yang dijual keliling oleh orang di sekitar rumah saya.

Apa jurusan yang Anda ambil dulu?
Saya mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah.

Pengalaman paling berkesan selama kuliah?
Yang paling berkesan buat saya adalah Pak Nasir, dia dosen filsafat, orangnya rapi, klimis, kelihatannya keren. Kalau menerangkan mata kuliah dia menggunakan bahasa yang tertata sedemikian rupa dan sistematis. Dia tulis dengan sangat jelas di papan tulis. Itu masih terngiang di telinga saya. Kemudian satu lagi dosen sosiologi, Pak Widagdo. Dia dosen yang paling sering tidak masuk. Kalau giliran dia mengajar seringnya foto kopian yang sampai ke kita.

Bagaimana pendapat Anda tentang perubahan IAIN menjadi UIN?
|Saya sangat mengetahui perubahan IAIN menjadi UIN, karena memang suami saya, Syarifudin, bekerja di Departemen Agama bagian Perguruan Tinggi. Dia salah satu orang yang mengurus perubahan itu dengan Pak Husni Rahim.  Mereka berdua bersahabat. Suami saya sekarang sudah meninggal delapan setengah tahun yang lalu. Jadi perjuangan merekalah IAIN berubah menjadi UIN. Kadang-kadang mereka datang ke rumah dan cerita-cerita, jadi saya tahu betul. Menurut saya itu positif.

Apa kelebihan dan kekurangan UIN sekarang?
Setelah saya keluar dari IAIN memang saya tidak pernah memperhatikan baik dari dalam maupun dari luar, jadi saya tidak mengetahui plus minusnya sekarang.

Sekarang banyak bangunan baru pendapat Anda?
Oh, itu bagus, tapi memang sudah seharusnya, karena bangunan IAIN sudah ada sejak tahun 1950-an, kalau tidak direnovasi akan roboh.

Apakah Anda bangga sekarang para alumni sudah berkiprah di berbagai sektor?

Dari dulu memang mahasiswa IAIN berkiprah di masyarakat. Tidak ada yang nganggur, minimal jadi guru ngaji di tingkat RW. Tidak ada yang sia-sia. Apalagi sekarang, mahasiswanya semakin banyak, maka alumninya akan semakin tersebar ke berbagai profesi.

Jadi tidak mungkin lulusan IAIN nganggur?
Kalau dia belajarnya waktu dosen menerangkan tidak tidur, pasti bisa. Jadi seperti itu tidak usah khawatir.

Kalau banyak orang beranggapan bahwa IAIN berubah jadi UIN, jurusan agama jadi kurang peminat, pendapat Anda?
Menurut saya, itu terjadi karena, maaf jangan tersinggung, banyak orang tua yang walaupun jebolan pesantren, jebolan IAIN, tapi kebanyakan ketika ditanya “Anak ibu masuk dimana?” jawabannya begini “Itu dia, SMA 1 nggak dapat, SMP 1 nggak lulus, biarin deh saya masukin pesantren,”. Kalau perguruan tinggi juga begitu, tidak masuk di UI, dan kampus umum lainnya, baru dimasukkan ke IAIN/UIN.

Seharusnya orang tua bangga, “Alhamdulillah anak saya saya masukkan pesantren, saya masukkan ke IAIN/UIN.” Karena pemantapan keimanan dan cara berpikir kurang, otomatis cara berpikirnya berubah makanya yang dikejar adalah ilmu umum bukan agama. Padahal di pesantren justru bagus, tidak pernah tawuran.

Kalau di intenal IAIN/UIN sendiri menurut Anda?
Saya tidak tahu. Karena memang sudah lama saya tidak berkunjung ke sana, tidak pernah berdiskusi dengan orang-orang yang bekerja di sana, jadi saya tidak mungkin akan mengatakan sesuatu yang saya sendiri tidak mengetahuinya.

Ada usul untuk UIN ke depan?
Saya punya saran, tolong pelajaran agama diseimbangkan. Minimal 50:50 agar anak yang keluar dari IAIN menguasai ilmu agama. Sehingga ketika mereka berkiprah di masyarakat, mereka mengetahui pengetahuan agama minimal yang dasar-dasarnya. Sebab, IAIN/UIN dikenal sebagai kampus agama.  Kalau untuk fakultas umum, minimal agamanya 30 persen. Jadi walaupun di Fakultas Psikologi, tapi dari IAIN maka dia harus bisa agama.

Bagaimana komentar Anda terhadap rencana UIN Jakarta menjadi world class university?
Bagi saya kalau itu sekadar tren, buat apa. Yang penting manfaatnya. Justru kalau kita mengukur secara internasional, maka contohlah al-Azhar University. IAIN kan seolah bayangan Al-Azhar yang ada di negara kita. Jadi otomatis ilmu agama harus banyak, walau jurusan umum. Itu kalau kita bercermin kesana.

Tantangan bagi IAIN dan perguruan tinggi Islam sekarang menurut Anda?
Orang-orang Yahudi. Saat ini mereka tidak saja menyerang dari luar tapi juga dari dalam. Pengaruh dan ajaran mereka masuk ke dalam kehidupan kita. Contohnya, kita berpegang pada al-Qur’an dan Hadits, kita lihat di buku-buku ada yang menguraikan tentang ayat “jauh berbeda” dari makna yang sebenarnya, bahkan kadang-kadang dibalik. Karena mereka berperan besar.

