Forum PTKIN berkomitmen menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, Islam inklusif, moderat, menghargai kemajemukan dan realitas budaya dan bangsa. Komitmen dituangkan dalam Deklarasi Aceh yang dibacakan Ketua Forum PTKIN Prof Dr Dede Rosyada MA dalam Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) VIII 2017 di UIN Ar Raniri Aceh, Banda Aceh, Rabu (26/4/2017).

Forum PTKIN berkomitmen menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, Islam inklusif, moderat, menghargai kemajemukan dan realitas budaya dan bangsa. Komitmen dituangkan dalam Deklarasi Aceh yang dibacakan Ketua Forum PTKIN Prof Dr Dede Rosyada MA dalam Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) VIII 2017 di UIN Ar Raniri Aceh, Banda Aceh, Rabu (26/4/2017).

Banda Aceh, Berita UIN Online— Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sepakat menolak segala bentuk intoleransi, radikalisme, dan terorisme yang membahayakan Pancasila dan keutuhan NKRI. Sebaliknya, PTKIN berkomitmen menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, Islam inklusif, moderat, menghargai kemajemukan dan realitas budaya dan bangsa.

Demikian kesepakatan tertuang dalam Deklarasi Aceh yang dibacakan Ketua Forum PTKIN Prof Dr Dede Rosyada MA. Deklarasi disampaikan dalam rangkaian pembukaan Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) VIII 2017 di UIN Ar Raniri Aceh, Banda Aceh, Rabu (26/4/2017).

Merujuk pada realitas kekinian, Rektor UIN Jakarta ini mengungkapkan, pergerakan kelompok yang kurang menghormati kebhinekaan, anti-Pancasila dan NKRI semakin massif. Jika kondisi demikian tak secepatnya diantisipasi dikuatirkan bisa membahayakan kesatuan dan harmoni NKRI.

“Pimpinan PTKIN berjanji untuk melarang berbagai bentuk kegiatan yang bertentangan dengan Pancasila, dan anti-NKRI, intoleran, radikal dalam keberagamaan, serta terorisme di seluruh PTKIN,” tegasnya.

Dalam salinan yang didapat Berita UIN Online, berikut pernyataan sikap PTKIN yang dituangkan dalam Deklarasi Aceh.

Kami forum Pimpinan PTKIN dengan ini menyatakan:

 

  1. Bertekad bulat menjadikan Empat Pilar Kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara.

 

  1. Menanamkan jiwa dan sikap kepahlawanan, cinta tanah air dan bela negara kepada setiap mahasiswa dan anak bangsa, guna menjaga keutuhan dan kelestarian NKRI.

 

  1. Menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, Islam inklusif, moderat, menghargai kemajemukan dan realitas budaya dan bangsa.

 

  1. Melarang berbagai bentuk kegiatan yang bertentangan dengan Pancasila, dan anti-NKRI, intoleran, radikal dalam keberagamaan, serta terorisme di seluruh PTKIN.

 

  1. Melaksanakan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 dalam seluruh penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan penuh dedikasi dan cinta tanah air.

Pembacaaan Deklarasi Aceh sendiri dilakukan di hadapan Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, para rektor PTKIN, pejabat pimpinan Kementerian Agama, peserta PIONIR VIII 2017, dan masyarakat yang hadir.

Menanggapi itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI Prof Dr Nizar Ali berpendapat Deklarasi Aceh memiliki makna sangat penting dalam konteks keislaman dan keindonesian masa kini dan mendatang. Sebab selain keprihatinan, Deklarasi Aceh juga merefleksikan komitmen kuat PTKIN dalam mengembangkan Islam Indonesia yang moderat dan cinta tanah air.

Komitmen demikian, sambungnya, penting Karena Islam rahmatan lilalamin-lah yang telah menjaga persatuan dan keharmonisan masyarakat Indonesia hingga kini. “Islam tampil dengan wajahnya yang ramah bukan marah, menjadi nilai sekaligus penuntun bagaimana menjadi warga bangsa yang baik,” tandas Nizar. (Farah/yuni nurkamaliah/zm/Berbagai Sumber)

Share This