Perlu Kebijakan Perbukuan yang Integratif

Print This Post Print This Post
Tweet about this on TwitterShare on FacebookShare on Google+Email this to someone

 

Bagi mahasiswa, buku merupakan sarana yang sangat penting. Buku menjadi sumber referensi untuk menggali ilmu pengetahuan. Namun, ironisnya harga buku-buku perkuliahan atau buku daras hingga kini masih terbilang mahal. Apa yang menyebabkan harga buku mahal? Bagaimana solusinya? Kebijakan apa yang harus diambil universitas menaggapi persoalan ini? Berikut petikan wawancara Sumarlin Surya dari UIN Online dengan Kepala Perpustakaan Utama UIN Jakarta Dr Muhammad Zuhdi yang ditemui di ruang kerjanya, Selasa (5/10).

Bagaimana pendapat Anda terkait mahalnya harga buku daras/perkuliahan?

Menurut saya harga buku mahal karena memang pendidikan pada dasarnya mahal. Karena itu untuk mendapat kanpendidikan yang baik dan berkualitas tentu diperlukan modal yang cukup mahal. Bahkan menurut Ali bin Abi Thalib ada enam syarat menuntut ilmu yang salah satunya adalah modal. Dengan demikian tidak heran jika mahasiswa banyak mengeluarkan biaya untuk membeli buku, karena dalam sistem pengajaran mahasiswa lebih banyak berinteraksi dengan buku ketimbang dengan dosen.

Apa yang menyebabkan harga buku di kalangan mahasiswa saat ini cukup tinggi?

Mahalnya harga buku untuk kalangan mahasiswa pada saat ini secara detail saya kurang tahu, tetapi menurut saya hal itu terjadi dikarenakan semakin naiknya biaya produksi buku di Indonesia, baik dari segi biaya pembuatan kertas maupun biaya percetakannya. Di samping itu. Karena buku itu diterbitkan oleh penerbit otomatis mereka juga ingin mencari untung dari buku tersebut untuk menjalankan roda bisnisnya.

Bagaimana Perpustakaan Utama dalam menyikapi mahalnya harga buku di kalangan mahasiswa?

Dalam tiga tahun terakhir, Perpustakaan Utama sudah berusaha meminta kepada pihak UIN (Rektorat) agar dapat menambah anggaran dana pembelian buku secara signifikan yakni Rp 1 milyar per tahun. Lalu buku-buku tersebut akan disebarkan secara menyeluruh di fakultas-fakultas. Tetapi  menurut saya hal ini belum cukup efektif karena jumlah koleksi buku di Perpustakaan Utama saat ini belum cukup sepadan dengan kebutuhan mahasiswa. Maka dalam hal ini pihak UIN perlu melakukan akselerasi koleksi, yaitu peningkatan jumlah buku secara signifikan baik di Perpustakaan Utama maupun Perpustakaan Fakultas. Tetapi untuk melakukan kebijakan ini pihak UIN belum mampu menyediakan anggaran yang besar karena tidak semua anggaran UIN diperuntukkan bagi pembelian buku saja.

Selain mengajukan ke universitas, kami (Perpustakaan Utama) juga melanjutkan kebijakan pimpinan UIN yang lama dan yang baru untuk bekerja sama dengan berbagai instansi untuk pengadaan buku di luar anggaran sendiri. Seperti contoh saat ini banyak buku-buku yang disumbangkan oleh Asia Fondation, Saudi Arabia, dan Universitas McGill Canadian Resorce Center di Perpustakaan Utama.

Apa dampak yang ditimbulkan bila masalah mahalnya buku di kalangan mahasiswa terus berlanjut.?

Ada dua hal yang menurut saya akan terjadi bila masalah ini terus terjadi, yang pertama kemungkinan besar mahasiswa akan kekurangan dalam memiliki buku sehingga yang mestinya ia mampu memiliki lima buku tetapi hanya memiliki dua buku. Akan tetapi yang mengherankan bagi saya, gaya hidup sebagian mahasiswa yang saya lihat mereka tidak pernah mengeluh jika harus membiayai mode pakaian dan untuk membeli pulsa sehari-hari. Padahal jika uangnya ditabung untuk membeli buku tentu akan sangat berguna bagi dirinya.

Perlukah pihak universitas menanggapi masalah ini lebih lanjut?

Iya, menuurut saya pihak universitas harus melakukan kebijakan lebih intergratif, seperti kebijakan universitas untuk mengadakan buku-buku teks dalam jumlah tertentu yang seharusnya tersedia di Perpustakaan Fakultas. Apabila kita mau melihat sistem negara maju dalam mengolah koleksi perpustakan fakultas, mereka menyediakan minimal 10 ekslemplar buku-buku wajib yang diajarkan oleh dosen saat mengajar, sehingga dengan cara seperti ini mahasiswa dapat menggunakannya secara bergantian. Lalu kami sebagai pihak Perpustakaan Utama juga pernah membuat surat kepada seluruh  Fakultas agar memberikan silabus buku-buku wajib yang diajarkan  dosen kepada mahasiswanya, agar kami dapat menyeseleksi buku-buku yang ingin dibeli. Tetapi sayangnya tidak semua fakultas merespon kebijakan kami dan hanya ada beberapa fakultas saja yang menyerahkan silabusnya kepada kami.

Pesan Anda kepada pemerintah, penerbit buku, dan universitas?

Saya ingin memberikan apresiasi dulu kepada semua pihak karena membuat kebijakan dalam hal transaksi buku di perpustakaan yang tidak dikenakan biaya PPN. Saya juga ingin memberi apresiasi kepada pimpinan UIN dengan upayanya untuk akselerasi pengadaan buku di perpustakaan, walaupun yang saya lihat hal ini masih berjalan lambat. Di samping itu pemerintah juga memberikan penghargaan kepada para penerbit yang memberikan potongan harga kepada mahasiswa. Saya mengharapkan pihak universitas dapat menjalin kerja sama dengan pihak penerbit agar harga buku yang ditulis oleh dosen UIN semakin terjangkau.  []