Sejak kapan Anda berdakwah?
Saya berdakwah dan mengajar sejak sebelum masuk IAIN. Waktu itu bapak saya membuka madrasah, jadi kalau kakak saya berhalangan mengajar, saya yang menggantikan. Di keluarga saya, karena kita “keluarga beduk” semenjak kanak-kanak kira-ira bermumur 5-6 tahun sudah bisa mengaji dan mengajari temannya. Jadi saya berdakwah bukan sejak masuk ke IAIN, tapi kami berdakwah sejak anak-anak. Karena di lingkungan saya seperti itu. Semua keluarga saya menjadi pendakwah, meskipun dia seorang psikolog, dokter, tetap berdakwah. Karena kita dididik sejak kecil bahwa dakwah adalah kewajiban.

Aktivitas Anda setelah lulus dari IAIN?
Saya tinggal di Tanah Abang, tapi bukan Tanah Abang yang seperti sekarang, Tanah Abang “jadul”. Mertua saya punya toko radio, kacamata, jadi pedagang. Karena mertua saya pedagang otomatis saya juga ikut berdagang. Waktu itu kalau mau masuk ke Depag mudah sekali. Tapi kata suami saya, “Anda cakep, nanti kalau masuk kantor akan begini, begini,” jadi suami saya tidak membolehkan saya ngantor. Saya ikut berdagang dengan mertua. Dari situlah jiwa dagang saya semakin berkembang. Saya berdagang berbagai macam kebutuhan, dari mesin cuci, lemari, bingkai, dan lain-lain. Yang ada di rumah ini sebagian adalah sisa-sisa kejayaan dulu. Dulu saya ini “cengkal duduk”, saya punya pedagang yang jalan mengidarkan dagangan sebanyak 50 orang. Misalnya karpet saya beli di Senen, saya belanja kemudian saya kumpulkan di rumah, dan para pedagang yang mengedarkan.

Meskipun saya berdagang, tapi saya tetap berdakwah. Saya belanja ke Tanah Abang diantar oleh sopir suami saya, sebelum jam 12 harus sudah selesai, karena saya harus berdakwah di majelis taklim dari sehabis dzuhur sampai maghrib.

Sejak kapan mulai tampil melalui media?
Sejak tahun 1994 di Bens Radio. Waktu itu Benyamin ingin punya pendakwah perempuan. Kebetulan salah satu anak asuh saya yang saya asuh sejak tahun 1980-an, Asrida, ada yang menjadi penyiar di Bens Radio. Kata Asrid, “Daripada mencari orang lain, Nyak gue aja,” kata Asrid ke Benyamin. Kemudian datanglah mereka ke rumah saya, melamar saya untuk menjadi pendakwah di Bens Radio. Sejak saat itulah saya siaran di Bens Radio sampai saat ini. Saya bersyukur waktu itu Benyamin bertanya kepada saya “Mamah maunya jam berapa?” karena pada saat itu saya memang sudah sibuk mengajar, dalam sehari bisa tiga atau empat tempat di berbagai majelis taklim. Saya mengambil hari yang kosong, Jumat jam 11 sampai jam 1 siang, saat orang sedang salat Jumat.

Ke televisi?
Saya mulai sejak awal 2007. Saya diminta oleh Indosiar untuk masuk di televisi, saya bilang “Saya ini guru ngaji biasa, kemana-mana pakaian saya seperti ini, saya pakai baju kaos, celana blue jeans, terus kaca mata hitam, saya nyaman dengan pakaian itu untuk mengajar.” Mereka terima, akhirnya sudah siaran.

Setelah masuk televisi apa yang Anda rasakan?
Biasa saja. Hanya lebih banyak orang yang mengenal saya. Ketika masih di radio juga banyak yang mengenal saya. Karena Benyamin punya 14 pemancar yang tersebar di seluruh Indonesia, Lampung, Palembang, Bali, Jogja, dll. Karena Bens Radio suka dengan siaran saya, setiap siaran direlay ke pemancar-pemancar itu. otomatis lebih banyak orang yang mengenal saya. Dari situ saya mulai sering diundang keliling daerah di Indonesia. Karena ternyata penggemar saya luar biasa banyak. Contohnya, begitu banyak orang yang nadzar kalau anaknya nikah yang nasihat perkawinan harus saya, menentukan harinya juga saya, kenapa? Sesuai dengan saya dari mulai di radio.

Apa rencana Anda ke depan?
Saya sudah berumur 60 tahun. Suami saya sudah meninggal sekitar delapan setengah tahun lalu. Anak-anak saya semua sudah menikah dan punya rumah. Jadi saya memang berpikir barangkali Allah menciptakan hidup saya untuk berdakwah. Saya cuma minta sama Allah. Ya Allah tidak semua orang diberikan amanat seperti saya, begitu banyak orang pintar, hebat, mengusai berbagai ilmu, tapi tidak muncul. Sementara saya pakaian preman seperti ini, saya tidak punya titel tinggi. Kalau orang titelnya tinggi, pakaian sampai rapat, saya kan seperti ini tidak bisa berubah jadi orang lain. Dedeh Rosidah tetap Dedeh Rosidah. Kemudian kalau orang lain ngomongnya educated, sementara saya kan orang kampung, ditambah lagi kebetulan siaran di Bens Radio, jadi ngomongnya asal gobleg saja. Itulah saya. Kalau ada yang bertanya saya langsung jawab, itu di surat ini ayat sekian. Biar mereka bisa mengoreksi. Kenapa saya seperti itu. Karena dalam Islam itu yang halal jelas dan yang haram jelas, tidak mungkin saya mengatakan yang halal menjadi haram atau sebaliknya. Karena saya tahu persis, apa yang saya katakan akan saya pertanggungjawabkan di akhirat, suka atau tidak suka itulah agama. []