Perlu Kembangkan Tradisi Ilmiah Islam

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Pada 23 Mei 2008 lalu, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat bekerja sama dengan  International Institute of Islamic Thought (IIIT) AS dan Center for Islamic Philosophy Studies and Information (CIPSI) Indonesia menggelar Diskusi Pakar tentang “Krisis Epistemologis Islam di Perguruan Tinggi” di Ruang Diorama. Diskusi menampilkan para tokoh pemikiran Islam, antara guru besar bidang filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Prof Dr Mulyadhi Kartanegara, Prof Dr Osman Bakar dari Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Prof Dr Omar Kasule dari Harvard University AS, dan mantan Menteri Agama Prof Dr HM Quraish Shihab. Hadir juga Dr Habib Chirzin selaku Epistemology Project IIIT.

Diskusi yang dipandu Drs Nanang Tahqiq, dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, ini membahas tentang epistemologi dalam Islam yang dinilai belum memiliki basis integrasi yang kuat dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Kecenderungannya, masih terdapat kesan dikotomi antara ilmu agama di satu sisi dan ilmu umum di sisi lain. Guna menepis kesan dikhotomis tadi, UIN Jakarta, setelah berubah dari IAIN, mencoba melakukan upaya penegasian dikotomis ilmu dengan mengintegrasikannya ke dalam sistem perkuliahan Namun, menurut guru besar bidang filsafat Islam UIN Jakarta Prof Dr Mulyadi Kartanegara, upaya “integrasi” itu belum sepenuhnya tercapai dengan baik. Nah, untuk memperoleh gambaran tentang epistemologi Islam kaitannya dengan integrasi ilmu di UIN Jakarta, Nanang Syaikhu dari UINJKT Online mewawancarai Prof Dr Mulyadi Kartanegara yang juga Direktur CIPSI Indonesia. Petikannya:

 

Anda dalam diskusi itu menawarkan sebuah epistemologis Islam terpadu bagi UIN Jakarta. Apa alasan Anda?

Sebenarnya integrasi yang dilakukan UIN Jakarta itu belum betul-betul integrasi dengan pemahaman yang benar tentang sifat sains. UIN Jakarta misalnya memakai istilah “integrasi dialogis” yang mengatakan Barat dengan Islam bisa berdialog, tetapi itu tidak berdasarkan kritik pada sains Barat. Epistemologi harus dibangun secara holistik dimulai dari hal-hal yang bersifat non-fisik dan fisik dalam satu kesatuan visi. Saya sudah menawarkan konsep integrasi ilmu dalam sebuah buku, tapi kan buku saya itu tidak dipakai. Kalau buku itu dipakai sebenarnya sudah saya petakan integrasi di bidang ilmu, sumber ilmu. Metodologi integrasi itu macam-macam. Ada beberapa integrasi ilmu agama dan umum. Kalau dari buku saya, bisa dikonstruksi di mana setiap ilmu mendapat posisi yang sesuai. Tapi itu butuh waktu. Karena kita juga harus membuktikan, misalnya sumber-sumber yang dijadikan silabus dan sebagainya. Sebenarnya kita masih dalam proses dan butuh waktu untuk menyusunnya.

Tapi bukankah UIN Jakarta sudah banyak membuat buku tentang persoalan integrasi ilmu itu. Bagaimana penilaian Anda?

Kalau kita teliti di fakultas psikologi mereka menyertakan bahan-bahan Islam, apa bedanya dengan psikologi di UI. Sains juga begitu, kedokterannya juga sama.

Maksud Anda masih belum memadai?

Kalau basis pengintegrasian tidak kuat, itu akan jadi artifisial. Beberapa upaya yang dilakukan untuk pengintegrasian agama dengan ilmu, umumnya hanya ayatisasi. Itu bukan integrasi yang kita harapkan. Integrasi itu harus pada bidang epistemologi. Yang bertanya tentang apa yang bisa diketahui dan bagaimana mengetahuinya. Artinya, dalam bidang ilmu dan metodologi ilmu. Dan, menurut saya, hal itu belum dilakukan oleh UIN Jakarta.

 Lantas, tawaran Anda?

Saya sedang menulis psikologi Islam, di mana saya mengeritik ada sekulerisasi dalam ilmu dan sekulerisasi dalam psikologi. Psikologi dalam tradisi ilmiah Islam, ada psikologi religius, sufistik dan filosofis. Kemudian ada bahasan khas, misalnya jiwa sebagai materi immaterial, keabadian jiwa, itu yang tidak dibahas. Itu yang tidak masuk dalam psikologi di UIN Jakarta. Jadi, menurut saya ini perlu dibangun, tapi perlu proses. Silabus yang ada sekarang belum mencerminkan tradisi ilmiah Islam.

