Berita UIN Online – Isu primordial selalu marak dalam setiap jengkal ruang dan waktu. Di berbagai ruang-ruang birokrasi, aura primordialisme begitu subur. Ia bak jamur tumbuh di musim hujan. Tapi aura primordial itu tak hanya tumbuh di sekat-sekat birokarsi, tapi di wilayah luar birokrasi, dalam kehidupan masyarakat, pun primordialisme tumbuh subur.

Seperti kita tahu, primordialisme adalah sebuah pandangan atau paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya, tempat kelahiran.

Primordil atau primordialisme bersandar dari bahasa Latin primus, pertama dan ordiri, tenunan atau ikatan. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), primordialisme adalah perasaan kesukuan yang berlebihan. Ide-ide perihal primordialisme dirayakan oleh para pemikir Jerman yang menguar perihal Romantisisme Jerman.

Ada beberapa faktor, mengapa primordialisme itu tumbuh berkembang di berbagai lapak kehidupan. Beberapa sebab tumbuh suburnya primordialisme itu bisa dilacak karena adanya sesuatu yang dianggap istimewa oleh individu dalam kelompok atau perkumpulan social. Atau adanya suatu sikap untuk mempertahankan suatu kelompok atau kesatuan sosial terhadap ancaman dari luar

Selain dua penyebab di atas, primordialisme juga tumbuh disebabkan adanya nilai-nilai yang berhubungan dengan sistem keyakinan, seperti nilai-nilai keagamaan dan pandangan.

“Kebiasaan primordial tersebut susah dihilangkan yang penting ditiap-tiap kelompok harus berpikir objektif,” ujar Daud Effendi, Dosen PKN UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta saat ditemui wartawan Berita UIN Online di ruang kelas, Selasa, (21/3/2017) sore.

Ungkapan Daud Effendi ini mempertegas bahwa primordial memang sulit dihilangkan namun bisa diminimalisir dengan berpikir obyektif.

“Jadi orang-orang yang berada dalam organisasi tersebut harus memiliki sifat objektif dan terbuka. Katakan secara jujur jika memang orang dari kelompok lain lebih baik dari kelompoknya,” tegas Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Perlu Kedewasaan Berpolitik

Dalam menyikapi isu primordialisme yang berkemang dewasa ini, perlu ada kedewasaan dari setiap pribadi. Dalam pandangan Zubair Ahmad, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Selasa (21/3/2017), kedewasaan manusia dalam berbagai bidang, salah satunya politik, pasti melalui sebuah proses, ada yang alami dan ada juga yang by design.

“Proses yang alami memang lambat, tetapi ketika berhasil akan sangat mengakar dan cenderung mudah untuk menjadi budaya. Ada pun yang by design, perubahan bisa sangat cepat terjadi, akan tetapi memiliki resistensi yang cukup tinggi,” ungkap Zubair kepada Berita UIN Online.

“Namun ketika diminta untuk memilih di antara keduanya, saya akan memilih yang by design dengan tetap memberikan peluang untuk berjalan secara alami,” tambah Zubair

Kemunculan fenomena-fenomena di atas dalam pandangan Zubair, merupakan dampak dari sistem demokrasi yang negara kita anut. Hal ini tidak lepas dari politisasi birokrasi. Dalam tingkatan mahasiswa, Dema yang berperan sebagai penampung aspirasi yang ada, namun dalam tingkatan universitas, Senat Universitaslah yang berperan untuk menampung aspirasi tadi.

“Kehadiran Senat Universitas sangat ideal untuk menghindari terjadinya pengotak-kotakan antar golongan. Namun, ketika Senat Universitas ini tidak mampu menjalankan perannya secara dewasa, dikotomi golongan juga akan sampai ke bawah, maka perlu ada satu instrumen lagi di atasnya, yaitu Kementerian Agama,” ungkap dosen Akhlak Tasawuf ini.

Lebih jauh Zubair memandang Kementerian Agama pun juga terpolitisasi oleh kebijakan-kebijakan Legislatif dan Eksekutif di mana dua instrumen ini adalah instrumen politik. Jadi, politisasi primordial tidak akan habis selama kita menganut sistem demokrasi.

“Namun, satu hal yang terpenting adalah bahwa pendewasaan dalam berpolitik harus selalu dibangun agar dari tingkatan yang tertinggi sampai mahasiswa, dapat memberi kontribusi-kontribusi sesuai dengan perannya masing-masing,” ujar lelaki kelahiran Makasar yang juga pengajar mata kuliah Kemahiran Membaca dan Menulis Bahasa Arab.

Sementara itu, menurut Siti Nadroh, Dosen Fakultas Ushuluddin, UIN Jakarta ketika ditemui reporter Berita UIN Online, menegaskan bahwa isu priomordialisme, harus dipandang dalam proporsi yang benar.

“Sejauh primordialisme didukung oleh skill, bisa membawa dia layak menjadi pemimpin ya tak masalah,” ungkap Siti Nadroh, Selasa, (21/3/2017).

Apa yang diuar Siti Nadroh, sekadar mengingatkan bahwa primordialisme bukan barang yang tabu jika primordialisme bisa dipertangungjawabkan secara pribadi. Primordial harus jadi sarana untuk memperkuat berbagai elemen kehidupan kampus.

“Saat primordialisme hanya menjadi ajang kekuatan saja, itulah yang tidak bagus. Karena sesungguhnya kampus itu orientasinya lebih akademik, maka primordialisme seharusnya hanya sebagai penguat saja untuk jadi tujuan akhir dalam perpolitikan kampus,” tuturnya. (Edy A Effendi, Ade Arief Putra, Nur Afifah, Siti Maryam, Imam Arrasyidi, Helen Sagita, Amidah Mutiara Putri, Nadya Syavira)

 

Share This