 Tawaran lain?

Kita harus menyusun silabus dengan nilai Islam. Dengan adanya bahan-bahan yang dibutuhkan, yaitu karya-karya klasik ilmiah Islam. Kita bisa menyeimbangkan antara Barat dan Islam. Walaupun mungkin sudah ketinggalan zaman, tapi saya kira banyak konstruksi pikiran yang sangat bagus untuk diadopsi.

 Bagaimana pandangan Anda soal sains menurut Islam. Betulkah sains itu netral?

Sains itu faktanya netral. Tapi sains itu tidak bisa netral, karena faktanya harus dijelaskan. Kalau yang menjelaskan orang Islam, akan berbeda dengan penjelasan orang non-Islam. Contoh, Emile Durkheim, Sosiolog dari Barat, dalam salah satu penelitiannya mengenai tarian agama suku Aborigin, ia mengatakan ada kekuatan electricity. Tapi menurut orang Aborigin itu kekuatan Ilahi. Jadi, daya-daya adi kodrati diterjemahkan dalam visi kekinian. Nah, itu yang harus disikapi oleh kita, bahwa menurunkan seluruh realitas dalam dunia fisis itu tidak benar.

Dalam Islam itu ada ilmu rasional dan ilmu agama. Sejauh itu ilmu rasional, maka diskusi akan terjadi di sana. Tapi, ilmu rasional dalam Islam tidak boleh melanggar prinsip-prinsip keislaman, tauhid, keyakinan kepada hari akhir. Jadi, kita harus membangun kurikulum yang itu meliputi seluruh level eksistensi mulai dari yang fisik, matematik dan metafisik. Dengan tiga disiplin yang dirangkai itu maka kita akan memiliki pandangan yang holistik. Tidak seperti sekarang fisika, matematika, biologi berjalan sendiri-sendiri atau tidak saling berkaitan.

Dalam tradisi keilmuan Islam selalu ada hirarki. Misalnya begini, ilmu dibagi dua naqliyah dan aqliyah. Dalam aqliyah ada nazhariyah dan amaliyah. Nazhariyah ada fisika, matematika dan metafisika. Kemudian, amaliyah ada etika, ekonomi dan politik. Tapi yang praktis tidak boleh dilepaskan dari yang teoritis. Oleh karena itu, ada satu kesatuan yang holistik, saya melihatnya seperti itu. Ilmu jiwa misalnya, dalam tradisi ilmiah Islam bisa menyatukan antara fisika dan metafisika. Masuk fisika ketika jiwanya masih dalam tubuh. Tapi ketika jiwanya sudah tidak ada dalam tubuh, maka masuk dalam metafisika.

 Jelasnya bagaimana?

Ilmu itu ada yang Islami dan ada yang non-Islami. Ada yang religius dan ada yang sekuler. Kita harus terus meneliti di mana kelemahan dan kekurangan kita. Tidak ada sains yang bebas nilai. Tapi pendekatan holistik menyebabkan Ikhwan as-Shafa mengaitkan antara aritmatika dan geometri dengan pembangunan akhlak. Hal ini tidak ada di dunia Barat. Matematika di Barat tidak ada hubungannya dengan akhlak. Tapi, Ibnu Misakawaih, misalnya, pernah mengatakan “Ajari anakmu dengan matematika”, misalnya 2 + 2 = 4, agar mereka cinta pada kebenaran dan benci pada kepalsuan. Jadi, perspektif akan mengubah pendekatan dan nilai-nilai keislaman. Perlu diadakan pembenahan epistemologi agar nilai-nilai Islam masuk seluruhnya. Dasarnya adalah hasil pengkajian terhadap alam, dan alam adalah ayat Allah. Ilmu agama adalah pengkajian terhadap al-Qur’an, dan al-Qur’an adalah ayat Allah. Kalau sama-sama ayat Allah mestinya tidak saling menafikkan. Masak alam dianggap tidak memiliki hubungan dengan Tuhan, sementara al-Qur’an berbicara tentang hubungan dengan Tuhan. Dalam tradisi Islam alam itu hanyalah ayat Tuhan dan bagian dari realitas itu sendiri.

Mengapa pengembangan epistemologi di UIN Jakarta Anda katakan belum (katakanlah) final atau sempurna?

Mengapa epistemologi di UIN Jakarta seperti ini, karena penyusunnya hanya orang-orang dari Barat saja. Tidak pernah terpikir oleh mereka bahwa ada pendekatan alternatif. Kalau itu persoalannya, maka yang harus kita lakukan adalah memperkenalkan kepada mereka tradisi ilmiah Islam. Caranya dengan menerjemahkan Rasail karya Ibnu Sina, karya tentang psikologi, dan karya tentang botani. Dengan harapan bahwa setelah itu mereka mengerti. Memang ada perbedaan antara fisika Islam dan matematika Isalm dengan yang di Barat. Kalau mereka hanya tahu yang dari Barat, mereka tidak tahu bahwa ada yang lain. Jika mereka kenal khazanah keilmuan Islam, pasti akan terkagum-kagum. Mereka kurang mengapresiasi keilmuan Islam karena mereka belum tahu.

 Bagaimana Anda menilai forum semacam Diskusi Pakar ini. Apakah bisa dijadikan sebagai awal pintu masuk ke dalam gerbang pengembangan epistemologi Islam?

Saya gembira ada forum seperti ini karena ini merupakan jalan masuk. Tidak ada kata terlambat. Terus terang, sains Islam sendiri, orang modern belum bisa menciptakannya. Maka, kita mengambil manfaat dari karya klasik itu, maksudnya sekadar memberi contoh bahwa ada sains yang bukan dari Barat. Sama solidnya, sama rasionalnya. Baru akan terjadi integrasi yang luar biasa. Satu fakta menarik, orang Islam yang mempelajari tradisi ilmiah Barat dengan tekun dan mendalam, dia akan sampai pada Islamisasi ilmu.

 Artinya pengembangan epistemologi Islam yang sebenarnya akan segera tercapai?

Ini baru introduction masih perlu di-follow-up-i dengan upaya yang lebih konkret lagi. Mungkin sampai pada penyusunan kurikulum dan sebagainya. Untuk yang pertama, mengkaji ilmu dari Barat dan Islam serta tradisi yang sudah ada. Nanti mungkin akan muncul ide-ide baru, untuk membuat suatu rekonstruksi yang sesuai dengan zaman. Tapi terlebih dahulu kita harus mengenal karya-karya klasik. Kalau kita tidak mengenal Newton atau yang lainnya, bagaimana kita dapat merekonstruksi yang sekarang?*

Perlu Kembangkan Tradisi Ilmiah Islam

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone
Pada 23 Mei 2008 lalu, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat bekerja sama dengan  International Institute of Islamic Thought (IIIT) AS dan Center for Islamic Philosophy Studies and Information (CIPSI) Indonesia menggelar Diskusi Pakar tentang “Krisis Epistemologis Islam di Perguruan Tinggi” di Ruang Diorama. Diskusi menampilkan para tokoh pemikiran Islam, antara guru besar bidang filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Prof Dr Mulyadhi Kartanegara, Prof Dr Osman Bakar dari Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Prof Dr Omar Kasule dari Harvard University AS, dan mantan Menteri Agama Prof Dr HM Quraish Shihab. Hadir juga Dr Habib Chirzin selaku Epistemology Project IIIT.

Diskusi yang dipandu Drs Nanang Tahqiq, dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, ini membahas tentang epistemologi dalam Islam yang dinilai belum memiliki basis integrasi yang kuat dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Kecenderungannya, masih terdapat kesan dikotomi antara ilmu agama di satu sisi dan ilmu umum di sisi lain. Guna menepis kesan dikhotomis tadi, UIN Jakarta, setelah berubah dari IAIN, mencoba melakukan upaya penegasian dikotomis ilmu dengan mengintegrasikannya ke dalam sistem perkuliahan Namun, menurut guru besar bidang filsafat Islam UIN Jakarta Prof Dr Mulyadi Kartanegara, upaya “integrasi” itu belum sepenuhnya tercapai dengan baik. Nah, untuk memperoleh gambaran tentang epistemologi Islam kaitannya dengan integrasi ilmu di UIN Jakarta, Nanang Syaikhu dari UINJKT Online mewawancarai Prof Dr Mulyadi Kartanegara yang juga Direktur CIPSI Indonesia. Petikannya:

 

Anda dalam diskusi itu menawarkan sebuah epistemologis Islam terpadu bagi UIN Jakarta. Apa alasan Anda?

Sebenarnya integrasi yang dilakukan UIN Jakarta itu belum betul-betul integrasi dengan pemahaman yang benar tentang sifat sains. UIN Jakarta misalnya memakai istilah “integrasi dialogis” yang mengatakan Barat dengan Islam bisa berdialog, tetapi itu tidak berdasarkan kritik pada sains Barat. Epistemologi harus dibangun secara holistik dimulai dari hal-hal yang bersifat non-fisik dan fisik dalam satu kesatuan visi. Saya sudah menawarkan konsep integrasi ilmu dalam sebuah buku, tapi kan buku saya itu tidak dipakai. Kalau buku itu dipakai sebenarnya sudah saya petakan integrasi di bidang ilmu, sumber ilmu. Metodologi integrasi itu macam-macam. Ada beberapa integrasi ilmu agama dan umum. Kalau dari buku saya, bisa dikonstruksi di mana setiap ilmu mendapat posisi yang sesuai. Tapi itu butuh waktu. Karena kita juga harus membuktikan, misalnya sumber-sumber yang dijadikan silabus dan sebagainya. Sebenarnya kita masih dalam proses dan butuh waktu untuk menyusunnya.

Tapi bukankah UIN Jakarta sudah banyak membuat buku tentang persoalan integrasi ilmu itu. Bagaimana penilaian Anda?

Kalau kita teliti di fakultas psikologi mereka menyertakan bahan-bahan Islam, apa bedanya dengan psikologi di UI. Sains juga begitu, kedokterannya juga sama.

Maksud Anda masih belum memadai?

Kalau basis pengintegrasian tidak kuat, itu akan jadi artifisial. Beberapa upaya yang dilakukan untuk pengintegrasian agama dengan ilmu, umumnya hanya ayatisasi. Itu bukan integrasi yang kita harapkan. Integrasi itu harus pada bidang epistemologi. Yang bertanya tentang apa yang bisa diketahui dan bagaimana mengetahuinya. Artinya, dalam bidang ilmu dan metodologi ilmu. Dan, menurut saya, hal itu belum dilakukan oleh UIN Jakarta.

 Lantas, tawaran Anda?

Saya sedang menulis psikologi Islam, di mana saya mengeritik ada sekulerisasi dalam ilmu dan sekulerisasi dalam psikologi. Psikologi dalam tradisi ilmiah Islam, ada psikologi religius, sufistik dan filosofis. Kemudian ada bahasan khas, misalnya jiwa sebagai materi immaterial, keabadian jiwa, itu yang tidak dibahas. Itu yang tidak masuk dalam psikologi di UIN Jakarta. Jadi, menurut saya ini perlu dibangun, tapi perlu proses. Silabus yang ada sekarang belum mencerminkan tradisi ilmiah Islam.

 Tawaran lain?

Kita harus menyusun silabus dengan nilai Islam. Dengan adanya bahan-bahan yang dibutuhkan, yaitu karya-karya klasik ilmiah Islam. Kita bisa menyeimbangkan antara Barat dan Islam. Walaupun mungkin sudah ketinggalan zaman, tapi saya kira banyak konstruksi pikiran yang sangat bagus untuk diadopsi.

 Bagaimana pandangan Anda soal sains menurut Islam. Betulkah sains itu netral?

Sains itu faktanya netral. Tapi sains itu tidak bisa netral, karena faktanya harus dijelaskan. Kalau yang menjelaskan orang Islam, akan berbeda dengan penjelasan orang non-Islam. Contoh, Emile Durkheim, Sosiolog dari Barat, dalam salah satu penelitiannya mengenai tarian agama suku Aborigin, ia mengatakan ada kekuatan electricity. Tapi menurut orang Aborigin itu kekuatan Ilahi. Jadi, daya-daya adi kodrati diterjemahkan dalam visi kekinian. Nah, itu yang harus disikapi oleh kita, bahwa menurunkan seluruh realitas dalam dunia fisis itu tidak benar.

Dalam Islam itu ada ilmu rasional dan ilmu agama. Sejauh itu ilmu rasional, maka diskusi akan terjadi di sana. Tapi, ilmu rasional dalam Islam tidak boleh melanggar prinsip-prinsip keislaman, tauhid, keyakinan kepada hari akhir. Jadi, kita harus membangun kurikulum yang itu meliputi seluruh level eksistensi mulai dari yang fisik, matematik dan metafisik. Dengan tiga disiplin yang dirangkai itu maka kita akan memiliki pandangan yang holistik. Tidak seperti sekarang fisika, matematika, biologi berjalan sendiri-sendiri atau tidak saling berkaitan.

Dalam tradisi keilmuan Islam selalu ada hirarki. Misalnya begini, ilmu dibagi dua naqliyah dan aqliyah. Dalam aqliyah ada nazhariyah dan amaliyah. Nazhariyah ada fisika, matematika dan metafisika. Kemudian, amaliyah ada etika, ekonomi dan politik. Tapi yang praktis tidak boleh dilepaskan dari yang teoritis. Oleh karena itu, ada satu kesatuan yang holistik, saya melihatnya seperti itu. Ilmu jiwa misalnya, dalam tradisi ilmiah Islam bisa menyatukan antara fisika dan metafisika. Masuk fisika ketika jiwanya masih dalam tubuh. Tapi ketika jiwanya sudah tidak ada dalam tubuh, maka masuk dalam metafisika.

 Jelasnya bagaimana?

Ilmu itu ada yang Islami dan ada yang non-Islami. Ada yang religius dan ada yang sekuler. Kita harus terus meneliti di mana kelemahan dan kekurangan kita. Tidak ada sains yang bebas nilai. Tapi pendekatan holistik menyebabkan Ikhwan as-Shafa mengaitkan antara aritmatika dan geometri dengan pembangunan akhlak. Hal ini tidak ada di dunia Barat. Matematika di Barat tidak ada hubungannya dengan akhlak. Tapi, Ibnu Misakawaih, misalnya, pernah mengatakan “Ajari anakmu dengan matematika”, misalnya 2 + 2 = 4, agar mereka cinta pada kebenaran dan benci pada kepalsuan. Jadi, perspektif akan mengubah pendekatan dan nilai-nilai keislaman. Perlu diadakan pembenahan epistemologi agar nilai-nilai Islam masuk seluruhnya. Dasarnya adalah hasil pengkajian terhadap alam, dan alam adalah ayat Allah. Ilmu agama adalah pengkajian terhadap al-Qur’an, dan al-Qur’an adalah ayat Allah. Kalau sama-sama ayat Allah mestinya tidak saling menafikkan. Masak alam dianggap tidak memiliki hubungan dengan Tuhan, sementara al-Qur’an berbicara tentang hubungan dengan Tuhan. Dalam tradisi Islam alam itu hanyalah ayat Tuhan dan bagian dari realitas itu sendiri.

Mengapa pengembangan epistemologi di UIN Jakarta Anda katakan belum (katakanlah) final atau sempurna?

Mengapa epistemologi di UIN Jakarta seperti ini, karena penyusunnya hanya orang-orang dari Barat saja. Tidak pernah terpikir oleh mereka bahwa ada pendekatan alternatif. Kalau itu persoalannya, maka yang harus kita lakukan adalah memperkenalkan kepada mereka tradisi ilmiah Islam. Caranya dengan menerjemahkan Rasail karya Ibnu Sina, karya tentang psikologi, dan karya tentang botani. Dengan harapan bahwa setelah itu mereka mengerti. Memang ada perbedaan antara fisika Islam dan matematika Isalm dengan yang di Barat. Kalau mereka hanya tahu yang dari Barat, mereka tidak tahu bahwa ada yang lain. Jika mereka kenal khazanah keilmuan Islam, pasti akan terkagum-kagum. Mereka kurang mengapresiasi keilmuan Islam karena mereka belum tahu.

 Bagaimana Anda menilai forum semacam Diskusi Pakar ini. Apakah bisa dijadikan sebagai awal pintu masuk ke dalam gerbang pengembangan epistemologi Islam?

Saya gembira ada forum seperti ini karena ini merupakan jalan masuk. Tidak ada kata terlambat. Terus terang, sains Islam sendiri, orang modern belum bisa menciptakannya. Maka, kita mengambil manfaat dari karya klasik itu, maksudnya sekadar memberi contoh bahwa ada sains yang bukan dari Barat. Sama solidnya, sama rasionalnya. Baru akan terjadi integrasi yang luar biasa. Satu fakta menarik, orang Islam yang mempelajari tradisi ilmiah Barat dengan tekun dan mendalam, dia akan sampai pada Islamisasi ilmu.

 Artinya pengembangan epistemologi Islam yang sebenarnya akan segera tercapai?

Ini baru introduction masih perlu di-follow-up-i dengan upaya yang lebih konkret lagi. Mungkin sampai pada penyusunan kurikulum dan sebagainya. Untuk yang pertama, mengkaji ilmu dari Barat dan Islam serta tradisi yang sudah ada. Nanti mungkin akan muncul ide-ide baru, untuk membuat suatu rekonstruksi yang sesuai dengan zaman. Tapi terlebih dahulu kita harus mengenal karya-karya klasik. Kalau kita tidak mengenal Newton atau yang lainnya, bagaimana kita dapat merekonstruksi yang sekarang?*